Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Berkah yang Terasa dari Waisak 2025 di Candi Borobudur

Redaksi oleh Redaksi
11 Juni 2025
A A
Berkah Waisak 2025 bagi Candi Borobudur Magelang MOJOK.CO

Potret festial lampion dalam perayaan Waisak 2025 di Candi Borobudur, Magelang, Senin (12/5/2025) malam. (Gambar: InJourney)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ribuan lampion yang bertabur di langit Magelang, Jawa Tengah pada Senin (12/5/2025) malam WIB, menandai puncak perayaan Hari Suci Waisak 2569 BE di kawasan Taman Wisata Candi Borobudur.

Setelahnya para pengunjung—terutama umat Buddha—beranjak pulang dengan perasaan bungah dan wajah semringah. Beberapa yang lain nampak sendu, seperti berharap waktu berhenti sekaligus berputar di hari itu saja: Hari Waisak. Hari yang terasa damai sekali.

Ingin lekas kembali ke Candi Borobudur

Kepada Mojok, mayoritas pengunjung Candi Borobudur—dari beragam usia, gender, latar belakang ekonomi, dan daerah—menyatakan berminat betul merasakan kedamaian Waisak semacam itu lagi.

Mereka berdoa dan memang sangat ingin bisa kembali di perayaan yang sama di tahun berikutnya. Sekalipun bagi mereka yang berasal dari luar Jawa Tengah bahkan mancanegara.

Garda Maya dan Mojok Institute menemui 220 pengunjung selama dua hari perayaan Waisak: Minggu (11/5/2025) dan Senin (12/5/2025). Dari jumlah itu, 94,1% dari mereka—baik yang baru pertama kali maupun yang sudah pernah ke Candi Borobudur—mengungkapkan rasa puasnya terhadap perayaan Waisak 2025.

Waisak 2025. MOJOK.CO
Detik-detik menerbangkan lampion di Candi Borobudur. (Sumber: InJourney)

Pasalnya, Waisak menjadi momen kehadiran para biksu dari berbagai daerah, termasuk yang fenomenal adalah kedatangan para biksu dari Thailand dengan jalan kaki. Kehadiran para biksu dari Thailand itu menjadi daya tarik bagi pengunjung.

Selain itu, di momen Waisak 2025 juga menyajikan beragam rangkaian acara yang memanjakan pengunjung selain persoalan berfoto ria. Dari acara berbasis ritual-spiritual, bakti sosial, hingga puncaknya adalah festival lampion.

Lebih-lebih untuk festival lampion itu. Tidak hanya menyedot antusiasme pengunjung Waisak saja. Animonya menjalar hingga ke masyarakat sekitar.

Di luar kawasan Candi Borobudur, jalanan Magelang menjadi penuh sesak manusia. Masyarakat sekitar tengah hunting spot terbaik untuk menyaksikan lampion-lampion yang bertaburan langit Magelang.

Penginapan ketiban berkah Waisak 2025

Merujuk data Injourney Destination Management (IDM)—anak perusahaan PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero)—selaku pengelola Candi Borobudur, tercatat adanya peningkatan jumlah pengunjung Candi Borobudur saat puncak Waisak 2025 sebesar 25%.

Pada 2024 lalu, total pengunjung di hari puncak ada di angka 36.000-an pengunjung. Sementara untuk 2025 ini totalnya mencapai 45.914 pengunjung.

Jika ditotal dalam rentang 1-13 Mei 2025 (periode Waisak 2025), jumlah pengunjung mencapai 100.000 orang.

Gelombang pengunjung tersebut secara langsung memberi berkah bagi pelaku bisnis penginapan di sekitar kawasan Candi Borobudur, Magelang.

Garda Maya dan Mojok Institute mengunjungi 21 penginapan—hotel dengan berbagai lapisan bintang, homestay, guest house—dalam radius 3-5 kilometer dari kawasan Candi Borobudur. Mayoritas pengelola menyatakan adanya peningkatan okupansi hingga 100%.

