Di atas lahan seluas 115 meter persegi, Edi Dimyati berhasil mendirikan sebuah rumah sekaligus Taman Baca Kampung Buku yang bisa dikunjungi oleh masyarakat umum. Lokasinya ada di Jalan Abdul Rahman, Cibubur, Jakarta Timur—jauh dari gedung-gedung tinggi di Jakarta Pusat dan diapit oleh dua aliran sungai.
“Posisinya di belakang perumahan Wakay Residence. Masuk Gang Rukun (hanya bisa dilalui satu motor) di samping mie Batasit. Terus jalan sampai mentok,” kata Edi kepada saya yang sudah menginformasikan hendak berkunjung ke tempatnya pada Minggu (8/6/2026) sore.

Rupanya, tak sulit menemukan Taman Baca Kampung Buku karena bangunannya tepat di ujung gang dan tampak seperti balai RW bertingkat dua. Namun, saya seolah tertipu karena di dalamnya terdapat buku bacaan sekitar 4 ribu lebih, mulai dari bacaan anak-anak hingga dewasa dengan berbagai genre.
Selain bisa membaca dan meminjam buku di sana, saya juga bisa membeli camilan dari warung kecil yang dijaga oleh istri Edi di dalam perpustakaan. Lalu, di balik warung kecil itulah saya lagi-lagi takjub karena sebuah taman yang bisa dinikmati oleh pengunjung, baik untuk membaca maupun berdiskusi.
Edi bercerita jika ruang baca tersebut dulunya merupakan saung bambu dan lapangan kecil. Sejak tahun 2010, ia menjadikan tempat itu sebagai sarana kreativitas dan ruang belajar khususnya untuk anak-anak. Seiring berjalannya waktu, salah satu wali murid mengusulkan untuk mendekorasi saung dan lapangan itu menjadi ruang baca yang lebih nyaman.
Ide itu pun diterima secara terbuka oleh Edi, mengingat rumahnya memang seringkali terdampak banjir sehingga buku-bukunya pernah basah dan rusak. Edi pun meminta tolong tetangganya yang merupakan tukang agar menyulap belakang rumahnya menjadi taman baca.
“Selain banjir, tanah ini juga pernah longsor. Terus banyak juga yang buang sampah di belakang rumah, khususnya di sungai. Karena kesal sama kotor dan baunya, saya bikin aja halaman rumah belakang seperti ini. Kalau ada yang buang sampah, mereka jadi sungkan sendiri,” tutur laki-laki asal Tasikmalaya tersebut.
Selain menyulap halaman belakang rumah menjadi taman baca yang nyaman, Edi juga tak berhenti memberikan pendidikan nonformal yang bekerjasama dengan para relawan. Ia juga mengadakan les gratis berisi pengetahuan umum khususnya untuk anak-anak kurang mampu.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: “Jajanan Murah” yang Tak Pernah Surut Pembeli di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan