Kunjungan duta besar Spanyol ke Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) membuka peluang kerja sama baru. Dari ekspor kerajinan, festival film, hingga rencana bikin sekolah pelatih sepak bola.
***
Sekretaris DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menyambut baik kehadiran Duta Besar Spanyol untuk Indonesia, Bernardo de Sicart Escoda di Wiyatapraja, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta pada Kamis (17/9/2026).
Awalnya, pertemuan ini menyoroti kerja sama yang telah terjalin antara Kedutaan Besar Spanyol dan UGM dalam pengajaran bahasa Spanyol, bahkan kini telah berkembang menjadi program studi tersendiri di UGM.
Setelahnya, Ni Made menawarkan potensi-potensi lain yang dimiliki Yogyakarta untuk dikolaborasikan bersama Pemerintah Spanyol. Salah satunya adalah industri kerajinan bambu dan perhiasan khas Yogyakarta, yang produknya telah lama menembus pasar Spanyol melalui jalur ekspor.
Wisata DIY menarik perhatian Spanyol
Tak hanya soal ekonomi kreatif, pesona wisata Yogyakarta pun turut ditawarkan sebagai peluang kerja sama. Peluang ini dibidik untuk menarik perhatian wisatawan dan investor dari Spanyol.
“Indonesia memiliki kekayaan budaya yang tidak dimiliki negara lain di Asia. Kami juga mempunyai museum, candi, hingga tempat bersejarah yang menarik untuk dikunjungi wisatawan,” ujar Ni Made.
Ni Made pun menyatakan, DIY menjadi daerah yang memiliki museum terbanyak di Indonesia, sekaligus peninggalan sejarah yang telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia.
Keduanya dinilai memiliki nilai tinggi untuk dijadikan sebagai bagian dari kerja sama lanjutan Spanyol dan DIY.
Potensi antar budaya DIY dan Spanyol
Menanggapi tawaran tersebut, Duta Besar Spanyol untuk Indonesia, Bernardo de Sicart Escoda langsung tersenyum. Ia mengapresiasi potensi dan keragaman budaya yang ada di Indonesia. Ia mengaku sangat tertarik untuk mempromosikan dan mendorong lebih banyak wisatawan Spanyol untuk datang ke Yogyakarta.
Dalam kesempatan yang sama, Bernardo juga menilai bahwa warisan budaya Indonesia, termasuk DIY sangat menarik untuk dikunjungi. Ia menekankan pentingnya kerja sama antar kedua belah pihak dalam hal promosi dan juga peningkatan potensi yang ada.
Bernardo menjelaskan Spanyol memiliki arkeolog yang bisa bekerja sama untuk melakukan study tour di museum ataupun tempat yang memiliki nilai sejarah yang kuat di DIY. Selama ini pun Spanyol juga kerap mengirimkan karya filmnya ke festival film di Jakarta dan mempertimbangkan akan menggelar festival film Spanyol di Yogyakarta ke depannya.
“Ya semacam cinepolis atau bioskop. Kita butuh bioskop, itulah yang saya sampaikan kepada penasihat budaya untuk merealisasikannya,” jelasnya.
Tertarik kerja sama di bidang olahraga
Yang tidak kalah penting dari semua itu, bidang olahraga juga turut dipertimbangkan untuk menjadi potensi kerja sama oleh Spanyol. Bernardo menilai olahraga di Indonesia khususnya sepak bola, telah berkembang belakangan ini. Di saat yang sama Spanyol juga memiliki sekolah pelatih sepak bola terbaik di dunia.
Selain itu, Bernardo turut mendukung Pemda DIY untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam bidang olahraga, khususnya di sekolah. Ia menilai sekolah memiliki peran lebih penting untuk mempromosikan olahraga, bukan klub yang masuk dalam sektor swasta.
Sumber: Humas Pemda DIY
BACA JUGA: Hadiah dari New Zealand untuk Sapi-sapi Betina di Yogyakarta karena Keterbatasan Lahan Peternakan di Jawa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
