Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Tafsir Benci Islam di ‘Balonku Ada Lima’ dan Kebutuhan Lagu Anak Indonesia

M. Farid Hermawan oleh M. Farid Hermawan
14 Juni 2020
A A
Tafsir Benci Islam di ‘Balonku Ada Lima’ dan Kebutuhan Lagu Anak Indonesia

Tafsir Benci Islam di ‘Balonku Ada Lima’ dan Kebutuhan Lagu Anak Indonesia

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kritik untuk lagu “Balonku Ada Lima” dan “Naik-naik ke Puncak Gunung” sebenarnya merupakan terobosan baru dalam dunia lagu anak.

Mendengar ceramah seorang ustaz memang baiknya tidak disambi dengan pikiran yang emosional dan sumbu pendek. Apalagi untuk ustaz seperti Ustaz Zainal Abidin yang memang punya gaya ceramah cukup tegas dan selalu penuh perumpamaan.

Iklan

Kita seharusnya sadar, sebagai pendengar ceramah beliau, kita tidak hanya diberikan siraman rohani tapi juga diajak berpikir kritis.

Saya sendiri sempat beberapa kali menonton video ceramah Ustaz Zainal Abidin. Yaaa, hitung-hitung menambah pengetahuan dari berbagai sisi. Dan tentu saya sudah menonton potongan video yang sempat jadi gonjang-ganjing di Twitter.

Iya betul, soal lagu “Balonku Ada Lima” dan “Naik-naik ke Puncak Gunung” yang kata Ustaz Zainal merupakan dua lagu yang dibuat untuk membenci Islam dan kristenisasi terselubung. Benar-benar pemaparan yang mengejutkan.

Kalau kalian baru tahu potongan video tersebut, video ceramah yang sempat viral itu sebenarnya sudah muncul sejak tahun 2018, namun entah kenapa potongan ucapan kontroversialnya baru booming tahun ini.

“Di Indonesia juga banyak kan antum nggak berasa. Contoh anak-anak kecil sejak dari TK saja sudah dilatih untuk benci Islam. ‘Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya,’ yang meletus balon apa? Hijau. ‘Hatiku sangat kacau.’ Loh, Islam itu bikin kacau aja. Tinggal empat pegang erat-erat, merah, kuning,” ujar beliau.

Selain itu, beliau juga membedah lagu “Naik-naik ke Puncak Gunung” dan memperagakan gerakan tangan ke arah atas, kiri, dan kanan yang seolah menyimbolkan salib serta nyinggung-nyinggung selebrasi Lionel Messi.

Kalian yg waktu TK pernah nyanyi Balonku ada 5 sama Naik-naik ke puncak gunung, mengidolakan Messi..
Positif di kristenisasi.. ?? pic.twitter.com/4CZZjthHt2

— Pakat Dayak (@PakatDayak) June 11, 2020


Banyak warganet protes dan mengatakan ini merupakan cocokologi yang sungguh ramashook.

Duh, duh, tahan, Bos, tahan. Jangan emosi dulu.

Pertanyaannya adalah, kenapa kita baru tahu video itu sekarang? Padahal sudah sejak dua tahun yang lalu loh pernyataan blio itu ada. Ditambah lagi apa yang dilakukan ini sebenarnya merupakan terobosan baru dalam dunia lagu anak. Kamu sadar nggak sih?

Terobosan baru apaan, biji kesemek?

Lha iya, Ustaz Zainal itu sebenarnya mau ngasih tahu kita bahwa blio adalah ustaz kreatif multitalenta yang memperhatikan banyak hal.

Selain jago ilmu agama, blio juga cukup jago ilmu musik anak-anak, filosofi lirik lagu anak, dan semiotika lirik lagu anak-anak. Dalam hal ini, saya pikir blio layak kalau disebut sebagai kritikus lagu anak-anak kekinian.

Iklan

Lagian, apa salahnya seorang ustaz punya kemampuan seperti ini?

Bukankah pada zaman sekarang kritikus musik, kritikus sastra, atau bahkan kritikus elite global jadi status yang lumrah? Sekarang coba lihat dunia lagu anak-anak dan selidiki adakah kritikus lagu anak-anak? Nggak ada kan?

Oleh sebab itu, bisa dibilang Ustaz Zainal malah memancing munculnya suatu keahlian baru bernama kritikus lagu anak-anak. Sebuah bidang pemikiran langka dan tak terpikirkan sebelumnya.

Oke, cara tafsir Ustaz Zainal memang cukup kontroversial, namun kita harus akui, gara-gara blio membedah lagu “Balonku Ada Lima” dan “Naik-naik ke Puncak Gunung” perhatian kita terhadap lagu anak jadi meningkat pesat.

Kalau soal beda tafsir, itu mah hal yang wajar dalam sebuah kritik. Ada yang setuju, meski banyak yang kontra. Toh kalau tidak setuju dengan tafsir beliau bahwa lagu “Balonku Ada Lima” adalah ajakan terselubung untuk benci Islam, hanya karena persoalan warna-warnaan, ya sampaikan saja kontra-kritik agar jadi diskusi yang mengasyikkan.

Misalnya begini, saya kasih contoh.

Pak Ustaz, warna hijau itu kan nggak melulu soal Islam. Lah itu, nyatanya Spotify, Joox, bendera Brasil, sampai Indomie Goreng Rasa Cabe Ijo tidak pernah ujug-ujug disimbolkan sebagai Islam tuh.

Warna itu kan luas tafsirnya. Universal gitu. Tidak ada hak kepemilikan tafsir di dalamnya. Ketika balon yang meletus diganti warna merah, apakah iya lantas para kamerad di Rusia, politikus Cina, Presiden Korea Utara, dan pendukung Manchester United harus ngamuk-ngamuk juga?

Lagian mau warna kuning, hijau, merah, atau kelabu yang meletus. Tetap saja, yang meletus cuma balon, bukan peperangan. Jadi, selooo aja lah.

Di lagu “Naik-naik ke Puncak Gunun” juga misalnya, yang lebih frontal lagi dikritiknya. Kata beliau, lagu ini memiliki ajakan terselubung mengenai ajaran Kristen di dalamnya.

Tentu saja, tidak banyak dari kita yang begitu detail memahami pesan tersembunyi dari lagu “Naik-naik ke Puncak Gunung”. Analisis yang begitu cermat. Bahkan sampai simbol kiri, kanan, tinggi dan pohon cemara saja blio bisa menerjemahkan dengan gamblang.

Sebagai sesama muslim, saya yakin tak ada maksud Ustaz Zainal untuk menuding hal buruk ke agama lain.

Bisa jadi memang liriknya saja yang kurang sreg di telinga. Atau mungkin beliau ingin lirik lagu “Naik-naik ke Puncak Gunung” lebih baik bisa diganti jadi arah mata angin. Kiri jadi Timur, kanan jadi Selatan, atas jadi Utara. Toh, bukan tidak mungkin pula hal yang sebenarnya dikritik adalah selebrasi Lionel Messi yang begitu-begitu aja.

Lagian, pohon cemara yang kata blio kenapa nggak diganti dengan pohon sawit atau pisang itu sebenarnya kritik terselubung yang berbahaya.

Kalau pohon cemara diganti pohon pisang—misalnya, Sang Pisang milik Kaesang Pengarep bisa-bisa malah kena tuduhan pula. Atau jika diganti pohon sawit, bakal ada banyak oligarki di negeri ini yang bakal keseret namanya karena kepemilikan saham kebun sawit di Sumatra dan Kalimantan.

Dalam hal ini, Ustaz Zainal juga menunjukkan cara terbaik dalam mengkritisi lagu anak, dengan cara yang persis seperti anak-anak. Penuh tanya, sangat kritis, penuh tafsiran tak berdasar, dan yang pasti perlu bimbingan orang tua. Dengan menempatkan diri dengan cara berpikir anak-anak akurasi kepolosan tafsir ini jelas ada pada titik poin yang paripurna.

Oleh karena itu, ketimbang kita ngomel-ngomel karena tak setuju dengan tafsir Ustaz Zainal, akan lebih baik kita mensyukuri model pemikiran kayak gini sebagai pencetus agar lagu anak-anak bisa bangkit kembali dan unjuk gigi di tengah membanjirnya lagu-lagu Tiktok yang yang dinyanyikan anak-anak.

