Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kotak Suara

Kepo, Kenapa Profesi Perawat Selalu Identik dengan Perempuan?

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
12 Mei 2023
A A
profesi perawat dan hari perawat mojok.co

Ilustrasi perawat (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Profesi perawat identik dengan perempuan, padahal dulu pendidikan perawat hanya untuk laki-laki. Sejak kapan perubahan ini terjadi? 

Setiap tanggal 12 Mei, terhitung sejak tahun 1974, selalui diperingati sebagai Hari Perawat Sedunia. Tanggal tersebut dipakai sebagai hari perawat untuk memperingati kelahiran pendiri keperawatan modern, Florence Nightingale.

Namun, tulisan ini tidak untuk mengupas tuntas sejarah peringatan hari perawat itu. Tulisan ini, ingin menjawab pertanyaan umum—yang mungkin sudah jadi pengetahuan sehari-hari—terkait: “mengapa perawat selalu identik dengan perempuan?”.

Wajar, dalam dunia kesehatan, di Indonesia maupun dunia, profesi perawat didominasi oleh perempuan. Di dunia per-twitter-an, bahkan, profesi perawat selalu dilabelkan sebagai pasangan ideal mas-mas berseragam—baik polisi maupun tentara.

Jangankan itu, di dalam budaya pop seperti film saja, profesi perawat selalu melekat pada perempuan. Misalnya, dalam film horor, banyak hantu-hantu perawat yang gendernya adalah perempuan.

Lantas, mengapa bisa profesi perawat ini identik dengan perempuan?

Gara-gara perang

Thomas Kearns dan Paul Mahon dalam studinya berjudul “How to attain gender equality in nursing” menjelaskan bahwa pada awalnya perawat merupakan profesi laki-laki. Bahkan, sekolah perawat pertama di dunia (250 SM) yang berdiri di India, hanya untuk bagi siswa laki-laki.

“Pada mulanya, hanya laki-laki yang dianggap mampu menjadi perawat,” tulis Kearns dan Mahon, mengutip dari BMJ Journal, Jumat (12/5/2023).

Bahkan, pada abad ke-14 sampai abad ke-15, ranah militer dan agama masih menggunakan laki-laki sebagai perawat. Misalnya, sebagaimana dicatat penulis, tokoh terkenal Santo Camillus de Leillis pada tahun 1535 pernah bersumpah untuk merawat orang-orang yang sakit atau sekarat.

Atau, dalam ordo militer dan religius seperti Parabalani pada 1616, laki-laki lah yang bertugas merawat penderita kusta di Alexandria.

Sayangnya, memasuki abad ke-17 dan ke-18, pola ini mengalami perubahan. Muaranya adalah perang semakin intens dan membunuh banyak prajurit yang sebagian besar adalah laki-laki.

Seperti diketahui, sejak pertengahan 1800-an, banyak perang yang terjadi dan memakan korban jiwa tak sedikit. Misalnya Perang Krimea, Perang Sipil Amerika, dan perang-perang lainnya.

Akhirnya, karena laki-laki dianggap punya tanggung jawab mengurus garda terdepan, maka perempuan lah yang bertugas merawat prajurit yang terluka.

Hingga akhirnya, pada 1859 Florence Nightingale menerbitkan catatan berjudul “every woman is a nurse”. Catatan yang dikenal sebagai Reformasi Nightingale ini memutuskan untuk mengeluarkan dan melarang laki-laki untuk menempuh pendidikan keperawatan di Inggris.

Iklan

Nightingale, yang kemudian terkenal sebagai pendiri keperawatan modern, memastikan bahwa semua siswa di sekolah perawat yang ia dirikan adalah perempuan. Dari sini, kata Kearns dan Mahon, pada akhirnya bikin laki-laki mulai mecari profesi lain di luar keperawatan.

Persepsi budaya pun akhirnya terbentuk, yang mana perawat pada akhirnya diidentikkan dengan perempuan. Karena memang, secara jumlah misalnya, dominasi perempuan dalam dunia keperawatan sangat tinggi.

Mendominasi tapi masih rentan

Seperti yang sudah disinggung, presentasi perempuan dibanding laki-laki dalam profesi keperawatan amat dominan. Data Office for National Statistic yang diperbarui pada 2019 lalu menunjukkan bahwa 83 persen perawat di Inggris adalah perempuan.

