Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Yang Bisa Sultan HB X Tegur dari Kebijakan Gubernur DIY soal UMP Jogja yang ‘Humble’

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
7 November 2020
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Gubernur DIY umumkan UMP Yogyakarta naik sekitar 3,45 persen. Dari Rp1.704.608 jadi Rp1.764.608. Waw, naik 60 ribu. Mantap.

Saya selalu ingat sebuah pitutur Jawa, “Sabda pandita ratu tan kena wola-wali.”

Yang artinya sabda seorang raja/penguasa (dan pendeta/pemuka agama) tidak boleh plin-plan. Apa yang disabdakan seorang raja adalah pegangan hidup bagi rakyatnya. Maka raja harus berhati-hati sebelum berbicara.

Itulah kenapa Sultan perlu menegur Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), karena sang gubernur memberi pernyataan tanpa kehati-hatian.

Lebih buruk lagi, Pak Gub tanpa sikap memahami dan mengayomi rakyatnya. Apalagi ketika berbicara perihal kenaikan upah minimum bagi rakyatnya yang diprotes. Balasan dari beliau yang terucap adalah pernyataan yang tajam dan melukai perasaan.

Kira-kira itulah yang terjadi di Kompleks Kepatihan, 3 November 2020 silam. Sang Gubernur Jogja menanggapi protes buruh terkait kenaikan upah minimum. Para buruh melakukan protes karena menilai upah minimum provinsi (UMP) masih jauh dari kebutuhan hidup layak (KHL) masyarakat Jogja.

Gubernur DIY menyatakan, kenaikan upah hingga 5 juta rupiah akan dirasa tidak cukup jika kebutuhannya mencapai 10 juta rupiah. Menurut blio, kenaikan upah minimum ini telah melalui proses negosiasi terlebih dahulu.

“Ya 5 juta pun belum layak kalau kebutuhannya 10 juta. Tapi bagaimana kita menaikkan kalau dari Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) kan negosiasinya dengan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo).”

Pernyataan tersebut sangat tajam. Sebab, faktanya tidak seperti itu, dan fakta itu menjadi dasar tuduhan bahwa buruh terlalu berlebihan meminta kenaikan upah. Gubernur juga mengatakan, peran Pemda hanya memfasilitasi kesepakatan yang terjadi antara kedua belah pihak.

“Ya kan, Apindo itu (inginnya) serendah mungkin, kalau karyawan setinggi mungkin, kan gitu? Sedangkan Pemda dalam pengupahan hanya memfasilitasi, kalau sekarang 3 juta lebih suruh nego sendiri sama Apindo coba bisa ndak?” jelas Gubernur DIY.

Gubernur DIY menekankan bahwa blio tidak mau seenaknya dalam menentukan UMP. Semua harus didasari dengan kesepakatan antara Apindo dan karyawan.

Bagi saya, pernyataan Gubernur DIY ini sangat jauh dari apa yang dituntut buruh. Bahkan, terkesan Gubernur DIY ingin menempatkan para penuntut ini sebagai sosok manja yang tidak tahu bersyukur.

Gubernur sendiri menyatakan bahwa upah 5 juta tidak akan cukup kalau butuhnya 10 juta. Ini kalimat yang terkesan kalau Pak Gub memandang para buruh yang menuntut kenaikan upah adalah sosok yang boros dan rakus.

Wah wah, kok jadi gitu?

Padahal, para buruh tidak pernah menuntut setinggi itu. Para buruh menuntut agar UMP DIY disesuaikan dengan hasil survei KHL dari lembaga masyarkat. Para buruh tidak pernah menyampaikan tuntutan yang berlebihan seperti upah 5 juta yang entah didasari dari mana.

Dalam aksi tahun lalu saat penentuan UMP 2020 saja, para buruh merasa upah 1,7 juta rupiah masih jauh dari nilai Kehidupan Hidup Layak (KHL). Sebab hasil dari KHL di wilayah DIY itu sendiri sebesar 2,5 juta rupiah.

Dengan besar UMP dibawah nilai KHL, para buruh merasa defisit karena mendapat hasil kerja yang jauh dari standar hidup layak.

Ini namanya bikin orang kaya makin kaya dan bikin orang miskin makin miskin. Pengusaha kaya untungnya makin banyak, para buruh makin mepet hidupnya. Gap ekonomi pun makin jauh.