Caranya? Dengan cara menjadikannya sebagai topik yang dibicarakan terlebih dahulu, lantas dipikirin masak-masak untuk memicu lahirnya lagu anak Indonesia yang terbaru. Bukan cuma daur ulang dari lagu anak pada masa lalu.

Kalau kamu protes caranya nggak perlu kontroversial, coba saya tanya balik: emang kalau nggak kontroversial kamu mau dengerin dan merhatiin? Kan belum tentu. Lagakmu aja yang sok bijak, ketika dikasih yang beneran bagus nggak mau merhatiin, dikasih sampah malah minta tambah.

Lagipula, kalau kita mau jeli layaknya Ustaz Zainal, ada cukup banyak lagu anak yang memuat lirik-lirik layak kritik kok.

Misal, lagu “Naik Delman Istimewa”, kenapa liriknya harus hari Minggu? Kenapa nggak hari Jumat? Lantas kenapa lagu “Potong Bebek Angsa” liriknya menyebut “dansa empat kali”? Kenapa nggak diganti angka lima yang lebih melambangkan Rukun Islam?

Hayooo kenapa? Hadirin ada yang bisa jawaaab?

BACA JUGA Membaca Krismon dan Reformasi Era Soeharto dari Lagu Anak-Anak ’90-an atau tulisan Muhammad Farid Hermawan lainnya.

Terakhir diperbarui pada 8 Januari 2021 oleh

Tags: balonku ada limalagu anakustaz
M. Farid Hermawan

M. Farid Hermawan

Manusia. Tinggal di Kalimantan Selatan.

Artikel Terkait

Tawadhu Tidak Seharusnya Membuat Santri Diam saat Menjadi Korban MOJOK.CO
Esai

Tawadhu sebagai Pisau Bermata Dua: Santri Tidak Seharusnya Dibungkam saat Menjadi Korban

26 Juli 2026
Ide Bodoh Ridwan Kamil untuk Atasi Kemacetan Jakarta MOJOK.CO
Esai

Ide Nggak Masuk Akal Ridwan Kamil: Datangkan Psikolog dan Ustaz Keliling untuk Atasi Kemacetan Jakarta

3 September 2024
Bu Kasur: Masa Keemasan Lagu Anak Indonesia hingga Propaganda di Dalamnya
Video

Bu Kasur: Masa Keemasan Lagu Anak Indonesia hingga Propaganda di Dalamnya

26 Agustus 2022
Pak Kasur dan anak-anak
Arsip

Pak Kasur tentang Anak-anak yang Kekurangan Hiburan

28 April 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Elang Jawa terbang bebas di Gunung Gede Pangrango, tapi masih berada dalam ancaman MOJOK.CO

SRAK 2026-2036 Resmi Disusun, Komitmen Lintas Sektor Selamatkan Elang Jawa dari Kepunahan

27 Juli 2026
Sri Sultan HB X tegaskan: penataan kawasan pedestrian Malioboro bukan berarti apa-apa tidak boleh MOJOK.CO

Sri Sultan HB X: Malioboro Full Pedestrian Bukan Tutup Total Akses Kendaraan, Tapi Penataan agar Tidak Crowded

24 Juli 2026
Usaha jasa kebersihan, Ready Clean Jogja sampai ke Turki. MOJOK.CO

Berawal dari Kegabutan dan UMK Jogja yang “Ngenes”, Kini Mampu Kirim Pegawai ke Turki agar Gelar Sarjana Tak Sia-sia

28 Juli 2026
Akademisi UGM kritik RUU Sisdiknas karena belum menjawab tantangan pendidikan nasional di masa mendatang MOJOK.CO

RUU Sisdiknas Dinilai Belum Jawab Tantangan Pendidikan hingga Menyoal Relevansi Perguruan Tinggi Kedinasan

28 Juli 2026
Andromeda dan bajaj. MOJOK.CO

Sempat Larang Anak Kuliah di ITB hingga Akhirnya Luluh, Rela Tempuh Jogja-Bandung dengan Bajaj sebagai Penyemangat

24 Juli 2026
Nikahkan anak di Lapas Wirogunan Yogyakarta. MOJOK.CO

Penuhi Tanggung Jawab sebagai Ayah, Seorang Napi Nikahkan Putrinya di Lapas Wirogunan Jogja

28 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.