Mengenal Apa Itu Inflasi yang Sering Kali Ditakuti

ekonomi

MOJOK.COAkhir-akhir ini sering kita mendengar kata inflasi diucapkan oleh para ahli ekonomi. Laju inflasi yang tak terkendali disebut-sebut sebagai salah satu penyebab terjadinya resesi. Namun sebetulnya apa sih pengertiannya? 

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) disebut menjadi biang kerok meningkatnya inflasi di September 2022. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi September 2022 naik 1,17% dibanding Agustus 2022. Kenaikan ini menjadikan laju inflasi Januari-September 2022 sebesar 4,84%.

Kalau dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu atau September 2021, saat itu laju inflasi mencapai 5,95%. Angka tersebut tergolong besar dibanding catatan-catatan sebelumnya. Akan tetapi, pemerintah mengklaim angka bulan September tahun ini lebih baik dibanding perkiraan sebelumnya yaitu di atas 6%.

Namun, sejatinya apa sih yang dimaksud inflasi? berikut ini penjabarannya.

Pengertian

Dikutip dari laman resmi Bank Indonesia (BI), inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi. Kecuali, kenaikan itu meluas atau mengakibatkan kenaikan harga pada barang-barang lainnya.

Sementara, Badan Pusat Statistik (BPS) mendefinisikannya sebagai kecenderungan naiknya harga barang dan jasa yang pada umumnya berlangsung secara terus menerus. Kenaikan harga barang dan jasa itu menyebabkan nilai mata uang turun. Dengan demikian, inflasi dapat juga diartikan sebagai penurunan nilai uang terhadap nilai barang dan jasa secara umum.

Penyebab

Ada beberapa pemicu inflasi. Pertama, demand pull inflation yang timbul karena permintaan barang atau jasa lebih tinggi dari yang bisa dipenuhi oleh produsen. Ini menggambarkan adanya peningkatan pendapatan masyarakat sehingga daya beli turut menguat.

Kedua, cost push inflation yang timbul karena adanya kenaikan biaya produksi sehingga harga penawaran barang naik. Faktornya bisa beragam, mulai dari depresiasi nilai tukar, dampak inflasi luar negeri terutama negara-negara mitra dagang, serta peningkatan harga komoditas yang diatur pemerintah. Lalu, terjadinya bencana alam dan terganggunya rantai distribusi yang menimbulkan ketiadaan pasokan

Bisa juga campuran dari keduanya (demand pull inflation dan cost pull inflation) yang disebut bottle neck inflation.

Melihat konteks saat ini, inflasi yang terjadi di berbagai negara saat ini dipicu oleh cost push inflation. Konflik antara Rusia dan Ukraina membuat harga komoditas meroket yang berujung pada kenaikan harga.

Bagaimana dampaknya?

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, inflasi tidak melulu pertanda buruk. Inflasi yang rendah dan stabil  merupakan prasyarat pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. Persoalannya saat ini, angka di berbagai negara, termasuk Indonesia tergolong tinggi dan tidak stabil.

Apabila tidak diatasi, kondisi ini bisa berdampak buruk pada perekonomian. Pertama, bisa terjadi penurunan pendapatan riil masyarakat. Standar hidup masyarakat akan ikut turun sehingga menjadikan semua orang, terutama orang miskin semakin bertambah miskin.

Kedua, menciptakan ketidakpastian bagi pelaku ekonomi dalam mengambil keputusan. Pengalaman menunjukkan, inflasi yang tidak stabil akan menyulitkan keputusan masyarakat dalam melakukan konsumsi, investasi, dan produksi, yang pada akhirnya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi.

Ketiga, tingkat inflasi domestik yang lebih tinggi dibanding dengan negara lain akan menjadikan tingkat bunga domestik riil tidak kompetitif. Ujungnya, dapat memberikan tekanan pada nilai Rupiah.

Pakar menyebut, inflasi yang terjadi saat ini akan menggiring negara-negara memasuki jurang resesi. Sebabnya, demi mengendalikan inflasi, bank sentral berbagai negara akan menaikkan suku bunga acuan. Peningkatan suku bunga acuan akan menahan masyarakat untuk melakukan konsumsi, sehingga perlambatan ekonomi pun tidak terhindarkan lagi.

Walau begitu, Indonesia diperkirakan akan menjadi salah satu negara yang bakal tahan menghadapi gejolak ekonomi ke depan. Perekonomian Indonesia memang akan melambat, tetapi tidak akan berujung pada resesi seperti negara-negara lain.

Penulis: Kenia Intan
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Resesi, Ini Tips Investasi Agar Tetap Aman

Exit mobile version