Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Komen Status

Cara Arab Saudi Memanggil Uang ke Negaranya dan Menyaingi Dubai

Redaksi oleh Redaksi
8 November 2017
A A
reformasi-arab-saudi-mojok

reformasi-arab-saudi-mojok

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Reformasi Arab Saudi menjadi kabar internasional paling menarik saat ini.

Di Indonesia, bagi khalayak yang sudah terbelah, reformasi Arab Saudi memang dikecilkan sebagai bahan untuk saling mengejek. Reformasi sekuler Arab Saudi yang mengubah ideologi negara dari Wahabi menjadi moderat dijadikan senjata untuk menyerang fans Wahabi di Indonesia yang selama ini memuja Arab. “Indonesia yang moderat mau diubah jadi Wahabi, tuh lihat Arab yang sudah Wahabi malah mau jadi moderat,” kira-kira begitu ejekan dari anti-Wahabi Indonesia.

Lepas dari saling ejek tak berujung itu, yang menarik adalah memperhatikan aksi-aksi terbaru Pangeran Muhammad bin Salman, putra mahkota baru yang sejak penunjukannya terus memperlihatkan aksi mencengangkan.

Sabtu, 4 November 2017, Raja Salman mengumumkan pembentukan KPK baru Arab Saudi dan sang pangeran mahkota ditunjuk sebagai ketuanya. Di hari itu juga, komisi baru tersebut langsung menangkap 6 pangeran dan belasan pejabat tinggi karena tuduhan korupsi.

Penangkapan ini tidak main-main karena nama-nama yang cokok merupakan orang-orang kuat Saudi, salah satunya Pangeran Al Walid bin Talal bin Al Saud (62 tahun), investor, orang terkaya nomor 83 di dunia, sekaligus keponakan Raja Salman.

Selain itu, tersiar kabar bahwa Pangeran Abdul Aziz bin Fahd, putra raja Saudi yang bertakhta sebelum Raja Salman, Raja Fahd, tewas tertembak karena melawan saat hendak ditangkap komisi antikorupsi ini. Hingga saat ini, pemerintah Saudi membantah kabar tersebut. Saat ini, nama-nama yang ditangkap tersebut ditahan di Hotel Ritz-Carlton di Riyadh.

Apakah ini artinya Pangeran Muhammad bin Salman tidak segan-segan memainkan politik tangan besi untuk mencapai visi Arab Saudi 2030?

Berikut sejumlah catatan netizen Facebook tentang dinamika di Arab Saudi.

***

Dinar Zul Akbar: Nama-nama yang dicyduk KPK-nya Saudi, ada beberapa pangeran, petinggi kerajaan, dan pengusaha.

Uniknya Pak Waleed bin Thalal, salah seorang pangeran sekaligus pengusaha yang namanya terkenal bingits, masuk dalam daftar cyduk.

Hal ini membuktikan bahwa papa yang kemaren sakit lebih sakti mandraguna daripada orang khaya sejazirah Arab itu.

Amin Mudzakkir: Terima kasih kepada kapitalisme yang telah membuat rezim Saudi mau tak mau harus melakukan reformasi

Andrea Peresthu: Menantikan Saudi yang Kosmopolit

Iklan

Dulu waktu masih di TU Delft, saya pernah terlibat dalam penelitian tentang city competitiveness.

Suatu hari saya ke Dubai bertemu dengan salah satu kolega di dunia penelitian. Saya tanya apa sebenarnya strategi UAE membuat Dubai? Dan apa yg membuat Dubai lebih kompetitif di kawasan regional?

Dia menjelaskan sederhana saja: Dubai menawarkan keterbukaan dan cosmopolitanism yang tidak dimiliki negara seperti Saudi.

Cosmopolitanism identik dengan gaya hidup westernized, hyper-consumerism, dan hedonism semua elemen yg membuat Dubai menjadi berkembang dan lebih kompetitif.

