Pernikahan seorang sahabat seharusnya menjadi momen membahagiakan, yang membuat haru orang-orang di sekitarnya. Namun bagi saya, yang baru saja di cut off alias telah memutus hubungan komunikasi pertemanan, kabar itu justru menjadi tanda tanya. Terutama saat eks sahabat saya itu meminta saya sebagai bridesmaid.
Permintaan bridesmaid usai tragedi cut off
Pengiring pengantin atau bridesmaid kini menjadi tren dalam pesta pernikahan. Dalam sejarahnya, tradisi ini berasal dari kepercayaan Romawi kuno. Penelitian berjudul “Fashion Styles and Aesthetic Values Represented in Bridesmaid Dresses” menyebut, baju yang dikenakan bridesmaid berfungsi mengelabui roh jahat yang bermaksud mengganggu pengantin asli.
Sementara di Indonesia, pengiring pengantin lebih akrab dikenal sebagai pagar ayu. Umumnya, mereka adalah kerabat dekat yang mendampingi pengantin. Seiring berjalannya waktu, tak sedikit pengantin yang menunjuk sahabat terdekat mereka sebagai bridesmaid.
Ketika eks sahabat saya meminta saya menjadi bridesmaid dalam pernikahannya, saya kebingungan. Selain karena tidak punya pengalaman, saya tidak tahu tugas spesifik apa yang harus saya lakukan untuk membantu pengantin wanita.
Apalagi, hubungan saya dengannya sebenarnya sudah selesai alias cut off. Setelah berbulan-bulan lamanya tidak mengirimkan kabar, saya mendapat informasi dari salah satu teman bahwa dirinya akan menikah.
Awalnya saya kecewa karena tidak dikabari secara langsung, tapi saya teringat, bukankah hubungan kami memang sudah selesai? Saya pun tidak mencoba berkomunikasi lagi dengannya. Beberapa minggu kemudian, eks sahabat saya ini akhirnya mengirim pesan.
“Aku bulan Juli menikah, kamu aku jadikan bridesmaid. Beri aku kepastian, bisa atau nggak?” ucapnya.
Ternyata jadi bridesmaid bukan berarti kita spesial
Bohong jika saya tidak terharu dengan pesan singkat siang itu. Seberapa buruknya hubungan persahabatan kami, tentu sudah banyak suka duka yang kami lewati hingga ajakannya itu terdengar tulus di telinga saya.
Bagaimana saya tidak berharap, dalam artikel populer yang saya baca, bridesmaid adalah simbol kekuatan dari persahabatan. Jadi, apakah itu artinya eks sahabat saya ini ingin memperbaiki hubungan?
Saya tidak tahu. Yang jelas, saya tidak bisa menjawab permintaannya secara langsung. Saya takut, dia lagi-lagi kecewa karena saya tidak cukup membantunya terutama dari segi dukungan emosional.
Saya akhirnya mengatakan kondisi saya apa adanya, bahwa saya hanya bisa membantu di hari H, karena posisi kami sama-sama di luar kota. Setelah sepakat, dia pun memasukkan saya ke grup koordinasi. Beberapa anggotanya saya kenal, tapi beberapa lainnya tidak.
Dari sana saya paham, ah mungkin menjadi bridesmaid di momen pernikahan dia sebenarnya bukan simbol persahabatan yang terlalu spesial. Sebab yang saya rasa, dia hanya membutuhkan bantuan di hari pernikahannya nanti.
Karena sudah tidak bisa mundur, saya pun berusaha menghadapi segala drama ke depannya.
Mengeluarkan biaya yang tidak sedikit
Pra acara pernikahan, saya memang tidak direcoki untuk mengurus segala persiapannya seperti memilih gaun pengantin, mencari vendor, atau melakukan pesta lepas lajang. Dia hanya memberikan saya sebuah kain yang senada dengan gaun pernikahannya nanti.