Iklan

Jadi tidak ada itu tuntutan untuk menaikkan UMP sampai 5 juta rupiah. Yang dituntut adalah upah yang memenuhi kebutuhan untuk hidup layak. Bukan hidup foya-foya.

Gubernur juga mengatakan bahwa Pemda menjadi fasilitator dalam negosiasi antara pihak pekerja dengan pelaku usaha. Namun Pak Gub malah meminta yang ingin UMP dinaikkan untuk nego langsung dengan pelaku usaha.

“Bisa ndak?” gitu tadi katanya.

Loh, katanya Pemda DIY adalah fasilitator dari negosiasi ini. Kok malah nyuruh pihak buruh untuk nego langsung? Yang benar itu yang mana: difasilitasi pemda, atau nego sendiri? Pitikih?

Pemerintah itu kan harus bantuin rakyatnya, kalau rakyatnya disuruh gerak sendiri pakai aturan sendiri, lah terus adanya pemerintahan dan peraturan buat apaan coba? Bingung kula, hambokyakin.

Begini lho, Pak Gub.

Jika hanya ada satu dua orang yang merasa kenaikan UMP masih kurang, kita bisa berasumsi bahwa yang bersuara memang kurang bersyukur. Tapi, dalam kasus UMP Jogja memang penuh kecaman serta protes dari banyak pihak buruh dan pekerja kalau naiknya cuma 3,45 persen itu.

Nah, jika protes selalu ada setiap tahun, apakah hasil negosiasi ini tidak bisa dibaca kalau Pak Gub tak pernah mengakomodir tuntutan para pekerja? Atau malah mengabaikan kehidupan layak (yang riil) bagi pekerja?

Mau sejak pandemi, mau sebelum pandemi, kehidupan buruh dan pekerja emang nggak pernah dijadikan prioritas, Pak Gub.

Tentu pandangan semacam ini sangat berbeda dengan cara Sultan Hamengkubowo X yang harapannya pasti akan lebih mengayomi rakyatnya. Tidak seperti Gubernur yang lebih peduli sama kelangsungan hidup pengusaha ketimbang buruh-buruhnya.

Sultan Hamengkubowo X pasti tidak akan plin-plan ketika memberi keputusan, dan memahami bahwa Upah Minimun Provinsi (UMP) DIY itu paling humble se-Indonesia, sehingga protes buruh ini sebenarnya sangat-sangat masuk akal.

Nggak seperti Gubernur DIY yang mungkin memandang buruh itu cuma sekelompok orang kemaruk. Pada akhirnya protes yang ingin disejajarkan upahnya dengan provinsi lain pun dianggap berlebihan. Padahal yang diminta itu upah yang adil.

Salah satu daerah paling kaya di Indonesia kok bisa-bisanya UMP-nya paling rendah se-Indonesia. Dinalar pakai otak paling pas-pasan sekalipun ya tep ramashoook tho? Jadi mau naik sekian persen, kalau UMP Jogja kok kelewat humble sama daerah sekitarnya, hayaaa jelas bakal ada yang protes terooos, Pak Gub.

Oleh sebab itu, hambok Sultan Hamengkubowono X ngasih teguran ke Pak Gubernur DIY, kalau Yogyakarta itu wilayahnya adalah tempat wisata yang ramai dan kaya.

Pendapatan Jogja banyak, tapi yang memanfaatkan hasil dari itu secara maksimal cuma segelintir orang. Sisanya sih cuma dapet recehan dan seringnya disuruh bersyukur sama yang udah ngantongin miliaran.

Di Jogja ini, mahasiswa dan mahasiswi dari luar daerah berdatangan habiskan duit di sini, tanah-tanah dibeli pensiunan-pensiunan Jakarta, perumahan dibangun di-mana-mana lalu orang kaya dari luar pada masuk di sini. Pada akhirnya biaya hidup pun jadi terseret naik dengan harga gila-gilaan.

Belum dengan harga tanah jadi makin nggak masuk akal mahalnya, air jadi sulit di beberapa wilayah karena kesedot hotel-hotel berbintang milik pengusaha ibu kota. PDAM pun jadi pilihan karena hotel dan mal jauh lebih rakus ambil air tanah ketimbang sumur-sumur tradisional warga.

Nah hal beginian nih, Sultan mah pasti paham kegelisahan model-model begini. Mengingat ayahanda beliau (Sultan Hamengkubowono IX) punya pedoman “tahta untuk rakyat”.

Tapi… nggak tahu deh kalau Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, apa beliau ini punya prinsip yang sama nggak ya sama Sri Sultan?

Hm, tapi mohon pertanyaannya diarahkan ke rumput yang bergoyang saja. Anu, ketimbang dikomen, “Ya udah kalau nggak terima, silakan keluar aja dari Jogja!”

Waduh, padahal saya ini asli Jogja e.

BACA JUGA Nggak Usah Terbeli oleh Romantisasi Jogja: Asline Biasa Wae, Lur atau tulisan Dimas Prabu lainnya.

Terakhir diperbarui pada 7 November 2020 oleh

Tags: buruhJogjapandemipekerjasultan hamengkubuwonoUmpumr jogjaYogyakarta
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Jika artikel saya menyinggung Anda, saya tidak peduli.

Artikel Terkait

Sri Sultan HB X dan Dubes Qatar siapkan kejutan program event di Yogyakarta dari kerja sama di bidang kesenian dan kebudayaan MOJOK.CO

Usai Temui Sri Sultan HB X, Dubes Qatar Siapkan Kejutan Program Event Kebudayaan di Yogyakarta

3 Agustus 2026
Biaya kos, kisah mahasiswa.MOJOK.CO

Bertahan di Kos Tanpa Jendela yang Berisik dan Sepanas Oven, Semua Demi Ngirit dan Lolos Ancaman DO Kampus

30 Juli 2026
Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian.MOJOK.CO

Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian

29 Juli 2026
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Romo Pitoyo dalam acara peresmian Laboratorium Alam SMA Kolese De Britto Yogyakarta. MOJOK.CO

Laboratorium Alam De Britto: Pondok Perenungan Manusia agar Tak Kehilangan Hati Nurani di Tengah “Bahaya” AI

28 Juli 2026
Usaha jasa kebersihan, Ready Clean Jogja sampai ke Turki. MOJOK.CO

Berawal dari Kegabutan dan UMK Jogja yang “Ngenes”, Kini Mampu Kirim Pegawai ke Turki agar Gelar Sarjana Tak Sia-sia

28 Juli 2026
Nikahkan anak di Lapas Wirogunan Yogyakarta. MOJOK.CO

Penuhi Tanggung Jawab sebagai Ayah, Seorang Napi Nikahkan Putrinya di Lapas Wirogunan Jogja

28 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Natalius Pigai Menyarankan Buku Karangan Orang Barat, Baiklah Saya Pilihkan MOJOK.CO

Natalius Pigai Menyarankan Buku Karangan Orang Barat, Baiklah Saya Pilihkan

10 Agustus 2026
Pegawai Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih pinggir kuburan harus dibekali dengan keahlian supranatural hingga ilmu sosial MOJOK.CO

Keahlian-keahlian Vital untuk Pegawai Kopdes Pinggir Kuburan, Berguna buat Diri Sendiri dan Pembeli

13 Agustus 2026
Wisata Perahu Kalimas di Taman Prestasi Surabaya jadi liburan mewah. MOJOK.CO

Kemewahan Wisata Perahu Kalimas Menyelamatkan Orang Haven’t Surabaya sebelum Dilanda Stres

11 Agustus 2026
Makrab, Budaya senioritas dan bullying di kampus.MOJOK.CO

Setelah 4 Kali Ikut Makrab di Kampus, Saya Percaya Budaya Ini Lebih Baik Dihapus Saja: Bukan Bikin Akrab, Malah Meruncingkan Konflik “Senior” dan “Junior”

13 Agustus 2026
Telat 3 Hari Perpanjang SIM, Pak Guru Ahmad Melawan Aturan yang Tak Kenal Ampun MOJOK.CO

Telat 3 Hari Perpanjang SIM, Pak Guru Ahmad Melawan Aturan yang Tak Kenal Ampun

14 Agustus 2026
Beban ekspektasi orang desa di Rembang yang merantau kerja di luar negeri: dipandang kalau bisa menggelar dangdutan setiap tahun MOJOK.CO

Beban Pemuda Desa Kerja di Luar Negeri: Demi Dipandang Harus Gelar Dangdutan Tiap Tahun buat Hibur Warga

12 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.