Iklan
Ketika Candi Borobudur di Magelang Berubah Jadi Rumah Spiritual yang Inklusif. MOJOK.CO
Para bhikku beribadah di sekitar Candi Borobudur, Magelang. (Sumber: InJourney)

Mayoritas penginap mengaku datang khusus untuk mengikuti acara Waisak 2025. Tidak hanya tamu domestik, 10 dari 21 penginapan mengaku menerima tamu dari mancanegara, dengan durasi inap rata-rata 3 malam bahkan lebih.

“Ini kali pertama ke Borobudur. Sebelumnya cuma lihat di medsos dan berita, yang biksu Thailand datang khusus ke Borobudur buat mengikuti Waisak. Jadi tertarik buat melihat langsung, pengin merasakan suasananya bagaimana,” begitu pengakuan Meli (36), salah satu pengunjung dari Jawa Barat.

Dia mengaku menginap di hotel sekitaran kawasan Candi Borobudur selama tiga hari agar bisa menikmati rangkaian momen Waisak di Candi Borobudur.

“Waisak di Borobudur sudah jadi perhatian negara luar. Saya datang untuk melihat candi yang menakjubkan. Lalu melihat suasana sakral Waisak yang menghadirkan banyak biksu, bahkan ada yang dari Thailand,” sementara begitulah kata Juavalupi, wisatawan mancanegra jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Juavalupi mengaku menginap selama dua hari di hotel sekitaran Candi Borobudur. Waisak di Candi Borobudur adalah agenda pertama yang dia tuju selama berlibur di Indonesia, sebelum akhirnya bertolak ke destinasi wisata lain.

Melarisi UMKM di kawasan Candi Borobudur

Ketika memasuki kawasan Candi Borobudur, secara sistem para pengunjung diarahkan melewati Kampung Seni Borobudur (KSB): ruang bagi para pelaku UMKM lokal untuk menjajakan produk mereka.

Sistem itu pada akhirnya menarik perhatian pengunjung untuk mampir, untuk belanja oleh-oleh.

Dari ribuan pelaku UMKM yang menempati KSB, Garda Maya dan Mojok Institute menyimak cerita dari 51 di antaranya. Dari 51 pelaku UMKM itu, 37,25% menjual kerajinan tangan, 31,37% busana, dan 21,57% kuliner. Sisanya adalah produk-produk lokal lain yang beraneka ragam.

Gelombang pengunjung di Candi Borobudur, Magelang, selama masa Waisak 2025 diakui mereka berdampak pada dua hal: peningkatan jumlah pengunjung yang secara otomatis diikuti kenaikan pendapatan.

Fathurrohmah, salah satu pedagang pakaian di KSB menyebut, Waisak menjadi salah satu dari tiga high season (selain libur Nataru dan libur sekolah) yang sangat berdampak bagi pedagang. Pasalnya, di tiga momen ini terjadi lonjakan pengunjung yang signifikan.

“Tiga periode itu panen-panennya, Mas. Jualan dua minggu bisa buat nutup berbulan-bulan. Besar banget hasilnya,” jelasnya.

KSB.MOJOK.CO
Banyak warga lokal Kecamatan Borobudur yang menggantungkan nasib di KSB. (Mojok.co/Aisyah A. Wakang)

Rata-rata persentase kenaikan pendapatan bagi pedagang UMKM di KSB adalah sekitar 66.41%. Jika rata-rata pendapatan harian mereka di hari biasa adalah Rp80,196.08, di momen Waisak bisa mencapai Rp174,509.80 perhari.Kerajinan tangan seperti gantungan kunci stupa, asbak, menjadi produk terlaku selama masa Waisak 2025.

Selaras dengan pengakuan pelaku UMKM di KSB, 220 pengunjung yang Garda Maya dan Mojok Institute temui sebelumnya memang mengaku tertarik dengan keberadaan KSB. Pasalnya, selain menawarkan aneka produk menarik untuk oleh-oleh, harga produk yang dipatokpun juga ramah di kantong.

