MOJOK.CO, YOGYAKARTA – Kita punya Hari Buku Nasional. Kita punya hari untuk merayakan membaca. Namun, di antara buku dan membaca, ada sebuah ruang yang mempertemukan keduanya: toko buku.
Berangkat dari kesadaran itu, Jakal Bookshop Fest mengusulkan 30 Agustus sebagai Hari Toko Buku.
Usulan ini lahir dari manifesto “Pengabdi Toko Buku”, sebuah upaya untuk merumuskan kembali mengapa toko buku perlu ada dan mengapa ia perlu dirawat. Bagi para penggagasnya, toko buku bukan sekadar tempat menjual buku, melainkan sesuatu yang dilayani—sebuah panggilan yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Hari Toko Buku tidak dimaksudkan sebagai tambahan perayaan dalam kalender literasi. Ia adalah pengingat bahwa budaya membaca tidak tumbuh dengan sendirinya. Buku membutuhkan tempat untuk bertemu dengan pembacanya; dan toko buku, dengan segala keterbatasan dan upayanya, adalah salah satu ruang yang memungkinkan perjumpaan itu terjadi.

Merayakan yang Beragam
Jakal Bookshop Fest mencoba menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam sebuah festival. Selama 11 hari, 20–30 Agustus 2026, sebanyak 14 toko buku di sepanjang Jalan Kaliurang hadir dengan koleksi, komunitas, program, dan wataknya masing-masing.
Festival ini dibangun dengan gotong royong, partisipatif, dan tidak terpusat di satu tempat. Pengunjung justru diajak berpindah dari satu toko ke toko lain, singgah, menjelajah, dan menemukan sesuatu yang mungkin tidak sedang mereka cari. Sebuah jalan dapat menjadi rak buku yang panjang.
Cara ini berangkat dari keyakinan bahwa yang terpusat dan yang seragam itu membosankan. Sebuah kawasan buku justru hidup karena terdiri dari banyak toko dengan banyak watak, selera, kelebihan, dan kekurangannya masing-masing.
Karena itu, Hari Toko Buku juga bukan tentang satu model toko buku yang harus diikuti bersama. Ia adalah perayaan atas keberagaman cara toko buku tumbuh dan bertahan.
Toko Buku Lain adalah Teman
Di balik gagasan tersebut ada satu keyakinan yang sederhana: toko buku tidak harus saling berebut pembaca.
Dalam manifesto Pengabdi Toko Buku, toko buku lain adalah teman. Pembaca yang tidak menemukan bukunya di satu toko dapat diantar ke toko lain. Sebab ketika satu toko hidup, toko buku lain juga seharusnya hidup.
Jakal Bookshop Fest mencoba menjadikan keyakinan itu sebagai cara kerja. Empat belas toko buku berkumpul bukan untuk menyeragamkan diri, melainkan untuk saling menguatkan. Mereka datang dengan apa yang dimiliki, membuka ruang sesuai kemampuannya, dan memberi kesempatan bagi pembaca untuk mengenali lebih banyak toko buku.
Tanggal 30 Agustus dipilih bertepatan dengan penutupan Jakal Bookshop Fest. Bukan semata karena ia menandai berakhirnya festival, tetapi karena ia menjadi penanda bahwa keberlangsungan toko buku dapat diperjuangkan melalui kerja bersama, tanpa harus menghilangkan perbedaan yang membuat setiap toko memiliki wataknya sendiri.
Hari Toko Buku, dengan demikian, diharapkan tidak berhenti sebagai selebrasi tahunan. Ia menjadi pengingat untuk terus merawat ekosistem toko buku dan memperpanjang umurnya melalui berbagai bentuk gotong royong.
Sebuah Hari untuk Toko Buku
Jakal Bookshop Fest mengajak toko buku, pembaca, penulis, penerbit, komunitas, dan siapa pun yang mencintai buku untuk turut merayakan 30 Agustus sebagai Hari Toko Buku, dengan cara dan keyakinannya masing-masing.
Bagi setiap insan yang terlibat di Jakal Bookshop Fest, setiap hari sebenarnya adalah perayaan toko buku.
Namun, Jakal Bookshop Fest ingin menetapkan satu hari untuk mengingat bahwa di antara buku dan pembaca, ada ruang yang mempertemukan keduanya. Ruang yang perlu terus hidup, tumbuh, dan dirawat.
“Kami mengajak kepada siapa pun yang mencintai dan yang beriman, untuk bersama-sama mengimani bahwa tanggal 30 Agustus sebagai Hari Toko Buku. Untuk bersama-sama merayakan toko buku dengan cara dan keyakinan masing-masing setiap tanggal 30 Agustus.” Tulis Jakal Bookshop Fest.***(Adv)
BACA JUGA: Sejarah Sastra Indonesia Tak Cuma Milik Buku-buku yang Dianggap Penting atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan