Membidik cerita: Jejak kehidupan di hutan Bukit Turgo lereng barat daya Gunung Merapi, tidak hanya membuat kami belajar soal keanekaragaman flora tapi juga menengok cara warga bertahan.
***
Sabtu (10/10/2026) pagi, kru Mojok berkesempatan menelusuri hutan di Bukit Turgo bersama Musimin. Laki-laki paruh baya tersebut merupakan warga Turgo yang dikenal dengan aktivitasnya menjaga sekaligus melestarikan anggrek di Hutan Merapi.
Saya sedikit kebingungan melihat Musimin yang membawa gergaji untuk menelusuri hutan bersama kami. Ternyata, gergaji itu akan ia pakai untuk memotong batang-batang pohon yang menghalangi jalan utama warga.

Saat menelusuri jalanan tersebut, saya juga melihat beberapa orang sedang menebang batang pohon dengan gergaji mesin, lalu memindahkannya ke dalam truk. Ada pula yang ngarit dan menggendong rumput sejenis guatemala.
“Buat pakan ternak sapi dan kambing di rumah,” ujar seorang ibu saat Mojok menyapanya.

Sekitar satu jam berlalu, kami sampai di tengah hutan Bukit Turgo. Saat itulah saya melihat sebuah lumpang batu yang sudah berlumut. Musimin menjelaskan ternyata dulu ada sebuah permukiman warga. Namun sekarang sudah lenyap.
“Ya karena digusur sama pemerintah setempat tanpa ada kompensasi, jadi barang-barang dulu ditinggal begitu saja sama pemiliknya,” kata Musimin lirih saat menggambarkan betapa terburu-burunya warga kala itu hingga meninggalkan barang-barang berharganya.

Tak lama setelah kami melanjutkan perjalanan, ada seorang teman yang cegukan. Musimin yang dari tadi berada di barisan paling depan langsung menghentikan langkahnya sejenak, usai mendengar suara tersebut.

Ia lalu mendekat ke arah dedaunan lebar yang bertangkai panjang dan memotongnya, sementara kami terus menunggunya dari belakang. Musimin menjelaskan bahwa tanaman itu bernama begonia hutan. Menurutnya, air dalam batang bisa meredakan cegukan teman kami tadi.

Benar saja, teman kami sudah tidak cegukan sepanjang perjalanan. Malah dia cukup senang saat menemukan lubang berangin di sekitar perbukitan. Sementara itu, saya lebih senang lagi, karena lubang itu jadi penanda bahwa tujuan akhir kami sudah dekat.

Meski sudah dekat, kami masih harus melewati satu spot unik lain, yakni lokasi konservasi anggrek di Bukit Turgo lereng barat daya Gunung Merapi. Bersama masyarakat di Bukit Turgo dan Tunggul Arum, sejumlah spesies anggrek yang menempel pada pohon pinus berhasil tumbuh.

Sampai akhirnya, kami kembali ke kebun belakang rumah Musimin dengan rasa lelah sekaligus senang. Saat kami tiba, istri Musimin langsung bersiap mencatat pesanan berupa minuman maupun makanan untuk kami santap di warung Kopi Turgo milik mereka.
Beberapa menit kemudian, sejumlah mi kuah, teh, dan gorengan yang kami pesan, ludes tak tersisa.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchamad Aly Reza
LIHAT JUGA: Interaksi Seru Bareng Kru Kapal Buku Doulos Hope meski Terhalang Bahasa atau konten Membidik Cerita (foto jurnalistik) Mojok lainnya di rubrik Bidikan