Di situlah saya baru tahu, untuk menjadi bridesmaid saja, dalam artian, bukan orang yang nduwe gawe (punya hajat), saya harus rela mengeluarkan banyak uang. Mulai dari menjahitkan baju, membeli kerudung dan sepatu heels yang senada, menyewa MUA, membeli tiket transportasi luar kota, hingga memberi amplop.
Jika ditotal, biaya yang saya keluarkan sekitar Rp1.500.000. Jika disandingkan dengan biaya pernikahan dia memang tidak apple to apple. Saya hanya bingung, kenapa saya rela mengeluarkan uang tersebut hanya untuk tampil cantik dan pamer di media sosial, seolah-olah hubungan kami masih baik-baik saja. Bukankah kami sudah sepakat cut off?
Bertemu dengan kondisi yang canggung
Lagi-lagi, karena sudah tidak bisa mundur, saya pun harus melanjutkannya. Tidak masalah lah mengeluarkan uang segitu, toh itu momen paling bahagia dalam hidupnya. Namun yang sungguh saya sesali ke depannya adalah, waktu, tenaga, dan mental yang harus saya sediakan untuk menghadapi eks sahabat saya ini kembali.
Sebelum hari H pernikahan, dia mengirim sekitar 25 pesan panjang-panjang berisi keluh kesahnya tentang persiapan pernikahan. Awalnya, saya masih bisa menjawab pesannya satu-satu sampai akhirnya saya ketiduran dan dia kembali marah.
Jujur saja, peristiwa itu membuat saya bernostalgia. Lagi-lagi soal komunikasi dan kepribadian kami yang berujung cut off. Dari situ saya paham, hubungan kami mestinya benar-benar usai. Sialnya, saya tidak bisa mengundurkan diri menjadi bridesmaid.
Selain biaya yang sudah saya keluarkan, waktunya juga semakin dekat. Anehnya, saat H-1 sebelum pernikahan, kami bisa bertemu hahahihi seperti biasa walaupun terlihat canggung.
Bridesmaid adalah peran yang tak berguna
Alih-alih mendampingi pengantin wanita H-1 sebelum pernikahan, saya justru sibuk berkenalan dengan bridesmaid lain agar kerja sama kami nanti berjalan lancar. Eks sahabat saya sudah membagi tugas kami masing-masing, tapi tak semua bridesmaid hadir, sehingga di hari H, semuanya berjalan agak rancu.
Misalnya, bridesmaid yang mestinya sudah bangun pukul 04.00 WIB untuk make up dan bersiap-siap menata tempat akad, justru tampak grusa-grusu mendandani diri mereka sendiri. Sehingga saya yang sudah siap dari tadi justru harus mempersiapkan tugas-tugas yang mestinya dikerjakan bridesmaid lain.
Sedangkan, tugas utama saya seharusnya adalah menjaga souvenir dari siang sampai malam. Jujur saya agak kesal karena dari 10 bridesmaid yang eks sahabat saya undang, hanya beberapa orang yang memang sat set.
Tak berhenti sampai di situ, meski saya kenal dengan orang tua eks sahabat saya, bukan berarti saya juga akrab dengan semua keluarga besarnya. Saya sempat beradu argumen dengan bibi-bibinya yang ternyata juga ditugasi menjaga souvenir.
Pengalaman ini membuat saya sadar, bridesmaid sungguh peran yang tidak berguna dalam pernikahan. Di balik kebaya seragam cantik yang kami kenakan, peran ini seringkali hanya untuk mencari tenaga tambahan gratis.
Secara pribadi, alih-alih memperbaiki hubungan pertemanan kami yang sudah kandas (cut off), saya justru kembali menelan pil pahit dengan mengorbankan materi, waktu, tenaga, hingga kewarasan mental akibat drama masa lalu yang terulang.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: 10 Tahun Persahabatan Berujung Cut Off Mengajari Saya Satu Hal: Kita Bukan Jahat, tapi Memang Sudah Tak Sejalan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
