Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Aktual

Terkucilkan dari Acara Kelulusan Sekolah karena Nunggak SPP, Lemah Ekonomi Jadi Objek Diskriminasi

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
22 Mei 2025
A A
Siswa dilarang ikut acara kelulusan sekolah karena SPP belum lunas MOJOK.CO

Ilustrasi - Siswa dilarang ikut acara kelulusan sekolah karena SPP belum lunas. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebuah video di Instagram menunjukkan seorang anak berseragam abu-abu tengah duduk menyendiri. Narasinya, anak itu terkucilkan dari teman-teman dan gurunya yang tengah hanyut dalam acara kelulusan sekolah.

Masalahnya, jika merujuk narasi video, anak itu tidak diperbolehkan mengikuti acara kelulusan sekolah karena SPP-nya belum lunas.

Kebenaran video itu sebenarnya masih simpang siur. Sebagian warganet menyebut, anak itu bukan dikucilkan, melainkan adik kelas yang sedang menyaksikan kakak kelas merayakan kelulusan.

Terlepas itu, persoalan SPP belum lunas yang menghambat siswa sebenarnya jadi perkara umum di Indonesia. Sejak 2023 lalu, banyak pemberitaan mengenai konsekuensi siswa yang belum mampu melunasi SPP. Seperti tidak boleh ikut ujian bahkan penahanan ijazah.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Jurnal Informasi (@jurnal.informasi)

SPP belum lunas tak boleh ikut acara kelulusan: ada sistem yang catat

Sebagai pemerhati anak, pakar pendidikan dan psikologi anak Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, Holy Ichda Wahyuni merasa penghambatan siswa atas urusan tertentu—termasuk acara kelulusan sekolah misalnya—bukan sekadar kabar yang didramatisir.

Baginya, situasi semacam itu adalah cermin retak dari sistem yang seharusnya menjunjung tinggi hak dasar anak untuk mendapatkan pendidikan tanpa diskriminasi.

“Apakah kita lupa bahwa pendidikan adalah hak, bukan hadiah bagi yang hanya mampu membayar?” Ucap Holy dalam keterangan tertulis kepada Mojok, Kamis (23/5/2025).

“Sebenarnya, di sisi lain, saya fikir barangkali pihak sekolah memang menjalankan prosedur. Mungkin mereka merasa telah memberi waktu cukup, mungkin surat tagihan sudah berkali-kali dikirim, namun sistem menuntut penyelesaian,” sambungnya.

Tapi yang perlu digarisbawahi di sini, lanjut Holy, sistem yang tidak punya ruang empati adalah sistem yang cacat. Sebab pendidikan bukan sekadar manajemen belaka. Pendidikan adalah ruang hidup, ruang bertumbuh, bagi anak anak bangsa.

Kelemahan ekonomi jadi objek diskriminasi

Holy mencoba mengudar pandangan filsafat humanism: Bahwa setiap manusia memiliki nilai yang melekat sejak lahir. Yakni martabat, harga diri, dan hak untuk berkembang.

Iklan

“Paulo Freire, tokoh pendidikan kritis, menegaskan bahwa pendidikan bukanlah alat penindasan, melainkan jalan pembebasan,” tutur Holy.

“Maka, ketika seorang anak dikucilkan hanya karena kemiskinan, kita sesungguhnya telah mengkhianati semangat kemanusiaan itu sendiri,” sambungnya.

Bagi Holy, seyogianya sistem pendidikan yang sehat tidak akan menjadikan kelemahan ekonomi sebagai alasan untuk melakukan diskriminasi pada anak.

Refleksi kolektif dari video larangan ikut acara kelulusan

Peristiwa penghambatan—seperti larangan ikut acara kelulusan sekolah, ikut ujian, hingga penahanan ijazah—bagi Holy harus menjadi refleksi kolektif.

Sekolah, pemerintah pusat, dinas pendidikan, dan masyarakat harus bahu-membahu memastikan tidak ada anak yang merasa dikucilkan karena faktor ekonomi.

“SPP yang belum dibayar bisa dicarikan jalan keluar. Belakangan negara menggebu berbicara bonus demografi. Sementara  persoalan SPP di negeri ini masih menjadi kendala terpenuhinya akses pendidikan yang setara dan humanis,” ucap Holy.

“Negara boleh saja membanggakan anggaran pendidikan yang triliunan. Tapi selama ada satu anak yang terpinggirkan karena tidak mampu membayar, maka sistem itu belum sepenuhnya berpihak pada keadilan sosial,” tegasnya.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Fantasi Menjijikkan 40.000 Ribu Orang di Grup Facebook Fantasi Sedarah, Rumah Sendiri Terasa Makin Tak Aman atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 22 Mei 2025 oleh

Tags: acara kelulusankelulusan sekolahnunggak sppspp
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

pendidikan dii jawa barat.MOJOK.CO
Esai

Ide Kredit Pendidikan Jokowi Makin Suramkan Nasib Mahasiswa

28 Maret 2018
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sesi mengerikan kehidupan di desa: orang tua nelangsa karena masih hidup tapi anak-anak (ahli waris) sudah berebut pembagian warisan MOJOK.CO

Nelangsa Orang Tua di Desa: Diabaikan Anak di Masa Renta tapi Warisan Diperebutkan, Ortu Sehat Didoakan Cepat Meninggal

3 Februari 2026
Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh” MOJOK.CO

Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”

31 Januari 2026
Rekomendasi penginapan di Lasem, Rembang. MOJOK.CO

5 Penginapan di Lasem: Dari Megahnya Bangunan Tionghoa hingga Sunyinya Pengunjung

3 Februari 2026
Pinjol Jerat Gen Z Fomo tanpa Cuan, Apalagi Tabungan MOJOK.CO

Fakta Indonesia Hari ini: Sisi Gelap Gen Z Tanpa Cuan yang Berani Utang Sampai Ratusan Juta dan Tips Lepas dari Jerat Pinjol Laknat

3 Februari 2026
Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers MOJOK.CO

Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

6 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.