Pasarnya ternyata mengagumkan. Mayoritas keluarga kaya di Iran, Saudi, Pakistan, dan negara sekitarnya hijrah ke Dubai. Mayoritas istri dan anak-anak mereka, sementara suami pulang-pergi ke negara asal dan Dubai untuk tetap mengurus bisnis mereka.

Otomatis sektor properti, hiburan, kesehatan, dan konsumsi menjadi hidup dan tumbuh secara pesat di Dubai.

Aglomerasi bisnis dan akumulasi kapital terjadi di UAE dalam hitungan satu dekade. Tak satu pun negara di Eropa yang sudah mapan bisa melakukan kapitalisasi secepat ini. Pemasukan negara pun tidak hanya tergantung dari minyak saja, sektor jasa memberikan porsi yang cukup signifikan.

Beberapa bulan terakhir, kita mendengar Saudi mulai menata diri, keterbukaan ditawarkan supaya orang yang punya uang lebih suka tinggal di Saudi ketimbang di Dubai. Karena lama-lama terlihat juga, bagaimana besarnya uang yang mengalir ke Dubai hanya karena mereka mampu menawarkan gaya hidup yang kosmopolitan, terbuka, dan menyenangkan.

Tidak hidup di bawah aturan sosial yang ortodoks! Menentukan etika dan dosa dalam perspektif yang sempit dan sektarian.

Hal yang sama dan sudah menjadi pemahaman publik soal Singapura. Dulu waktu masih kecil saya masih ingat, kalau belanja, di Singapura lebih murah dan tentu menawarkan westernized cosmopolitanism. Isinya ya sudah pasti kalangan menengah atas Indonesia, Filipina, Vietnam, dan negara lain di sekelilingnya yang belum mampu menawarkan cosmopolitanism, hedonism, dan hyper-consumerism.

Ketiga hal tersebut akan sangat menarik jika kita membaca blueprint “Saudi 2030 Vision”. Saya kaget tapi sekaligus kagum dengan Pangeran Muhammed bin Salman dengan segala visi dan aksinya untuk memajukan Saudi milenial.

Quo vadis Indonesia?

Terakhir diperbarui pada 9 November 2017 oleh

Tags: alwaleed bin talalArab Saudikomisi anti korupsikorupsipangeranpangeran muhammad bin salmanreformasi
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Ironi WNI Kerja di Arab Saudi: Melihat Teman Senasib yang “Pekok” Nggak Mau Pulang ke Tanah Air dan Nekat Melanggar Visa MOJOK.CO
Sehari-hari

Ironi WNI Kerja di Arab Saudi: Melihat Teman Senasib yang “Pekok” Nggak Mau Pulang ke Tanah Air dan Nekat Melanggar Visa

9 April 2026
OTT Wali Kota Madiun
Aktual

Warga Madiun Dipaksa Elus Dada: Kotanya Makin Cantik, tapi Integritas Pejabatnya Ternyata Bejat

20 Januari 2026
korupsi bikin buruh menderita. MOJOK.CO
Aktual

Korupsi, Pangkal Penderitaan Buruh dan Penghambat Penciptaan Lapangan Kerja

9 Desember 2025
bantul, korupsi politik, budaya korupsi.MOJOK.CO
Ragam

Budaya Korupsi di Indonesia Mengakar karena Warga “Belajar” dari Pemerintahnya

16 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gen Z kerja di desa untuk merawat ibu. MOJOK.CO

Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia

10 April 2026
Mio M3: Motor Yamaha Paling Menderita dan Dianggap Murahan MOJOK.CO

10 Tahun yang Indah Bersama Mio M3: Motor Yamaha yang Dianggap Murahan, Diremehkan Orang, dan Katanya Bikin Orang Menyesal

7 April 2026
Bangun rumah bertingkat 2 di desa pelosok Grobogan gara-gara sinetron MOJOK.CO

Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan

10 April 2026
Ribetnya lolos seleksi CPNS dan jadi PNS/ASN di desa: dibayangi standar hidup sukses yang merepotkan MOJOK.CO

Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi

8 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.