Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Ketika Aktivis Antirokok Kurang Piknik

Iqbal Aji Daryono oleh Iqbal Aji Daryono
11 Oktober 2015
A A
Ketika Aktivis Antirokok Kurang Piknik

Ketika Aktivis Antirokok Kurang Piknik

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kemarin medsos riuh oleh berita seruan Adhyaksa Dault kepada Ahok untuk masuk Islam. Terlepas dari bantahan yang muncul kemudian, juga terlepas dari konsep ideal cara berdakwah dalam Islam, dari kasus ini terlihat jenis sikap “tak sudi hidup bersama kelompok berbeda”.

Bukan cuma dalam hal agama, dalam soal-soal lain pun sebenarnya ya sama saja. Tak terkecuali dalam isu perokok vs antirokok.

Iklan

Berkali-kali saya berdebat dengan teman antirokok tentang konsep berbagi ruang, membangun kenyamanan bersama satu sama lain. Coba tebak, apa ujungnya? Tul, ujungnya mereka bilang, “Aaaaah, udahlah, nggak usah ngerokok aja napa? Peraturan-peraturan dibikin ketat memang bukan untuk berbagi ruang, tapi biar para perokok itu segera meninggalkan kebiasaan terkutuknya!”

Aduhai, cara berpikir yang yoi banget. Memang sekilas jadi gagah ketika yang dibahas semata soal rokok. Tapi bagaimana kalau nalar begituan tetap dipakai untuk aspek perbedaan yang lain? Contoh: “Aaaah, ribet banget sih ngeributin izin gereja? Pindah agama keluar dari Kristen ajalah!” Atau bisa juga “Aaaah, reseh banget sih, tinggal di Bali kok ke sekolah minta pakai jilbab segala? Siapa suruh jadi muslim?”

Nah, ancur kan?

Semangat untuk menjalankan visi agung dalam menihilkan kelompok yang berbeda itu lebih berkobar lagi, ketika seorang seleb cum penulis besar mengatakan dengan yakin: “Akan tiba masanya ketika perokok gemetar ketakutan saat merokok di tempat-tempat umum, seperti terjadi di negara-negara maju.”

Membaca itu, saya jadi mak-wow. Negara maju? Sebegitu nistakah kita di hadapan negara-negara yang konon maju itu?

Berangkat dari celetukan Mas Seleb itulah saya ingin memberikan saran konkret untuk para aktivis antirokok, agar ikut gabung ke grup Backpacker Dunia atau apalah. Tentu saja itu semua demi lebih kerennya lagi kampanye antirokok, sehingga tidak menggunakan landasan yang asal-asalan dan waton mangap.

Saya ngomong begini sudah pasti karena pegang data konkret di lapangan. Ketahuilah, “negara-negara maju” yang dipuja-puja bak Erdogan itu sebenarnya nggak segalak yang “diharapkan” oleh Mas Seleb dan segenap wadyabala antirokok.

Pernah saya buktikan dengan mata kepala sendiri. Di Singapura, misalnya. Di sepanjang tepian sungai dekat Clark Quay, yang selalu riuh dengan orang nongkrong, juga kafe-kafe, merokok mah bebas-bebas saja. Di situ ada deretan tempat sampah banyak sekali. Di tiap bagian atas tempat sampah dibubuhkan tanda bahwa benda itu sekaligus berfungsi sebagai asbak umum. Maka, di sekeliling asbak-asbak publik itu orang bebas merokok. Dan memang mereka pada ngerokok. Dengan tenang, nggak pakai gemetar.

Itu baru di Clark Quay. Belum di banyak tempat umum lain. Silakan cek pula di Universal Studio, Sentosa Island. Di arena piknik keluarga semacam itu, enam area merokok disediakan. Yang sedang di sana coba saja cek, salah satunya di seberang wahana Madagascar. Sembari menunggu anak-anak naik komidi putar di sebelahnya, para perokok bisa leyeh-leyeh kebal-kebul di tempat duduk outdoor pinggir danau yang nyaman, segar, sambil memandangi orang-orang jerat-jerit naik roller coaster. Apakah non-perokok terganggu? Enggak dong. Itu posisinya relatif berjarak dengan kerumunan.

Itu di Singapura lho ya, satu negeri di muka bumi yang terkenal paling antirokok!

Coba kita tengok contoh lainnya. Jepang, salah satu negara di dunia dengan harapan hidup sehat tertinggi bagi penduduknya. Nah, ini lebih keren lagi. Saya saksikan dengan mata kepala sendiri dan cium dengan hidung muka sendiri, betapa sebenarnya orang Jepang leluasa merokok.

Di perempatan Shibuya, Tokyo, yang terkenal dengan banjir manusia tiap kali lampu hijau penyeberangan menyala itu, minimal ada dua smoking area luar ruang. “Pengunjung” pun selalu membludak di situ, sehingga sering tumpah ke luar-luar area. Apakah lantas mereka digebuki atau kena denda puluhan juta macam aturan resmi di Jakarta? Hahaha, enggaklah. Toh jaraknya dengan kerumunan yang tidak merokok juga terjaga.

Itu baru di Shibuya. Belum di tempat-tempat lain, di emper-emper convenient store, tepi-tepi jalan, tak terkecuali arena keluarga. Tak bedanya dengan Universal Studio Singapore, Tokyo Disneyland pun menyediakan area-area merokok yang representatif. Bandingkan dengan Kid Fun Park di Jogja, misalnya, yang dengan gagah perkasa memajang papan “Area Bebas Rokok”, yang artinya siapa pun yang mau merokok harus minggat dulu jauh-jauh dari kawasan itu.

Masih kurang? Saya punya bejibun contoh berikut foto-foto lengkapnya tentang smoking area di Australia. Jauuh, jauh sekali dari bayangan orang-orang tentang sikap negara maju kepada para perokok. Makanya, udahan lah mental inlandernya. Memuja negara maju kok jadi hobi. Syirik lhooo hahaha!

Ide berbagi ruang antara perokok dan nonperokok (wabilkhusus antirokok) ini saya kira solusi final dalam ketegangan tujuh turunan perokok vs antirokok. Prinsipnya, sanksi tegas namun masuk akal wajib diterapkan bagi perokok sembarangan. Namun di saat yang sama, smoking area dalam porsi layak juga mesti disediakan. Mirip logika orang tak boleh pipis sembarangan, maka disediakan toilet-toilet umum. Mirip tindakan mempersulit orang untuk naik mobil pribadi di kota besar yang padat, namun di saat bersamaan transportasi publik juga diadakan. Kira-kira begitu.

Berbagi ruang, sekali lagi. Kecuali kalau kita enggan hidup bersama dalam sebuah masyarakat yang berisi bermacam-macam manusia, manusia-manusia yang punya identitas berbeda, pandangan berbeda, selera berbeda, dan keyakinan berbeda. Pindah ke Kutub Utara aja kalau gitu. Atau Timbuktu.

Terakhir diperbarui pada 18 Juli 2017 oleh

Tags: AntirokokJepangShibuyaSingapuraTokyo
Iqbal Aji Daryono

Iqbal Aji Daryono

Penulis dari Bantul. Lulusan Sastra Jepang, UGM.

Artikel Terkait

Beasiswa MEXT U to U di Jepang lebih menguntungkan daripada LPDP. MOJOK.CO

Tolak Daftar LPDP untuk Kuliah di LN karena Beasiswa MEXT U to U di Jepang Lebih Menguntungkan, Tak Menuntut Kontribusi Balik

6 Mei 2026
Lulusan S2 Jepang nggak mau jadi dosen, pilih kerja di Australia. MOJOK.CO

Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas

29 April 2026
Pilih resign dan kerja jadi penulis di desa ketimbang kerja di luar negeri di Singapura

Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman

2 April 2026
Pemuda Jakarta kerja di Jepang untuk bayar utang keluarga. MOJOK.CO

Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga

26 Februari 2026
kerja di jepang, merantau.MOJOK.CO

Ironi Kerja di Jepang: Banting Tulang Hingga 5 Kali Lebaran Tak Pulang, tapi Setelah Sukses Hasilnya Tak Bisa Dinikmati

23 Februari 2026
Film Semi Jepang Bantu Mahasiswa Culun Lulus dan Kerja di LN (Unsplash)

Berkat Film Semi Jepang, Mahasiswa Culun nan Pemalas Bisa Lulus Kuliah dan Nggak Jadi Beban Keluarga

14 Januari 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Penyesalan mahasiswa kiri dan naif: tolak kerja (jadi budak) korporat karena melanggengkan kapitalisme, tapi sadar orang tua belum bahagia MOJOK.CO

Sesal Mahasiswa Sok Kiri Anti Kapitalisme dan Naif: Tolak Kerja Korporat, Tapi Sadar Belum Bantu Ekonomi Orang Tua

21 Agustus 2026
Semesta Buku Yogyakarta 2026 MOJOK.CO

Semesta Buku Yogyakarta Hadir Bersama Pasetaky #4 dan Jakal Bookshop Festival 2026: Rayakan Buku, Komunitas, dan Ruang Literasi 

27 Agustus 2026
Sisi lain blusukan kampung di Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Sisi Lain Tren Blusukan Kampung: Nggak Seru seperti di Medsos, Malah Dicurigai Pencuri dan Dianggap Tak Tau Adab

20 Agustus 2026
Yamaha Fazzio Cuma Sebatas Skutik Spek Orang Manja MOJOK.CO kredit motor yamaha

Fazzio, Motor “Anak Skena” yang Bikin Perjalanan Sejam Menembus Kemacetan buat Ngonser Tetap Terasa Chill

24 Agustus 2026
UMKM, UKM.MOJOK.CO

Pemkot Jogja Buru “DNA” 18.000 Usaha Kecil untuk Basis Data Tunggal 2026 demi Kebijakan Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
Desta pamit dari Vindes rasanya kayak kehilangan dua teman MOJOK.CO

Ketika Desta pamit dari Vindes, saya merasa kehilangan dua teman yang tidak pernah saya kenal

27 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.