Jumlah serupa juga dilaporkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebutkan bahwa secara global dua per tiga jumlah perawat adalah perempuan. Di Indonesia, perbandingan tersebut juga tak terlalu jauh.

Kendati jumlahnya begitu dominan, sayangnya posisi perempuan sebagai perawat masih sangat rentan.

Misalnya saja, apa yang terjadi di Inggris. Di sana, 9 dari 10 perawat adalah perempuan. Namun, mereka mendapatkan gaji 17 persen lebih kecil dibanding perawat laki-laki. Padahal, beban kerja dan jam kerja sama relatif sama—bahkan beban kerja perawat perempuan lebih besar karena di Inggris sudah terpatri anggapan perawat itu “feminin dan pekerjaan pengabdian”.

Selain diupah lebih kecil, perawat perempuan juga rentan mengalami kekerasan seksual. Serikat Pekerja Perawat Inggris atau Unison menyebut bahwa perawat perempuan di Inggris banyak yang melaporkan pernah mengalami kekerasan seksual saat bertugas, dari yang ringan, hingga serius seperti pemerkosaan.

Di Indonesia sendiri, Komnas Perempuan melalui siaran persnya di Hari Perawat Nasional (17 Maret 2023) lalu menyebut bahwa perawat di Indonesia masih rentan mendapatkan kekerasan berbasis gender. Kerentanan atas kekerasan dan diskriminasi yang dihadapi perempuan perawat berhubungan langsung dengan struktur sosial yang menempatkan perempuan sebagai subordinat laki-laki.

BACA JUGA Merugikan Caleg Perempuan, Peraturan KPU 10/2023 akan Direvisi

Cek Berita dan Artikel Mojok yang lain di Google News

Terakhir diperbarui pada 12 Mei 2023 oleh

Tags: hari perawat internasionalhari perawat seduniaPemilu 2024perawatperawat perempuan
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

perawat.mojok.co
Ragam

Perawat, “Pahlawan Kemanusiaan” yang Tak Dimanusiakan: Beban Kerja Selangit, Gaji Sulit

6 Oktober 2025
Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, KKN Undip.MOJOK.CO
Kampus

Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, Semua Urusan Jadi Mudah Meski Suasana Bikin Tak Betah

14 Juli 2024
Komeng: Olok-Olok Rakyat Biasa untuk Menertawakan Politik MOJOK.CO
Esai

Komeng Adalah Bentuk Olok-Olok Paling Menohok yang Mewakili Lapisan Masyarakat Biasa untuk Menertawakan Politik

19 Februari 2024
bayi prabowo gibran di sumatera selatan.MOJOK.CO
Ragam

Kisah Bidan yang Membantu Persalinan Bayi Bernama Prabowo Gibran di Sumatera Selatan

16 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Makanan Khas Jawa Timur Obat Rindu Kala Mudik ke Surabaya (Aly Reza/Mojok.co)

Makanan Khas Jawa Timur di Jogja yang Paling Bikin Perantau Surabaya Menderita: Kalau Nggak Niat Mending Nggak Usah Jualan, Bikin Kecewa

14 Maret 2026
Belajar Tentang Sejarah Ekonomi Komunis China dari Duanju, Drama Vertikal yang Nagih MOJOK.CO

Belajar Sejarah Ekonomi Komunis China Lewat Kamerad Chang dan Duanju yang Bikin Nagih

16 Maret 2026
Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan Mojok.co

Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan

15 Maret 2026
penyiraman air keras.MOJOK.CO

Negara Harus Usut Tuntas Dalang Penyiraman Air Keras ke Aktivis HAM, Jangan Langgengkan Impunitas

16 Maret 2026
Cerita Felix. Kuliah di universitas Australia berkat beasiswa LPDP usai diejek dan ditertawakan. Tolak tawaran kerja dewan demi ajar anak-anak di kampung pedalaman MOJOK.CO

Lulusan Beasiswa Australia Tolak Tawaran Karier Mentereng, Lebih Pilih Jadi Guru Kampung karena Terbayang Masa Lalu

10 Maret 2026
Ambisi beli mobil pribadi Toyota Avanza di usia 23 biar disegani. Berujung sumpek sendiri karena tetangga di desa cuma bisa iri-dengki dan seenaknya sendiri berekspektasi MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki

15 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.