Menulis lagi, tetapi bentar nangis dulu
Pernah melihat meme “akan aku hadapi, tetapi bentar nangis dulu”? Begitulah cara saya belajar menulis kembali.
Saya mulai menulis meski masih gemetar. Karena lama menghilang dari peredaran, saya kehilangan banyak teman diskusi keilmuan.
Rasanya seperti harus memulai dari awal seorang diri. Namun, saya tetap mencoba. Tulisan ini menjadi salah satu karya yang akhirnya berani saya unggah sekaligus bagian dari proses pemulihan.
Kali ini, saya tidak lagi sekadar mengejar pengakuan, tetapi berusaha menghasilkan sesuatu yang bermakna. Setiap kali menulis, saya merasa sedang merajut kembali kepercayaan diri yang pernah robek karena trauma akademik.
Saya seperti mengatakan kepada diri sendiri bahwa saya masih layak belajar, masih mampu berkarya, dan masih bisa memberi manfaat.
Prosesnya tentu tidak selalu mulus. Ada kalanya saya kembali takut dan meragukan tulisan sendiri. Namun, saya mulai memahami bahwa pulih bukan berarti tidak pernah menangis atau merasa takut lagi. Pulih berarti tetap berani melangkah meskipun ketakutan itu sesekali muncul.
Untukmu yang tertampar kepahitan trauma akademik
Kalau ada yang menganggap trauma akademik hanya sebagai sikap berlebihan, saya mungkin hanya bisa tersenyum. Saya tahu luka itu nyata karena pernah kehilangan kepercayaan diri, menjauhi dunia akademik, dan takut menulis akibat satu kalimat di ruang ujian.
Setiap orang memiliki cara dan waktu yang berbeda untuk pulih. Ada yang mampu bangkit sendiri, ada yang membutuhkan teman untuk bercerita, dan ada pula yang memerlukan bantuan profesional.
Beristirahatlah ketika lelah dan mintalah bantuan ketika beban terasa terlalu berat. Tidak semua perjuangan harus diselesaikan seorang diri.
Pengalaman itu membuat saya memahami bahwa pendidikan bukan hanya tentang kurikulum, teori, dan metodologi. Pendidikan juga merupakan perjalanan manusia untuk menerima kekurangan, menghadapi luka, memperbaiki kesalahan, dan menemukan kembali makna dari sesuatu yang dipelajari.
Tesis saya mungkin memang tidak sempurna. Saya pun masih harus belajar banyak. Namun, satu kalimat yang pernah saya dengar di ruang ujian itu tidak lagi berhak menentukan apakah saya layak menulis atau tidak.
Sekarang, saya memilih menulis lagi.
Penulis: Rofahiyatul Aisy
Editor: Agung Purwandono
