Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Survei BPS: Jomblo Lebih Sehat Mental daripada yang Udah Nikah

Redaksi oleh Redaksi
17 Oktober 2019
A A
Survei BPS: Jomblo Lebih Sehat Mental daripada yang Udah Nikah MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kaum jomblo ternyata lebih sehat mental daripada mereka yang sudah nikah. Tapi, bukankah katanya orang yang menikah bakal lebih bahagia, ya?

Anggapan yang bilang bahwa mereka yang sudah nikah sudah tentu berada dalam tahap kehidupan lebih baik dan tidak perlu lagi merasakan galau menunggu kepastian, sepertinya tidak bisa dipercaya mentah-mentah. Pasalnya, menurut data BPS Susenas 2018 yang dilansir dari Beritagar, ternyata para kaum jomblo atau lajang justru lebih sehat mental daripada mereka yang menikah atau telah bercerai—baik cerai hidup maupun cerai mati.

Menurut data tersebut, baik pada jenis kelamin laki-laki ataupun perempuan, urutan kelompok yang memiliki kondisi sehat mental paling baik adalah: mereka yang lajang, nikah, cerai hidup, dan yang terakhir cerai mati.

Melihat penderita yang mengalami gejala gangguan jiwa lebih banyak pada mereka yang nikah daripada yang jomblo, tentu ini semacam mendobrak anggapan yang selama ini berkembang di masyarakat. Sebuah anggapan yang terlalu getol mendorong orang-orang lajang untuk segera menikah supaya dapat mencapai kebahagiaan yang lebih namaste.

Mungkin pada sebagian orang, menikah memang dapat memberikan kebahagiaan yang lebih paripurna. Lebih memungkinkan bikin kondisi sehat mental jadi baik. Akan tetapi, pada sebagian orang yang lain, bisa jadi tidak seperti itu. Apalagi, prosesnya saat menuju dan menjalani pernikahan tidak dibarengi dengan pemahaman soal tanggung jawab baru yang kudu dilakoni dengan peran yang baru juga. Seolah-olah, dengan menautkan diri dengan si dia yang disebut-sebut sebagai belahan jiwa, itu langsung bisa menyelesaikan berbagai tuntutan dan persoalan yang terjadi. Mohon maaf nih, kan nggak gitu juga~

Tidak semua orang yang nikah betul-betul siap dengan peran dan tanggung jawab baru sebagai suami atau istri. Harus menghadapi dan bersinggungan dengan seseorang yang itu-itu lagi. Punya tuntutan finansial yang lebih besar. Punya tanggung jawab lebih besar untuk srawung ke tetangga yang nggak bisa terlalu bodo amat kayak waktu ngekos sendiri. Belum lagi kalau salah satu pasangan merasa “memiliki” sehingga bersikap semaunya sendiri. Tentu saja, kondisi tidak nyaman semacam ini berpotensi besar untuk menimbulkan gangguan sehat mental kita. Apalagi kalau kita tidak menyiapkan diri atas kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi.

Pernikahan memang keputusan yang harapannya sih bisa membawa kebahagiaan bagi setiap orang yang jalanin. Bisa membawa pengaruh positif baik secara psikologis, sosial, maupun ekonomi. Tapi ya, gitu. Ini bisa terwujud asalkan keduanya sama-sama punya kesiapan dan kesadaran tentang pentingnya peran masing-masing dan tetap memperlakukan pasangannya sebagai manusia. Bukan sebagai objek yang karena terikat dalam pernikahan jadi bisa diikat-ikat seenaknya. (A/L)

BACA JUGA Nggak Usah Ngaku Mengalami Gangguan Psikologis Kalau Cuma Bersumber dari Infografis atau artikel KILAS lainnya.

Terakhir diperbarui pada 17 Oktober 2019 oleh

Tags: gangguan jiwajomblokesehatan mentalmenikah
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

menikah dengan keluarga pasangan yang terlilit utang.MOJOK.CO
Sehari-hari

Menikah dengan Pasangan yang Keluarganya Terlilit Utang Bikin Serba Salah: Terlalu Cinta untuk Ditinggal, tapi Bikin Menderita Kalau Bertahan

8 Mei 2026
Zero post di Instagram cara hidup tenang Gen Z. MOJOK.CO
Urban

Gen Z Lebih Tenang Tanpa Feed Instagram (Zero Post), Aslinya Bukan Misterius Cuma Capek Mengejar Validasi dan Ingin Melindungi Diri

7 Mei 2026
Gen Z dihakimi milenial
Urban

Nasib Gen Z: Sudah Susah, Malah Serbasalah hingga Dicap “Gila” padahal Hadapi Krisis dan Hanya Mencoba Bertahan Hidup

30 April 2026
Hajatan, Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana, Nikah.MOJOK.CO
Sehari-hari

Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

26 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita Bisnis Laundry: Cuan 15 Juta Hilang karena Kebodohan MOJOK.CO

Pengalaman Bisnis Laundry yang Cukup Menyedihkan, Berharap Cuan Besar 15 Juta per Bulan tapi Cuma Dapat 3 Juta: Boncos karena Kebocoran-Kebocoran Sepele

4 Juni 2026
Dompet digital selamatkan pedagang UMKM. MOJOK.CO

4 Kiat Pedagang Es Campur dan Roti Kukus yang Tetap Laris di Tengah Situasi Pelik

3 Juni 2026
pekerja kantoran.MOJOK.CO

Akal-akalan “Kantor adalah Keluarga”, Menguras Mental dan Menggerogoti Karier

4 Juni 2026
Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara.MOJOK.CO

Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara

8 Juni 2026
Edi Dimyati. MOJOK.CO

Kisah Pustakawan Menyulap Rumahnya di Pinggir Sungai Jakarta Timur agar Bisa Nongkrong Kalcer sambil Baca Buku

8 Juni 2026
Godaan modifikasi motor Honda Vario 125 demi sinematik kebodohan soal harga jual di Facebook, berakhir jadi motor sampah dan jamet MOJOK.CO

Modifikasi Motor Honda Vario 125 Hasil Tabungan Ibu-Kakak demi Sinematik dan Kebodohan Harga Jual di FB, Berakhir Jadi Motor Jamet dan Sampah

7 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.