Jika memang harus ada beberapa jurusan kuliah perguruan tinggi yang dihapus demi relevansi industri, rasa-rasanya semoga empat jurusan berikut ini tidak termasuk. Sebab, meski kerap “disepelekan”, tapi empat jurusan ini masih punya relevansi dengan kebutuhan bisnis yang geliatnya masih sangat masif di era manapun—setidaknya hingga saat ini.
***
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti saintek) memiliki wacana untuk menutup program studi (prodi) di perguruan tinggi yang tidak relevan dengan kebutuhan kehidupan dunia di masa depan.
“Nanti mungkin ada beberapa hal yang harus kami eksekusi dalam waktu yang tidak terlalu lama terkait dengan prodi-prodi perlu kita pilih, kita pilah, dan kalau perlu ditutup, untuk bisa meningkatkan relevansi ini,” ujar Sekjen Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco, dalam Simposium Nasional Kependudukan Tahun 2026, Kamis (23/4/2026) dikutip dari siaran di Kanal YouTube Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.
Lebih lanjut, kata Badri, Kemendikti saintek juga berencana menyusun prodi atau jurusan kuliah di perguruan tinggi yang dibutuhkan di masa mendatang.
Kenapa “perampingan” jurusan kuliah tersebut dianggap perlu? Sebab, sering kali lulusan dari suatu jurusan kesulitan mendapat pekerjaan. Ambil contoh jurusan kependidikan atau keguruan yang jumlahnya paling banyak.
“Kita meluluskan tiap tahun 490.000 dari kependidikan. Sedangkan pada waktu yang sama, lowongan untuk calon guru dan fasilitator di taman kanak-kanak hanya 20.000. Jadi yang 470.000 tidak punya pekerjaan,” tutur Badri.
Atas situasi tersebut, beberapa sarjana dari sejumlah jurusan berharap agar jurusan mereka kuliah dulu tidak serta-merta dihapus. Sebab, meski kerap disepelekan, tapi masih relevan loh dengan bisnis-bisnis yang terus ada di era mana saja (sebuah satire).
Jurusan kuliah di fakultas dakwah UIN, harus tetap eksis karena
Obrolan tongkrongan pada Minggu (26/4/2026) yang mempertemukan tiga anak lulusan UIN merasa, sepertinya jurusan di dalam fakultas dakwah UIN, seperti Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) atau Manajemen Dakwah, jangan buru-buru dihapus.
Alasannya, jurusan tersebut masih sangat relevan loh dalam konteks penyiaran keagamaan hari ini. Dengan kata lain, “bisnis agama” masih sangat potensial.
Bagaimana tidak, sosok seperti Mama Ghufron yang dikenal dengan dakwah pakai bahasa Suryani (maqoli-maqoli) saja masih bisa eksis dan mendapat pengikut banyak.
Selain itu, kenyataan hari ini menunjukkan tidak sedikit orang menggunakan label agama untuk meraup keuntungan komersial. Sementara tidak diikuti oleh kompetensi intelektual-keagamaan, hanya modal public speaking dan cerita-cerita ajaib kewalian. Bahkan di banyak kasus juga menggunakan label tersebut untuk memanipulasi pengikut atau murid yang berujung pada kekerasan seksual.
Dari obrolan itu, Mojok lantas membuka jajak pendapat secara daring. Hasilnya, ada tiga jurusan kuliah lain yang seringnya disepelekan, tapi mestinya harus dipertahankan, antara lain:
Anak jurusan kuliah sejarah: sejarawan sangat dibutuhkan di rezim manapun, jangan ada penghapusan
Di lingkaran mahasiswa jurusan sejarah (survei diisi 4 sarjana sejarah, 3 dari dari Jogja, 1 dari Surabaya) mengakui, jurusan tersebut memang kerap disepelekan. Bahkan sering muncul bercandaan: sejarah itu bikin gagal move on karena hanya belajar tentang masa lalu. Ngapain masa lalu terus-menerus dipelajari?
Prospek kerja jurusan ini juga dianggap abu-abu. Buktinya, keempat responden tersebut bekerja di luar gelar sebagai sarjana sejarah. Hanya satu yang bekerja linear, tapi itu pun dengan menjadi guru.
Namun, mereka optimis, jika mendapat perhatian serius dari pemerintah, sarjana dari jurusan perguruan tinggi sejarah punya prospek karier yang terus relevan di rezim manapun.
Sebab, teorinya, sejarah dibuat oleh para pemenang. Di sini, sebuah rezim bisa menggunakan ilmu sejarah untuk melegitimasi kekuasaan mereka: memelintir fakta sejarah untuk menutupi sisi kelam kekuasaan di bawah sebuah rezim yang pernah/sedang berkuasa.
Ilmu komunikasi dan manajemen untuk kebutuhan buzzer
Tak mau ketinggalan, sarjana dan mahasiswa dari jurusan Ilmu Komunikasi dan Manajemen turut berharap kalau dua jurusan kuliah ini semestinya dipertahankan. Berdasarkan hasil survei dari 2 sarjana Ilmu Komunikasi dan 1 mahasiswa Manajemen di Surabaya.
Kata mereka, dua jurusan tersebut masih sangat relevan karena industrinya masih memadai. Misalnya, mereka mencontohkan, hingga hari ini kita pasti masih sering mendapati akun-akun anonim yang secara kompak menyerang atau memuji seseorang dengan sangat masif setiap kali tengah diterpa isu tertentu.
Akun tersebut bahkan bisa menyerang warganet yang berada di pihak berlawanan. Itulah akun-akun pendengung alias buzzer.
Bagi tiga responden Mojok, bisnis buzzer ternyata masih menjanjikan. Bahkan, lanjut mereka, kita bisa menyaksikan seseorang dengan kapasitas non-pakar, hanya modal koar-koar, bisa berbusa-busa tayang di televisi untuk membela tuannya. Sampai menolol-nololkan para pakar yang menjadi lawan diskusinya.
Maka, jika ngomongin jurusan yang linear atau relevan dengan kebutuhan tersebut, Ilmu Komunikasi dan Manajemen adalah jawabannya. Karena di dalamnya mempelajari komunikasi publik hingga manajemen sumber daya manusia (SDM). Analisis terhadap komunikasi publik siter
Ilmu Komunikasi dan Manajemen relevan di tengah kebutuhan pengalihan isu
Masih dari tiga responden yang sama, kata mereka, dua jurusan kuliah di perguruan tinggi tersebut dirasa masih relevan dengan kebutuhan lain yang sejalan dengan aktivitas buzzering. Yakni kebutuhan atas pengalihan isu.
Lanjut mereka, kalau diperhatikan, setiap ada isu-isu besar mencuat, tidak butuh waktu lama untuk kemudian tenggelam. Fokus publik sudah dialihkan ke isu-isu lain yang lebih sensasional. Seringnya isu perselingkuhan atau skandal artis atau pejabat.
Kalau orang tidak memahami psikologi dan manajemen massa, tentu susah untuk membuat skema pengalihan isu tersebut bisa berjalan. Tidak hanya berjalan, tapi juga efektif untuk mengubur isu krusial utama dalam waktu sekejap.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Rela Bayar Mahal di Jurusan Keperawatan demi Prospek Karier Perawat, Cuma Berakhir Jadi “Babu” di RSUD atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
