Kos dengan fasilitas dapur bersama biasanya punya aturan tertentu. Kadang-kadang, aturan itu sudah ditulis besar-besar, tapi penghuninya saja yang nggak tahu diri. Berikut aturan yang sering dilanggar anak kos:
#1 Rapikan dapur kos bersama usai dipakai
Saat ngekos di Jakarta dengan fasilitas dapur bersama, saya sering dongkol dengan penghuni kos lain. Bagaimana tidak, alat-alat masak yang saya beli seringkali masih tergeletak di wastafel dengan sisa-sisa bahan makanan, padahal sebelumnya sudah saya cuci dan hendak saya pakai.
Sialnya, saya tidak berani menegur. Barangkali ada suatu alasan tertentu yang membuat si pelaku berhalangan untuk mencuci di hari itu juga atau mereka tidak tahu bahwa alat memasak itu milik saya pribadi bukan untuk umum.
Tak lama setelah kejadian itu, seorang penghuni kos lain malah menegur saya untuk menjaga kebersihan dapur bersama, seolah-olah saya ini adalah pelakunya karena alat makanan tersebut milik saya.
Untungnya, saya bisa menjelaskan dengan baik. Bodo amat jika dia masih menaruh curiga.
Kejadian itu jadi pelajaran penting bagi saya, lebih baik saya menyimpan alat masak pribadi saya di dalam kamar, meskipun harus bolak-balik membawa wajan, spatula, piring, dan bahan-bahan masakan dari lantai 2 ke tempat dapur kos bersama di lantai 1.
Ternyata, setelah dijalani selama beberapa hari malah repot. Alhasil, saya pun jadi jarang memasak di dapur. Lebih baik beli makanan di luar.
#2 Bayar iuran untuk beli gas dapur bersama
Selain harus menjaga kebersihan dapur kos bersama, penghuni kos biasanya juga wajib iuran gas. Kalau di kosan Jakarta saya dulu, sistemnya bersifat sukarela. Ada sebuah toples bening bertuliskan “iuran gas seikhlasnya” yang khusus dipakai sebagai wadah mengumpulkan uang.
Sama seperti infak di masjid, uang di toples itu pun rawan dicuri atau bahkan tak ada yang mengisi karena tak ada yang mengawasi. Petugas kebersihan kos juga kerap ngomel saat gas LPG habis, tapi uang di toples tidak mencukupi untuk membeli gas.
Padahal dulu saat masih rutin memasak di dapur kos bersama, saya kerap iuran uang Rp5 ribu per minggunya di toples bening tersebut. Mau iuran Rp2 ribu per minggunya juga rasanya ewuh pakewuh.
#3 Bersihkan makanan yang sudah basi di dalam kulkas
Fasilitas dapur kos bersama akan lebih komplet jika ada kulkas. Bagi anak kos, barang tersebut terasa mewah karena dapat menyimpan bahan-bahan makanan. Masalahnya, satu kulkas saja biasanya tidak cukup untuk beberapa kamar.
Kosan saya di Jakarta memiliki 2 kulkas, tapi biasanya itu saja sudah penuh dengan barang milik orang lain. Kadang-kadang saya juga jengkel dengan bahan-bahan makanan yang sudah basi tapi tidak dibuang.
Mau saya buang pun rasanya tidak berhak. Apalagi kalau berujung salah paham. Sebab, saya memang tidak kenal dengan penghuni kos lain, bahkan kami tidak bertegur sapa. Semuanya sibuk dengan diri masing-masing.
Padahal, di tiap kresek, kardus, atau botol minum biasanya tertera label nama. Fungsinya untuk mencegah barang tertukar atau dicaplok penghuni lain, serta menuntut kesopanan agar penghuni lain tidak iseng membuka atau memindahkan barang tersebut di kulkas.
Sehingga, kesadaran untuk membuang bahan makanan yang sudah basi mestinya jadi tanggung jawab pribadi. Begitu pun saat menggunakan alat-alat di dapur bersama.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Melamun di Rooftop Kosan: Jorok Tak Masalah, karena Sudah Muak Menjadi Workaholic di Jakarta atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan