Menanti Jalur Kereta Api Bersejarah Semarang–Lasem Aktif Kembali, Dulu Pusat Perdagangan di Pulau Jawa

kereta api semarang-lasem mojok.co

Stasiun Lasem (Oleh Rizal Febri Ardiansyah/Wikipedia)

MOJOK.CORencana pengaktifan kembali atau reaktivasi jalur Kereta Api (KA) Semarang-Lasem sempat mencuat beberapa kali. Masyarakat menanti jalur sepanjang 100 kilometer yang sudah puluhan tahun itu hidup kembali karena memudahkan akses mengunjungi Lasem. 

Lasem yang berada di pesisir utara pulau Jawa itu memang memiliki daya tarik. Kecamatan yang terkenal dengan sebutan Little Chinatown itu menyisakan percampuran budaya Jawa, Timur Tengah, Eropa, dan yang paling ketara adalah Tionghoa. Asal tahu saja, saat Indonesia masih bernama Hindia-Belanda, Lasem merupakan pusat perdagangan yang sangat ramai.

Tidak heran pemerintah kemudian menjadikan Lasem sebagai Kota Pusaka yang bertumbuh menjadi kawasan wisata sejarah. Berbagai infrastruktur untuk mempermudah akses menuju Tiongkok Kecil ini pun dipermudah, salah satunya melalui rencana reaktivasi jalur KA Semarang-Lasem. 

Hanya saja, mengaktifkan kembali jalur yang sudah tidak berfungsi sejak 1989 bukanlah perkara mudah. Sebagian besar rel sudah digunakan sebagai bangunana pertokoan atau perumahan. Sempat disebutkan, apabila reaktivasi dilakukan, hanya 30 persen jalur yang menggunakan rel lama. Sementara 70 persen lainnya harus menggunakan jalur baru. 

Sebenarnya jalur KA Semarang-Lasem merupakan bagian dari jalur kereta api yang dibangun oleh Semarang Joana Stoomtram Maatschappij (SJSM). Perusahaan Belanda itu bertanggung jawab membangun jalur yang membentang dari Semarang ke arah timur sampai Jatirogo, Tuban, Jawa Timur. 

Pada saat itu akses yang menghubungkan kota pelabuhan Semarang dengan kota-kota di pantai utara Jawa seperti Demak, Kudus, Pati, Juwana, dan Rembang sangat penting. Jalur itu membantu distribusi hasil bumi seperti kopi, kapas, tembakau, tebu, dan kayu jati, maupun hasil laut, misalnya garam dan ikan, dapat diangkut dengan lebih cepat. Selain itu, jalur juga difungsikan untuk mengangkut penumpang. 

Stasiun Lasem bercorak Tionghoa

Tidak hanya rel yang sebagian besar harus ganti, stasiun di Lasem pun perlu banyak perbaikan. Stasiun yang terletak di Kelurahan Dorokandang, Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang itu kini beralih fungsi sebagai lahan parkir tidak resmi. Bangunannya pun tampak tidak terurus. 

Padahal kalau diamati dengan seksama, Stasiun Lasem punya arsitektur bangunan khas China daratan dengan lengkung manis di atapnya. Di beberapa sisi terdapat ornamen-ornamen seperti piring-piring porselen bergambar burung Phoenix, Naga atau Dewa. Stasiun ini mencerminkan akulturasi dan asimilasi budaya Tionghoa dan Jawa yang kental. 

Stasiun Lasem sendiri dibangun pada 1983 hingga 1990 dengan luas mencapai bangunan Stasiun dan Overkappingnya 70 meter persegi diatas tanah seluas 29.930 meter persegi. Pada 1989, Stasiun Lasem terpaksa ditutup karena dianggap tidak efisien. Masa itu merupakan waktu kejayaan bus sehingga tidak sedikit angkutan umum yang melewati lasem. Stasiun Lasem kini ditetapkan sebagai salah satu bangunan cagar budaya Berdasar UU No 11 tahun 2010. 

Penulis: Kenia Intan
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Nostalgia Kereta Api Lembah Serayu, Penghubung Cilacap-Wonosobo yang Penuh Kenangan

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

Exit mobile version