Warga Kota Madiun, Jawa Timur harus menelan kenyataan pahit setelah wali kotanya, Maidi terjaring operasi tangkap tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Padahal, kemajuan kota tersebut sempat dipuja hingga mendapat berbagai julukan.
***
Sebagian warga Madiun mengaku kaget dengan penangkapan Wali Kota Madiun, Maidi yang terjaring OTT oleh KPK pada Senin (19/1/2026). Pasalnya, mereka menganggap kota tersebut terlihat lebih maju selama kepemimpinan Maidi.
“Ya Allah Pak. Padahal Madiun kelihatan banget kemajuannya waktu kepemimpinan beliau,” ujar akun Instagram @zha*** dikutip Selasa (20/1/2026).
“Booom. Pak, Madiun udah terlanjur bagus berkat kepemimpinan Anda,” ujar @bay*** menyematkan emoticon api di akhir kalimatnya.
“Padahal dia walikota paling juara dalam membangun kotanya,” ucap @ind***.
“Tapi jujur, Madiun sekarang kotanya lebih tertata pas zamannya Pak Maidi sampai punya objek wisata lho,” ucap @ras***.
Meski kepemimpinannya terkesan bagus, KPK tentu punya bukti kuat saat melakukan OTT hari itu. Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo bilang Maidi terjerat kasus fee proyek dan dana Corporate Social Responsibility (CSR) bersama 15 orang pegawai lainnya.
“Pihak-pihak yang diamankan selain wali kota ada dari penyelenggara negara atau PNS di Pemerintah Kota (pemkot) Madiun dan juga pihak swasta,” kata Budi Prasetyo dikutip dari Kompas.com, Selasa (20/1/2026).
Dari kota mencekam, kini cocok untuk slow living
Sebagai ibu dari dua orang anak yang tinggal di Madiun sejak kecil, Immash mengaku Madiun adalah kota ternyaman. Ia sempat pergi merantau ke daerah lain usai SMA dan menyadari alasannya rindu dengan kota kelahirannya tersebut.
“Aku baru kembali ke Madiun 2 tahun ke belakang dan tentu sangat merasakan perbedaan kota ini saat aku kecil dan sekarang,” kata Immash.
Menurut Immash, Madiun dulu belum semaju sekarang. Kota yang mendapat julukan “Kota Pendekar” tersebut dulunya masih sepi dan gelap terutama saat malam. Hal itu tak terlepas dari sejarah kelam kota tersebut yang dicap sebagai sarang PKI.
Mojok juga pernah menuliskan tegangnya suasana Kota Madiun saat bulan Suro, di mana polisi selalu menjaga ketat area sekitar padepokan untuk mencegah aksi tawuran antar perguruan silat yang sering terjadi.
“Jadi dulu. Warganya, termasuk aku benar-benar takut untuk keluar rumah. Sampai ada arak-arakan, bahkan parahnya mereka bisa sampai anarkis dan merusak fasilitas umum. Entah apa motifnya tapi ada yang sampai bawa-bawa batu segala,” tutur Erika*.
Berita lengkapnya bisa dibaca di sini.
Madiun mulai dilirik wisatawan dunia
Namun, Madiun kini sudah berbenah. Immash mengaku beberapa daerah di kota tersebut sudah berubah jadi lebih terang, bersih, dan indah. Di sisi lain, jumlah penduduknya juga tidak terlalu padat sehingga cocok untuk slow living.
“Sebagai emak-emak yang kerjaannya jualan online, aku bisa mengantar anak ke sekolah tiap pagi, terus mampir ke warung estetik sekadar untuk minum yang anget-anget (hangat) sambil ngemil cookies gluten free low sugar. Atau pas weekend melipir ke coffee shop atau ke taman-taman kota,” tutur Immash.
Selain coffee shop yang makin marak, Erika (diwawancara secara terpisah) berujar jika Madiun saat ini mulai ramai dilirik orang sebagai tempat singgah. Bahkan dari wisatawan mancanegara. Menurut pengamatan Erika, mereka sering berkunjung ke kampung tematik seperti Kampung Inggris atau Pahlawan Street Center (PSC).
PSC dulunya merupakan kawasan revitalisasi Jalan Pahlawan sebagai pusat kuliner dan UMKM yang dikembangkan secara bertahap sejak era kepemimpinan Maidi. Di sana, pengunjung dapat menikmati suasana jalan-jalan seperti di luar negeri, karena terdapat Patung Merlion ala Singapura hingga Mekkah.
Tak pelak, pertumbuhan ekonomi di Kota Madiun pun ikut meningkat. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Madiun mencatat pertumbuhan ekonomi kota tersebut naik sebesar 6,35 persen pada triwulan II 2025 dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar 5,78 persen.
“Jadi aku sepakat kalau kota ini cocok untuk slow living, karena suasananya tenang, nggak terlalu padat penduduk, dan harga-harganya cenderung masih menengah ke bawah,” kata Erika.
Di balik polesan kota yang berbudaya
Nama Madiun juga semakin terkenal berkat tokoh-tokoh seniman yang lahir dari sana. Misalnya, penyanyi Ari Lasso, budayawan Harry Tjahjono, seniman Kirun, hingga komedian Nopek Novian. Pemerintah Kota Madiun bahkan secara aktif memoles identitas kotanya lewat jargon “Madiun mendunia”.
“Saya minta Dinas Pariwisata budaya untuk memodifikasi dan konsisten setiap ada event keluarkan gembrung dan perkenalkan gembrung ke sekolah-sekolah. Kalau perlu, datangkan tim ahli, pemerintah siap mendanai,” ujar Maidi dalam acara penyambutan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Madiun ke-107 dilansir dari laman resmi Kota Madiun.
Sayangnya, semangat “Madiun Mendunia” itu bertabrakan dengan realita penangkapan Maidi dan 15 orang pegawainya yang terjaring OTT KPK. Bagi Immash, Erika, dan sebagian warga Kota Madiun, kasus Maidi semacam plot twist yang bikin mereka mengelus dada.
“Maidi ini image-nya baik, kerja bersih, dan nyata. Agak greget aja, sayang kalau hal itu memang benar terjadi,” kata Erika.
Warga yang sempat puas dengan kinerjanya kini harus dilanda kekhawatiran. Kasus ini juga jadi pengingat bahwa kemajuan kota yang dipoles sedemikian rupa, tak akan pernah cukup untuk menutupi kebobrokan integritas para pejabatnya di balik layar.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Mengenal IKSPI Kera Sakti, Aliran Pencak Silat Kombinasi Kungfu dari Madiun atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
