Pasar Jangkang di Widodomartani, Ngemplak, Sleman tak pernah sepi pembeli. Pasar tradisional ini tetap hidup di tengah modernisasi. Setiap sudutnya berisi interaksi hangat di antara pedagang dan pembeli.
Di pinggir jalan dekat pintu pasar, seorang ibu yang baru saja berbelanja tampak menunggu sang suami untuk menjemputnya. Tak lama kemudian, dia lantas tersenyum setelah melihat sosok yang dia tunggu akhirnya tiba sambil mengendarai motor.

Di sisi samping dekat parkiran, beberapa lapak pedagang tampak ramai didatangi pembeli. Salah satu lapak yang paling ramai dikerubungi ibu-ibu adalah lapak ikan. Di antara mereka, terdapat dua orang pedagang yang tampak kewalahan meladeni pembeli. Namun, senyum mereka tetap merekah.
Sementara itu, suasana di dalam Pasar Jangkang tak kalah riuh. Jalanan satu arah yang merupakan pemisah tiap kios hampir selalu terjamah. Saya dan salah satu kru Mojok bahkan ikut mengantre untuk berburu makanan tradisional Bakmi Capcay Bu Puji pada Kamis Wage (5/2/2026).

Sengaja kami pilih hari itu karena konon, Pasar Jangkang lebih ramai saat Wage–hari ketiga dalam siklus pasaran Jawa atau pancawara. Secara filosofis, Wage kerap dihubungkan dengan warna hitam dan arah Utara.
Barangkali, itu juga yang menyebabkan Pasar Jangkang yang terletak di ujung utara Sleman ini jadi sangat hidup setiap kali pasaran Wage tiba. Meski begitu, pasar tradisional ini tetap buka setiap hari.

Puji (33), pedagang bakmi dan capcay yang sedang kami tunggu pesanannya mengaku lebih sering jualan saat Legi, Pon, dan Wage karena saking ramainya pelanggan.
“Saya juga kurang tahu ya alasannya kenapa harus Wage, tapi katanya memang sudah tradisi. Banyak juga pedagang selain saya yang benar-benar jualan itu saat Wage,” ucap Puji sembari melayani pembeli yang silih berganti hingga giliran kami tiba.
Bahkan khusus di Minggu Wage, pembeli bisa melihat berbagai macam dagangan, seperti gerobak sapi yang dihias dengan cat warna-warni dan pernak-pernik, ratusan domba dan kambing dari peternak, hingga pedagang klitikan atau barang-barang lawas.

Di hari biasa, pengunjung bisa menjumpai jajanan tradisional yang dijual Puji, sayur-sayuran, buah, ramuan herbal tradisional jamu dan parem kendi, perlengkapan kebun dan ternak, pakaian, tanaman, hingga layanan jasa jahit.
Tak hanya jenis barang dagangannya yang beragam, pedagang pasar ikan, Anggono Catfish berujar Pasar Jangkang jadi satu-satunya pasar tradisional yang paling siap menghadapi pandemi, hingga mendapat penghargaan dari Disperindag. Dengan begitu, laju perekonomian warga Sleman tetap stabil.

“Kami punya 7 posko dengan fasilitas yang bagus waktu itu, seperti tempat cuci tangan, sarung tangan plastik, dan masker,” ucap Anggono yang sudah 40 tahun ini menjadi pedagang ikan di Pasar Jangkang.
“Sebagai panitia satgas, saya juga memastikan teman-teman pedagang dan pengunjung menggunakan menjaga jarak,” lanjutnya, yang sudah menggunakan QRIS untuk pembayaran.

Pada akhirnya, Pasar Jangkang berhasil menjaga napas kehidupan warga di Sleman. Ia bukan sekadar denyut perekonomian, tapi juga bukti bahwa sifat hangat manusia masih punya ruang di tengah modernitas.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Pasar Petamburan Jadi Saksi Bisu Perjuangan Saya Jualan Sejak Usia 8 Tahun demi Bertahan Hidup di Jakarta usai Orang Tua Berpisah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













