Suluk Gatoloco dan Serat Darmagandhul, Propaganda Belanda untuk Menumpas Islam di Jawa

Suluk Gatoloco dan Serat Darmagandhul, Propaganda Belanda Untuk Menumpas Islam di Jawa mojok.co

Suluk gatoloco dan serat darmagandhul (Foto: Republika.co.id)

MOJOK.COSuluk Gatoloco dan Serat Darmagandhul merupakan karya sastra Jawa kuno yang kontroversial. Keduanya terang-terangan menentang keberadaan Islam di Jawa.

Suluk Gatoloco merupakan karya sastra Jawa kuno yang muncul di Kediri pada awal abad 19. Manuskrip kuno yang sejak awal kemunculannya lekat dengan kontroversi. Gaya penulisannya sangat terbuka dan vulgar, sangat berbeda dengan karya-karya lain pada zaman itu.

Suluk ini merupakan karya gubahan dari Babad Kediri. Berisi narasi yang menentang bahkan mengolok-olok proses islamisasi di Tanah Jawa. Karya ini seolah mengatakan bahwa Islam merupakan agama yang keliru untuk masyarakat Jawa.

Suluk ini mengatakan Islam sebagai agama orang padang pasir yang Tuhannya tidak punya budi, berbeda dengan orang Jawa yang menganut agama budi atau Budha (kala itu). Seruan untuk kembali ke agama leluhur disuarakan melalui seorang tokoh bermuka jelek, berpenampilan buruk, bau, mesum, bermulut kotor, pengisap ganja dan opium. Sosok itu bernama Gatoloco.

Ada yang mengatakan “gato” sebagai kepala atau benda tersembunyi, lalu “loco” berarti alat yang digosok. Banyak yang mengartikan Gatoloco sebagai penis yang digosok.

Karya yang berusaha menjatuhkan Islam

Di sepanjang suluk ini, tokoh Gatoloco aktif mengolok-olok Islam. Salah satunya melalui peristiwa di mana ia berhasil mengalahkan 3 santri yang menjadi lawan debatnya, yakni Abdul Manaf, Abdul Jabbar, dan Abdul Arif.

Gatoloco bahkan dikisahkan berhasil mengalahkan tokoh Islam di Jawa, Kyai Hasan Besari–sang guru dari Ranggawarsita. Sebuah narasi kontroversial, sebab di serat dan babad yang menjadi sumber-sumber utama kami tidak pernah ada cerita semacam itu.

Kemudian, Gatoloco bertemu dengan musuh terakhirnya. Musuh debat yang bernama Dewi Perjiwati. Penamaan yang asosiasi bunyinya mengarah pada alat kelamin perempuan. Pertarungan keduanya memunculkan Gatoloco sebagai pemenang. Gatoloco kemudian memperistri Perjiwati.

Setelah berhasil berhubungan intim dengan Dewi Perjiwati, Gatoloco memproklamirkan dirinya sebagai Sang Budha yang telah tercerahkan budinya. Ia mendaku diri bergelar Kanjeng Gusti Kalamullah.

Baca halaman selanjutnya…
Kemunculan Serat Darmagandhul

Kemunculan Serat Darmagandhul

Pada 1879, muncul Serat Darmagandhul. Karya sastra Jawa yang berbentuk puisi tembang macapat. Bercerita tentang jatuhnya Majapahit akibat serbuan tentara Demak yang memperoleh bantuan dari Walisongo.

Serat ini merupakan narasi ulang Babad Kediri dan Suluk Gatoloco. Tokoh Gatoloco kembali muncul di sini, menjelma sosok bernama Ki Kalamwadi. Lalu, ada tokoh Darmagandhul yang namanya juga berkaitan dengan alat kelamin laki-laki. Darmagandhul, seseorang dengan “darma” atau tugasnya “gemandhul” atau bergelantungan.

Tokoh Darmagandhul kemudian menjadi kunci eksplorasi cerita yang lebih panjang dan kompleks Babad Kediri dan Suluk Gatoloco. Intinya sama: mengajak orang Islam di Jawa untuk kembali kepada agama leluhurnya.

Banyak spekulasi terkait kemunculan Serat Darmagandhul ini. Ada anggapan bahwa karya ini berkaitan dengan program misionarisme Kristen yang kala itu berkembang di Kediri. Sebab, di dalamnya terdapat seruan agar orang Jawa memeluk Kristen karena lebih dekat dengan agama leluhur.

Meski demikian, perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai hal tersebut.

Upaya propaganda pemerintah kolonial

Pasca-kekalahan Jawa dari Belanda di Perang Jawa pada 1830, pemerintahan kolonial memegang kepemimpinan politik di Jawa. Mereka lantas menciptakan lembaga pengetahuan baru bernama Javanologi di Surakarta. Tujuannya untuk mendefinisikan ulang kejawaan, membebaskan masyarakat dari pengaruh Islam.

Kemudian timbul perpecahan di tubuh masyarakat Islam di Jawa. Umat muslim terbelah identitasnya: abangan dan priayi. Peneliti naskah-naskah kuno Jawa, Nancy K. Florida mengatakan bahwa Belanda ingin mengajak orang Jawa kembali ke agama kunonya yang, bagi Belanda, lebih jinak dengan kekuasaan kolonial.

Proyek penelitian Javanologi pada zaman itu kemudian bersambut dengan program misionarisme Kristen yang saat itu berkembang di Kediri.

Babad Kediri, Suluk Gatoloco, dan Serat Darmagandhul menandai fase baru orang Jawa. Tiga karya yang merekam aspirasi sebagian orang Jawa yang hendak kembali ke agama leluhur. Keinginan yang sejalan dengan kepentingan pemerintah kolonial yang ingin meredam pemberontakan di Jawa.

NB: Artikel ini merupakan hasil penyaduran dari konten Jas Merah “SABDA PALON NAYAGENGGONG: PEMBELAH MASYARAKAT JAWA”. Tonton video lengkapnya di YouTube Mojokdotco.

Periset: Irfan Afifi
Penulis: Iradat Ungkai
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Menelusuri Jejak Sabda Palon dan Kebencian kepada Islam di Jawa Melalui Babad Kediri

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

Exit mobile version