Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Joyo Semoyo Ong Hari Wahyu: Seni Sinambi Ngliwet

Puthut EA oleh Puthut EA
17 Desember 2014
A A
Joyo Semoyo Ong Hari Wahyu: Seni Sinambi Ngliwet

Joyo Semoyo Ong Hari Wahyu: Seni Sinambi Ngliwet

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook
Mungkin banyak orang berpikir, kehidupan berkesenian Pak Ong Hari Wahyu teramat menyenangkan. Kalau tidak sedang diajak berproduksi Pak Butet Kertaredjasa ya sedang diajak oleh Pak Garin Nugroho. Bulan ini berproses dengan Mas Hanung Bramantyo, bulan depan berkesenian bersama Mas Agus Noor. Pendek kata, Pak Ong adalah seniman besar yang diciptakan Tuhan untuk senantiasa berproses dan berkesenian bersama para seniman besar lain.

Tetapi tidak banyak orang yang tahu bahwa sesungguhnya proses berkesenian Pak Ong adalah ‘Seni Sinambi Ngliwet’. Pak Ong memang pernah menelorkan sebuah slogan yang terkesan gagah dan bermartabat: Seni Agawe Santosa. Mohon saya dimaafkan apabila slogan ini dari orang lain, sebab saya tahunya slogan merbawani ini dikampanyekan oleh Pak Ong. Terlepas bahwa slogan itu cerdas, hebat dan dahsyat, namun sesungguhnya proses berkesenian sehari-hari beliau tidak seperti itu.

Saya masih ingat, suatu saat beliau mengatakan, “Wong-wong kae mikir lan ngira aku ki kepenak. Padahal aku ki ngayahi gaweyan padinan, ya ngliwet, ya umbah-umbah, ya nyapu, ya ngepel, ya siram-siram kembang (mohon dipahami bahwa kata kembang di sini adalah kembang dalam arti sebenarnya), ya ngeterke anak, wis pokoke sembarang kalir taklakoni.”

Iklan

“Lagi pas mood, arep ngurupke komputer, Arum (nama putri semata wayang Pak Ong) wis mbengok: ‘Pak, aku ngelih!’, ya aku akhire ngliwet. Njuk tuku lawuh. Begitu mengko lungguh maneh, ngurupke komputer jebule mood-e wis ilang. Lagi entuk ide brilian, langsung arep ngeksekusi, eee… ndilalah udan mak bres. Lha ya njuk mlayu ngangkuti kumbahan. Begitu rampung, lali idene apa…”

Tentu saja sewaktu mengucapkan hal tersebut, tidak ada sedikit pun rasa tertekan di wajah Pak Ong. Tukang semoyo tidak sah punya wajah tertekan. Yang tertekan ya yang disemayani. Tapi sebetulnya waktu beliau bilang seperti itu, saya mau bertanya. Namun tidak enak. Jadi saya mengurungkan niat bertanya. Sebetulnya saat itu saya ingin bertanya: Ora pengen rabi maneh ‘po, Pak?

Tapi begitulah hidup ini, sawang-sinawang. Sawang-sinawang itu mengandaikan jarak yang nisbi jauh, baik jarak sesungguhnya maupun jarak psikologis. Maka istilahnya sawang-sinawang, bukan pandeng-pandengan yang memiliki asumsi sebaliknya. Khusus yang ini, saya cuma ngawur lho ya… Jangan dijadikan landasan teori atau judul esai untuk mengupas karya Pak Ong.

Intinya begini. Jika di dalam pameran beliau kali ini Anda merasa karya-karya Pak Ong luarbiasa, berpikirlah bagaimana jika karya-karya tersebut tidak disambi ngliwet dan tidak terinterupsi oleh pekerjaan domestik? Tentu lebih luarbiasa. Atau jangan-jangan malah tidak ada rasanya. Jangan-jangan kedahsyatan berkesenian beliau ini memang kuat lantaran dilatih dengan umbah-umbah dan nyapu lantai rumah? Jangan-jangan lho ya…

Tapi setidaknya, kita semua, teman-teman Pak Ong, malam ini sangat lega. Sebab tidak ada poster susulan yang berbunyi: Pameran Joyo Semoyo ditunda untuk sakuntara wektu…

Terakhir, selamat kepada Pak Ong. Semoga pameran tunggal kali ini agawe sentosa di segala bidang. Amin.

Selamat berpameran. Jangan lupa ngliwet kesenian dan kabudhayan.

Catatan:

* Tulisan ini dibacakan sebagai testimoni atas pameran tunggal Ong Hari Wahyu berjudul ‘Joyo Semoyo’ yang di helat di Bentara Budaya Yogyakarya pada tanggal 16 Desember 2014 sd 30 Desember 2014.

** Bagi yang tidak paham istilah dan kalimat dalam Bahasa Jawa, silakan mencari tahu lewat orang yang Anda anggap tahu.

Terakhir diperbarui pada 1 November 2018 oleh

Tags: Butet KertaradjasaJoyo SemoyoOng Hari Wahyu
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

diorama arsip jogja mojok.co

Diorama Arsip Jogja yang Tak Bikin Bosan, Pelajaran Sejarah lewat Multimedia dan Seni Rupa

28 Februari 2022
djaduk ferianto jazz mben senen ngayogjazz meninggal dunia obituari serangan jantung butet kertaradjasa

Djaduk Ferianto, Seniman Pendiri Ngayogjazz, Meninggal Dunia

13 November 2019
Mario Teguh dan Laki-Laki Paria yang Terjungkal dari Masa Depan

Mario Teguh dan Laki-Laki Paria yang Terjungkal dari Masa Depan

23 Desember 2014
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja dan gitu-gitu aja. Tapi punya nilai sosial bagi perantau Jogja asal desa MOJOK.CO

Bakpia Jogja Memang Oleh-oleh Biasa dan Gitu-gitu Aja, Tapi Sangat Berharga buat Orang di Desa

22 Agustus 2026
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla)sebagaimana terjadi di Kalimantan tidak bisa direduksi sekadar memadamkan api, ada gambut yang rusak MOJOK.CO

Karhutla Terus Berulang karena Pihak Berwenang Cukup Puas Padamkan Api, Akar Masalah Tereduksi

24 Agustus 2026
Khotbah Bunyi-bunyian Senyawa di Candi Prambanan.MOJOK.CO

Khotbah Bunyi-bunyian Senyawa di Candi Prambanan

26 Agustus 2026
Peserta dalam ajang Klaten International Motocross di Sirkuit Bokong Semar, kawasan Rowo Jombor. MOJOK.CO

Anak Muda Asal Jawa Barat Kalahkan Crosser dari Australia di Ajang Klaten International Motocross

25 Agustus 2026
Mengenal konsep Green al-Maun dan jihad ekologi dari masjid untuk menjaga lingkungan MOJOK.CO

Dakwah Tauhid Lingkungan dari Masjid, Mempertanyakan Keimanan dari Kesadaran Menjaga Alam

26 Agustus 2026
Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi. MOJOK.CO

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.