Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Mengatasi Polusi Udara Jakarta Kok Cuma Pakai Lidah Mertua?

Redaksi oleh Redaksi
30 Juli 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Jakarta ranking satu kota dengan polusi udara terburuk di dunia. Sementara Pemprov DKI, ngasih solusi dengan rencana bagi-bagi tanaman lidah mertua.

Selamat datang di kota metropolutan!

Iklan

Kalau kamu ke Jakarta dengan mengendarai pesawat, pasti akan tampak betul udara Jakarta yang terlihat butek, alias abu-abu. Jelas, ini menunjukkan kalau udara di Jakarta sudah keterlaluan nggak sehatnya. Apalagi udaranya memang semakin memburuk dan kembali menempati ranking satu polusi udara terburuk di dunia (pada Senin, 29/07).

Salah satu hal yang sedang direncanakan oleh Pemprov DKI adalah dengan membagikan tanaman lidah mertua. Katanya sih, tanaman ini diklaim bisa menangkal polusi udara di Jakarta yang akhir-akhir ini semakin buruk.

Rencana aksi bagi-bagi tanaman dari pemerintah yang niatnya untuk mengajak masyarakat lebih aware dengan persoalan polusi udara, harusnya bikin masyarakat tertarik untuk melakukan hal yang serupa, dong? Akan tetapi, ketika ditanyakan pada beberapa pedagang tanaman, mereka menyebut belum ada peningkatan signifikan terkait minat warga untuk membeli tanaman lidah mertua. Meski ada pula yang memutuskan membeli dengan alasan untuk menangkal polusi udara.

Hadeeeh, kalau dipikir-pikir, Pemprov DKI ini aneh juga, ya. Polusi udara kok ditanganinya cuma pakai tanaman lidah mertua atau hujan buatan? Masak soal kayak gini aja, mereka nggak paham-paham juga, sih? Sudah jelas-jelas harus diatasi dengan suatu kebijakan yang besar. Dua diantaranya adalah dengan mengurangi jumlah kendaraan bermotor dan mengatasi polusi  udara yang datangnya dari pabrik-pabrik itu!

Btw, mereka yang kurang update atau gimana, yak? Kenapa kok ya nggak belajar sama Greta Thunberg? Mungkin kalau Greta tahu kebijakan yang dilakukan Pemprov Jakarta, dia cuma bisa bilang, “Nggak habis pikir mengapa manusia tidak melakukan upaya berarti untuk membuat lingkungan hidup jadi lebih baik.”

Aktivis iklim berusia 16 tahun ini saja paham. Kalau dengan mengajak orang tuanya untuk menjadi vegan, tidak berpergian dengan menggunakan pesawat, dan membeli mobil elektrik yang hanya digunakan untuk keperluan mendesak, adalah satu jalan “sederhana” yang dia tempuh untuk turut menjaga iklim global di ruang lingkup keluarganya.

Untuk membuat lebih banyak orang aware dengan kondisi yang sedang tidak baik tersebut, dia rela melakukan pemogokan sekolah untuk demo di depan parlemen Swedia—setiap hari Jumat. Baiknya, aksinya itu menginspirasi ribuan anak sekolah untuk turut melakukan aksi melawan perubahan iklim di hampir seluruh dunia. Seperti Jerman, Belgia, Inggris, Perancis, Australia, dan Jepang. Lantaran dilakukan setiap hari Jumat, gerakan tersebut kemudian dinamakan Fridays for the Future atau dikenal dengan tagar #FridaysforFuture di media sosial.

Bagaimana Bapak Anies, kira-kira kepikiran kebijakan yang lebih “besar” lain biar nggak jadi juara satu soal polusi udara? (A/L)

Terakhir diperbarui pada 5 September 2019 oleh

Tags: greta thunbergjakartaLidah Mertuapolusi udara
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO
Urban

10 Tahun Merantau Bikin Sadar, Kita Benar-benar Sendiri di Kota Orang: Adanya Teman “Benalu” dan Kalau Susah pun Haram Diketahui Ortu

3 Agustus 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO
Urban

Desa adalah Tempat Ideal Buat Nine to Five: Gaji “Utuh”, Mental Sehat, asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

28 Juli 2026
Lulusan s2, susahnya legalisir ijazah setelah wisuda.MOJOK.CO
Sekolahan

Nasib Lulusan S2 di Jakarta: Kuliah Dianggap Nggak Guna karena Kalah Saing dengan Tamatan SMA, tapi Tetap Merasa Bangga

23 Juli 2026
Lulus SMA nekat kerja ke Jakarta untuk jadi cleaning service. MOJOK.CO
Urban

Modal Ijazah SMA Kerja Jadi Cleaning Service di Jakarta demi Lulus Sarjana, Kini Pilih Resign untuk Keliling Indonesia

22 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Olive Chicken di Jogja sama saja dengan Karen Chicken di Surabaya. MOJOK.CO

Olive Chicken Menyelamatkan Lidah Orang Surabaya dari Kuliner Khas Jogja yang Overrated

6 Agustus 2026
Natalius Pigai Menyarankan Buku Karangan Orang Barat, Baiklah Saya Pilihkan MOJOK.CO

Natalius Pigai Menyarankan Buku Karangan Orang Barat, Baiklah Saya Pilihkan

10 Agustus 2026
Konferensi pers menuju lima tahun Cherrypop sebagai lebaran skena MOJOK.CO

Cherrypop 2026: 5 Tahun Lebaran Skena, Jeda, dan Cerita-cerita di Balik Panggung yang Ubah Jalan Hidup Banyak Orang

10 Agustus 2026
Andai ormas-ormas lain seperti Yakuza Maneges Kediri. Bukan tukang malak tapi garda depan berantas kekerasan seksual di pondok pesantren MOJOK.CO

Andai Ormas Lain seperti Yakuza Maneges Kediri: Dulu Dihina tapi Buktikan Sangat Berguna

5 Agustus 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta godok aturan pelarangan perdagangan HPR. MOJOK.CO

Yogyakarta bakal Susul Korea Selatan, Larang Perdagangan Daging Anjing demi Cegah Penyakit Menular

4 Agustus 2026
Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman meluncurkan aplikasi Gandheng ATS untuk atasi masalah anak putus sekolah MOJOK.CO

Sleman Punya Aplikasi Pencegahan Dini Anak Tidak Sekolah

5 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.