ARTJOG 2026 Ars Longa: Generatio Resmi Berakhir, Panitia Janji Benahi Tata Kelola di Tahun Depan

Penutupan ARTJOG 2026 Ars Longa: Generatio di Jogja. MOJOK.CO

“Dengan kondisi masyarakat yang pada dasarnya sedang tidak baik-baik saja, saya merasa bahwa ARTJOG tidak luput dipandang sebagai bagian dari medan percakapan publik yang luas, di mana berbagai polemik berlangsung dengan gejolak sosial politik yang terus memanas hingga hari ini,” ujar kurator tamu, Farah Wardani, saat menutup rangkaian penyelenggaraan ARTJOG 2026 Ars Longa: Generatio di Jogja National Museum pada Minggu (30/8/2026).

***

ARTJOG 2026 Ars Longa: Generatio resmi mengakhiri rangkaian acaranya di Jogja National Museum pada Minggu (30/8/2026). Memasuki tahun ke-19, pelaksanaannya dimaknai sebagai ruang refleksi dan introspeksi yang mendalam.

ARTJOG pun kembali mengungkapkan apresiasinya atas kritik dan diskusi publik yang telah terbangun. Mereka memandang, dinamika yang telah terjadi baik pra maupun pas acara adalah bentuk kepedulian bersama demi ekosistem seni yang lebih baik.

Sebagai informasi, ARTJOG 2026 mengangkat tema kuratorial “Ars Longa Trilogiapada babak awal yang dirancang oleh kurator tamu Farah Wardani. Trilogi ini diproyeksikan untuk membaca relevansi seni di tengah perubahan sosial, politik, dan ekologi yang sedang terjadi dalam kehidupan kita melalui tiga subtema, yaitu Generatio (2026), Legatum (2027), dan Mundus (2028).

Karya di ARTJOG 2026 terhubung dengan isu nyata

Menutup edisi Generatio yang pertama, Wardani menyatakan bahwa seni kontemporer, termasuk ARTJOG, tidak dapat diisolasi dari ketegangan realitas di luar ruang pamer.

ARTJOG tahun ini, kata dia, telah mencerminkan hakikatnya sebagai seni peristiwa. Bukan hanya menjadi peristiwa untuk merayakan seni, tapi juga mampu membentuk kesadaran kolektif baru yang terbentuk dari pemaknaan ulang terhadap peran dan relevansinya.

Kurator tamu, Farah Wardani. MOJOK.CO
Kurator tamu, Farah Wardani, saat menutup rangkaian penyelenggaraan ARTJOG 2026 Ars Longa: Generatio di Jogja National Museum. (sumber: ARTJOG 2026)

“Saya memandang bahwa karya-karya di ARTJOG beresonansi dan berkorelasi secara langsung dengan berbagai isu nyata dalam gejolak masyarakat, mulai dari kritik ataupun perbedaan persepsi. Kondisi ini, menurut saya, adalah sebuah proses membangun kesadaran kolektif baru yang memang rasanya tidak nyaman atau bahkan kadang menyakitkan,” ujarnya dikutip dari keterangan resmi, Minggu (30/8/2026) malam.

“Dengan kondisi masyarakat yang pada dasarnya sedang tidak baik-baik saja, saya merasa bahwa ARTJOG tidak luput dipandang sebagai bagian dari medan percakapan publik yang luas, di mana berbagai polemik berlangsung dengan gejolak sosial politik yang terus memanas hingga hari ini,” lanjutnya.

 Otokritik terhadap ARTJOG 2026 sebagai kesadaran kolektif

Menyambung refleksi yang disampaikan kurator dan beberapa seniman yang hadir, rekan-rekan supporting staff ARTJOG 2026 juga menyampaikan aspirasi mereka sebagai garda depan dalam melayani pengunjung selama lebih dari dua bulan.

Pernyataan sikap ini menekankan pentingnya ruang aman dan keterbukaan dalam menghadapi tantangan yang dihadapi selama penyelenggaraan. Menanggapi hal tersebut, Direktur ARTJOG, Heri Pemad, menyampaikan rasa terima kasih dan penghormatan setinggi-tingginya kepada kurator, para seniman, dan seluruh tim kerja yang telah mendedikasikan energi mereka bagi keberlangsungan festival ini.

Direktur ARTJOG, Heri Pemad. MOJOK.CO
(sumber: ARTJOG 2026)

“Prinsip utama kami adalah tetap mengupayakan ruang yang representatif bagi pemikiran para seniman, sekaligus menjaga keberlanjutan kerja para pelakunya. Apa yang terjadi pada kami juga merupakan otokritik terhadap kondisi ekosistem seni kita hari ini,” ujar Heri.

Heri pun mengapresiasi setiap diskusi yang terbangun sebagai wujud kepedulian bersama. Sebab, kata dia, tanpa kepercayaan seniman dan kepedulian publik, ARTJOG akan kehilangan maknanya.

Janji akan benahi tata kelola di tahun depan

ARTJOG 2026 pun diakhiri dengan penampilan grup musik White Shoes and The Couples Company, serta pertunjukan musik elektronik Les Garçons Aux Chaussures Blanches, yang menghantarkan semua hadirin ke suasana hangat.

Menyambut usia ke-20 tahun pada 2027 di Jogja mendatang, ARTJOG berkomitmen untuk membenahi tata kelolanya sebagai festival demi menciptakan pengalaman estetika terkini dalam ruang yang lebih matang, inklusif, kritis, dan berpihak pada ekosistemnya. 

Komitmen ini selaras dengan tema “Legatum” yang akan diusung. Menandai dua dekade perjalanannya, edisi ARTJOG berikutnya akan mengeksplorasi gagasan warisan yang berkaitan dengan nilai-nilai seni rupa dan warisan budaya global hingga wacana historis bagi generasi mendatang.

ARTJOG menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh seniman, pekerja kreatif, pendukung, mitra kerja, media, dan masyarakat luas yang terus mengawal dan mendampingi perjalanan festival ini. Sampai jumpa tahun depan di ARTJOG 2027 ARS LONGA: LEGATUM.

BACA JUGA: Ragam Karya dan Pertunjukan dalam “Ars Longa: Generatio” sebagai Pembuka Trilogi Seni ARTJOG atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 1 September 2026 oleh .

Artikel Advertorial

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.