ADVERTISEMENT

Siasat Penjaga Warung Madura Atasi Kecanggungan saat Pembeli Datang ketika Sedang Bermesraan Suami-Istri

Siasat penjaga warung madura (toko kelontong 24 jam) atasi kecanggungan saat pembeli datang ketika sedang bermesraan MOJOK.CO

Penjaga warung madura para punya cara tersendiri mengatasi kecanggungan ketika pembeli datang di saat sepasang suami-istri penjaga toko kelontong 24 jam itu tengah “bermesraan”. 

***

Ketika pamor warung madura sedang naik-naiknya pada 2024 lalu, ada satu hal yang memancing rasa penasaran warganet di media sosial: “Kalau buka 24 jam, lantas kapan waktu buat bercinta?” Karena memang banyak warung madura yang dijaga oleh sepasang suami-istri. 

Sejumlah media akhirnya mendapatkan jawabannya. Salah satunya Asumsi. Dalam sebuah wawancara audio-visual yang tayang pada Mei 2024 itu, seorang penjaga warung madura yang diwawancara menjelaskan, ia dan istrinya tetap bisa melakukan hubungan suami-istri meski toko kelontong buka sepanjang 24 jam. Ruang sempit tidak jadi soal. 

Selain itu, untuk menyiasati agar tidak kegap pembeli, si penjaga warung madura mengaku memaksimalkan jam-jam sepi pembeli, yakni di jam lewat tengah malam/dini hari. 

Namun, pengalaman saya dengan warung madura langganan—dekat saya—memberi gambaran baru. Jam-jam malam memang jam khusus bercinta. Sementara untuk sekadar bermesraan (saling berpelukan dan sejenisnya), selagi ada kesempatan maka bisa dilakukan sewaktu-waktu. 

“Namanya juga suami istri, Mas, kalau pengin mesra-mesraan kan wajar saja,” ujar penjaga warung madura langganan saya tersebut bercerita. 

Bermula dari suatu pagi (sekitar jam 6) ketika saya tanpa sengaja mendapati ia dan istrinya saling bermesraan. Membuat suasana menjadi agak canggung. Dari situlah si penjaga warung madura berusia menjelang kepala empat itu—yang enggan disebut namanya—itu membeberkan siasat mengatasi kecanggungan di momen-momen semacam itu. 

Cepat-cepatan dengan langkah kaki pembeli

Penjaga toko kelontong 24 jam langganan itu bercerita, bukan kali itu saja ia harus geragapan karena pembeli datang saat ia dan istri bermesraan. Termasuk kejadian saya dini hari itu, berarti ya sudah tiga kali. 

Hanya memang ia mengaku belum pernah mengalami yang “ketahuan” sedang bercinta.” Kalau soal itu (bercinta) pinter-pinteran mencari celah waktu, katanya. 

Ia geragapan karena sebelumnya mengira belum ada pembeli. Tahu-tahu sudah ada saya yang nongol di depan etalase. Tidak ada suara motor sebagai penanda karena saya jalan kaki dari kosan. 

“Biasanya memang dari suara motor berhenti. Karena mayoritas pembeli itu kan orang-orang yang lewat, bepergian begitu. Jadi suara motor jadi tanda paling gampang untuk mengetahui ada pembeli sedang mampir,” jelasnya. 

Nah, jika ada suara motor berhenti, maka yang harus ia lakukan adalah adu cepat dengan langkah pembeli dari mulai turun motor sampai ke depan etalase warung. Di saat bersamaan, si penjaga warung madura itu harus bergegas agar tidak terkesan telah terjadi sesuatu yang bisa membuat suasana menjadi canggung. 

Ia langsung bangkit dari duduk atau rebahan di lantai untuk naik ke kursi. Kalau perlu bahkan langsung berdiri menyambut pembeli. 

Cara penjaga warung madura atasi kecanggungan: bersikap seperti tidak terjadi apa-apa

Dua kali pengalaman sebelumnya, si penjaga toko kelontong 24 jam tersebut mengaku dalam posisi sangat kaget dan malu karena berpapasan dengan pembeli saat tengah bermesraan. “Padahal kan harusnya nggak usah malu, suami istri kok,” ujarnya. 

Hal paling mungkin yang bisa ia lakukan saat itu adalah dengan cara: bersikap biasa saja, seolah tidak terjadi sesuatu yang membuat canggung satu sama lain. Ya meskipun kenyataannya ia merasa agak kikuk. 

Apalagi saat itu, sesaat sebelum si pembeli—yang boncengan—itu pergi, mereka sempat berbisik sambil terkikik tipis. Seolah mereka baru saja melihat sesuatu yang wagu kalau meminjam istilah Jogja.  

Langsung berbagi tugas, seolah sedang sibuk 

Sementara dalam kasus saya, si penjaga warung madura langganan saya tersebut sudah malah mengaku menemukan siasat lain, yakni dengan tiba-tiba saling berbagi kesibukan. 

Dengan setengah tergeragap, si suami langsung meladeni saya yang hendak beli rokok, roti, dan minuman kaleng. Tidak lama berselang, si istri bangkit sembari membetulkan kerudung lantas langsung menghitung stok barang. 

Tapi tetap saja, sudah kepalang saya melihat “adegan dewasa”. Saat saya singgung, ia pun tidak pelak langsung tertawa. 

“Setelah situasi canggung semacam itu, apakah habis itu masih bisa bermesraan lagi?” Tanya saya penasaran. 

“Yo sudah nggak bisa lah, Mas,” jawab si penjaga warung madura itu dengan terkekeh. Sejauh tiga kali mengalami momen canggung dan kikuk tersebut, gairah untuk bermesraan lagi sudah luruh. Yang tersisa adalah mode fokus dan siaga menyambut pembeli yang datang silih berganti.  

Tentu tidak kesal karena itu adalah risiko pekerjaan sebagai penjaga warung madura 

Atas tiga kali momen bermesraan yang rusak tersebut, penjaga warung madura langganan saya tersebut mengaku sama sekali tidak kesal. 

Baginya, apa yang terjadi adalah bagian dari risiko pekerjaan. Sejak awal ikut sang juragan, ia sudah tahu kalau ia akan menjaga sebuah toko kelontong sepanjang 24 jam, dengan sistem rotasi siang-malam. 

Selain itu, ia juga tahu persis bahwa warung madura hanya menyisakan bilik kecil untuk istirahat. Bilik yang dibuat sendiri sebagai sekat antara ruang depan dan ruang privat. 

“Saya ajak istri dan anak (usia 2 tahun) juga bukannya nggak tahu risikonya. Kehidupan kita ya bakal berkutat di warung, jarang pulang. Mangkanya saya ajak biar nggak saling jauh-jauhan,” ucapnya. Apalagi jika menyangkut hubungan biologis yang ia sendiri mengakui sesekali masih sangat butuh. 

Oleh karena itu, dinamika yang ia alami seperti tiga kali momen canggung tersebut ia anggap biasa saja. Tidak yang bagaimana-bagaimana. Yang penting kan dengan pasangan sah sendiri. Yang penting kan, sebagai perantau, tidak mengganggu ketertiban umum. Yang penting pula mencari rezeki dengan cara halal. Begitu kata penjaga warung madura langganan saya itu. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Kebiasaan Sederhana Penjaga Warung Madura tapi Bikin Saya Respek Besar atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan



Terakhir diperbarui pada 7 Oktober 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.