Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

5 Negara Klaim Kebaya, UNESCO Minta Tak Saling Berkompetisi

Yvesta Ayu oleh Yvesta Ayu
26 November 2022
A A
klaim kebaya mojok.co

Ratusan perempuan buruh gendong menari di Malioboro sebagai dukungan untuk kebaya sebagai warisan budaya (Yvesta Ayu/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Saling klaim warisan budaya kembali terjadi antara Indonesia dengan Malaysia. Namun kali ini Malaysia tak sendirian. Bersama Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand akan mendaftarkan kebaya sebagai warisan budaya tak benda ke UNESCO. 

Dewan Warisan Nasional (NHB) Singapura bahkan menyebutkan, keempat negara tersebut bersama-sama mengajukan ke UNESCO dan dikoordinasikan oleh Malaysia. Menurut rencana, mereka akan mendaftarkan kebaya ke UNESCO pada Maret 2023.

Namun, empat negara tersebut disinyalir sudah melakukan upaya multinasional untuk mendapatkan tujuan mereka. Padahal di saat yang sama, Indonesia tengah memperjuangkan kebaya sebagai warisan budaya tak-benda ke UNESCO.

Program Specialist and Head of Culture Unit UNESCO, Moe Chiba di sela diskusi “Membangun Masyarakat Tangguh Melalui Keuangan Berkelanjutan”, Jumat (25/11/2022) mengungkapkan UNESCO hingga saat ini belum menerima proposal dari keempat negara di Asia Tenggara tersebut.

“UNESCO belum menerima proposal itu. Ini masih rumor, belum ada kepastian,” paparnya dalam bahasa Inggris.

Namun Moe mengetahui ada pertemuan bersama antara pemerintah Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam dan Thailand yang mengkonsultasikan pendaftaran kebaya tersebut ke UNESCO. Indonesia sendiri diketahui tidak ikut bersama empat negara tersebut dalam pengajuan kebaya sebagai warisan budaya.

Alih-alih saling bersaing, Moe berharap lima negara tersebut bisa berkolaborasi bersama dalam mendaftarkan kebaya sebagai warisan budaya. Sebab program pelestarian budaya yang selama ini dilakukan UNESCO bukanlah persaingan antarnegara.

“UNESCO mempromosikan kolaborasi karena budaya bukan masalah persaingan. Program warisan budaya adalah bagian dari menghormati budaya, kami tak ingin program ini menjadikan [negara] saling berperang dan bersaing,” ungkapnya.

Moe memastikan, UNESCO menetapkan kebaya sebagai warisan budaya tak benda bukan hanya didasarkan pada klaim semata. Namun organisasi pendidikan, keilmuan dan kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut melihat sejuah mana peran negara, termasuk pemerintah dan masyarakatnya dalam melestarikan keberadaan kebaya di negaranya.

Penetapan tersebut juga bukan hanya didasarkan kebaya sebagai busana yang dikenakan masyarakat luas. Namun lebih dari itu bagaimana upaya semua pihak dalam melestarian pembuatan kebaya sebagai prasasti agar tidak punah dan ada secara berkelanjutan dari generasi ke generasi.

“Jadi penilaiannya UNESCO bukan kebaya mana yang paling indah atau yang lebih baik namun bagaimana kebaya menjadi prasasti sebuah negara. Jadi [penetapan warisan budaya] bukanlah kompetisi bisnis,” paparnya.

Pemerintah Indonesia sendiri diketahui sejak 2019 ingin mendaftarkan kebaya sebagai warisan budaya ke UNESCO. Sejumlah kegiatan bertemakan “Kebaya Goes to UNESCO” pun digelar, baik di dalam negeri maupun di mancanegara.

Sementara Puni Anjungsari, Director Country Head of Corporate Affair Citi Indonesia, mengungkapkan situs warisan di Indonesia memainkan peran vital dalam upaya pelestarian nilai warisan budaya. Selain itu meningkatkan ketertarikan wisatawan domestik dan mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia.

“Meski destinasi wisata pariwisata indonesia namanya bersinar di kancah global, dampaknya tidak serta merta dirasakan masyarakat yang berada di sekitar. Karenanya UNESCO dan CITI Foundation konsisten menggerakkan produktivitas dan meningkatkan taraf hidup masyarakat di sekitar situs warisan budaya,” imbuhnya.

Iklan

Reporter: Yvesta Ayu
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Kampanyekan Kebaya Goes to UNESCO, Ratusan Perempuna Buruh Gendong Menari di Malioboro

Terakhir diperbarui pada 26 November 2022 oleh

Tags: kebayaklaim malaysiaUNESCOwarisan budayawarisan budaya takbenda
Yvesta Ayu

Yvesta Ayu

Jurnalis lepas, tinggal di Jogja.

Artikel Terkait

Dieng Culture Festival digelar di Banjarnegara, Jawa Tengah. MOJOK.CO
Kilas

Pemprov Jawa Tengah Siapkan Infrastruktur dan Destinasi Penunjang guna Dukung Pengembangan Wisata Dieng hingga Dikenal Dunia

25 Agustus 2025
Acara Kita Berkebaya tekankan nilai luhur kebaya sebagai produk warisan yang sarat makna MOJOK.CO
Kilas

Gerakan Kita Berkebaya, Bicara Soal Identitas Budaya hingga Pemberdayaan Ekonomi

8 Agustus 2025
candi borobudur.MOJOK
Sosial

Candi Borobudur Siap Menjadi Destinasi Kultural-Spiritual Dunia, Kedepankan Prinsip Inklusivitas yang Ramah Lansia dan Difabel

26 Mei 2025
PKL Malioboro Dipermainkan, Diadu dengan Sesama Rakyat Jogja MOJOK.CO
Esai

Duka di Sumbu Filosofi: Jerit Pilu PKL Malioboro yang Dipermainkan dan Diadu dengan Sesama Rakyat Jogja Hanya Demi Sebuah Kepastian

8 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi "Konsumsi Wajib" Saat Sidang Skripsi

Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi

17 Januari 2026
InJourney salurkan bantuan pascabencana Sumatra. MOJOK.CO

Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM

17 Januari 2026
franz kafka, pekerja urban, serangga.MOJOK.CO

Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

15 Januari 2026
Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)

Gelap Masa Depan Dosen, Lulusan S2 Jogja Mending Ngajar Anak SD di Surabaya yang Lebih Menjanjikan dari sisi Gaji

12 Januari 2026
Gotong royong atasi tumpukan sampah Kota Semarang MOJOK.CO

Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang

16 Januari 2026
alfamart 24 jam.MOJOK.CO

Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota

14 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.