Efek berganda bagi ekonomi sekitar

Terpisah, Direktur Utama InJourney, Maya Watono menyebut, pihaknya memang menekankan bagaimana Candi Borobudur bisa memberi dampak signifikan bagi ekonomi lokal.

“Ini merupakan inisiasi yang senantiasa ditekankan oleh InJourney, yakni setiap destinasi pariwisata yang ada harus mampu memberikan efek berganda para perekonomian sekitar,” ujarnya.

Lanjut Maya, InJourney tak hanya berorientasi pada profit, tapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dan memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia.

“Salah satunya dengan mendorong kesejahteraan masyarakat melalui perputaran roda perekonomian dari penyelenggaraan event-event besar seperti Waisak, sehingga menciptakan kemakmuran yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia,” ungkap Maya.

Hal ini dikuatkan oleh Direktur Utama InJourney Destination Management, Febrina Intan. Kata Febrina, dalam konteks Candi Borobudur, Magelang, pihaknya memang menaruh fokus pada dampak sosial dan ekonomi.

“Kami harus membangun ekosistem pariwisata yang sehat dan berkesinambungan, bukan mementingkan kepentingan pribadi,” tegasnya.***(Adv)

BACA JUGA: Coba-coba Naik Stairlift di Candi Borobudur, Bakal Jadi Fasilitas Permanen? atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

Terakhir diperbarui pada 11 Juni 2025 oleh

Tags: borobudurcandi borobudurmagelangWaisak
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Aksi tanam 100 pohon gayam di sekitar Candi Borobudur, Magelang. MOJOK.CO
Lipsus

Hubungan Istimewa di Balik Pohon Gayam sebagai “Tanaman Peneduh” dan Candi Borobudur

23 April 2026
Gaji Jakarta 12 Juta Bikin Gila, 3 Juta di Magelang Hidup Waras MOJOK.CO
Cuan

Daripada Menyiksa Diri Hidup di Jakarta dengan Gaji 12 Juta Sampai Setengah Gila, Pindah ke Magelang dan Hidup Waras Cukup dengan Gaji 3 Juta

16 April 2026
Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang MOJOK.CO
Esai

Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

20 Maret 2026
Imlek 2026 di Candi Prambanan dan Candi Borobudur. MOJOK.CO
Kilas

Tahun Kuda Api Imlek 2026: Mencari Hoki Lewat Kartu Tarot di Antara Kemegahan Prambanan dan Borobudur

15 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa S2 PAUD UNJ, WNA Malaysia

Cerita Mahasiswa Malaysia Nekat Kuliah S2 di UNJ karena Dosen “Unik”, Bahagia Meski Tiap Hari Diceng-cengin

21 April 2026
Omong kosong berkebun untuk slow living di desa. Punya kebun di desa justru menderita karena tanaman dirampok warga MOJOK.CO

Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki

23 April 2026
Cerminan pemberdayaan dan kontribusi nyata perempuan di Kota Semarang MOJOK.CO

Kuatnya Peran Perempuan di Kota Semarang, Sampai Diapresiasi California State University

22 April 2026
Ezra, alumnus UGM umur 25 tahun, yang lanjut kuliah S2 dan ikut ekspedisi ke Antartika, nggak peduli quarter-life crisis

Umur 25 Tahun Nggak “Level” dengan Quarter-Life Crisis, Alumnus UGM Kuliah S2 di Australia dan Ekspedisi Ilmiah di Antartika

17 April 2026
Habis Doa Langsung Goyang- Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri MOJOK.CO

Habis Doa Langsung Goyang: Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri

17 April 2026
Ilustrasi tinggal di desa.MOJOK.CO

Bersih Desa, Tradisi Sakral yang Kini Cuma Jadi Ajang Gengsi: Bikin Perantau dan Pemudanya Sengsara, Buang-Buang Waktu dan Uang

20 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.