Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Sudah Saatnya Stereotip Menyebalkan tentang Anak IPS Diruntuhkan

Alma Najmia oleh Alma Najmia
9 Desember 2020
A A
Anak ips
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Memilih menjadi anak IPS adalah sebuah jalan pedang, ia penuh dengan stereotip-stereotip menyebalkan.

Beberapa waktu yang lalu, secara tak sengaja, saya melihat sebuah video di Tiktok tentang perbandingan karakter anak jurusan IPS dan IPA. Seperti selayaknya konten-konten perbandingan yang sudah-sudah, video tersebut menampilkan stereotip-stereotip standar bin basic bin klise tentang anak jurusan IPS dan IPA. Dalam video tersebut, tentu saja anak IPA disebut cenderung lebih unggul secara akademis dan punya segudang prestasi dibandingkan anak IPS.

Saya pikir, stereotip ini sudah hidup amat lama dan tampaknya masih akan terus awet kayak potongan rambut Kak Seto. Tak peduli sedahsyat apa pun gempuran pengetahuan parenting terkait konsep minat dan bakat anak, orang tua-orang tua saat ini masih sangat banyak yang berharap agar anaknya bisa masuk IPA.

Entah kenapa, orang-orang terlalu meyakini bahwa ilmu hayat adalah kunci segala perkara.

Sebagai seorang anak IPS, saya tentu saja selalu punya kegelisahan pada stereotip tersebut. Sampai pada satu titik, saya merasa ingin sekali mengabdikan hidup saya untuk melawan stigma buruk (atau setidaknya tidak lebih baik) yang melekat pada diri anak-anak IPS.

Dari pengalaman empiris saya bergulat dengan kehidupan IPS, saya merasa bahwa stereotip tentang anak IPS adalah hal yang sudah terlalu berlebihan untuk terus dilanggengkan.

Saya terlahir di keluarga yang sangat moderat. Orang tua mengizinkan saya untuk masuk jurusan apa saja. Masuk IPA atau IPS, terserah, kata orang tua saya.

Kelak, walaupun moderat, orang tua saya tetap saja kaget saat mengetahui kalau saya memilih masuk IPS. Saya meminta pindah dari IPA ke IPS. Tentu saja saya memilih IPS bukan agar dianggap edgy, namun memang saya merasa kemistri saya ada di ilmu sosial, bukan ilmu hayat. Selain itu, saya juga sudah punya bayangan mau ambil jurusan apa saja ketika saya kuliah nanti.

Di kelas IPS di sekolah saya, jumlah siswanya hanyalah separuh dari jumlah siswa kelas IPA. Kendati demikian, dengan anggota yang sedikit ini, kami jadi lebih solid. Kalau ada acara keluar, mobilisasinya mudah.

Kelas anak IPS selalu diidentikkan dengan kelas yang penuh dengan makhluk-makhluk bebal dan beringas. Maklum, orang kadung menganggap kalau jurusan IPS adalah buangan jurusan IPA. Pada kenyataannya, di kelas saya, tidak demikian yang terjadi. Kelas saya sangat-sangat kondusif. Tidak ada keberingasan seperti yang dicitrakan oleh banyak orang tentang kelas IPS.

Urusan makhluk bebal, ini juga debatable. Saya cermati siswa-siswa di kelas IPS di sekolah saya, dan saya menemukan ada banyak sekali siswa berprestasi. Ada yang saat SMP langganan juara kompetisi pidato bahasa inggris, bahkan ada juga yang merupakan penyandang nilai UN terbaik.

Tidak hanya siswa berprestasi, aktivis organisasi siswa juga banyak yang ada di kelas saya. Ketua Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) sebagian besar ada di kelas IPS, bukan di kelas IPA. Begitu pula dengan OSIS, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, sampai Palang Merah Remaja.

Sayang sekali, dengan fakta-fakta seperti itu, ketimpangan stigma tentang anak IPA dan IPS tetap tumbuh subur.

Salah satu yang paling menyebalkan adalah mudahnya anak IPA kalau ingin pindah ke IPS dan susahnya anak IPS kalau mau pindah ke IPA.

Iklan

Hal tersebut berlanjut sampai jenjang kuliah. Bayangkan, saat seleksi masuk perguruan tinggi, anak IPA bisa dengan mudah mengambil jurusan kelompok IPS dan menikung teman-teman IPS. Sedangkan anak IPS dipaksa tetap istiqomah dengan jurusan IPS. Ini tentu saja adalah sebuah ketidakadilan besar. Ketidakadilan yang negara ikut serta di dalamnya.

Kalau bukan karena anak IPS yang selow dan penuh sopan santuy, bukan mustahil pelataran Monas sudah penuh oleh anak-anak IPS yang salat jumat di sana lantas berorasi menuntut penghapusan ketidakadilan sistemik dan struktural itu.

Dunia sudah membuktikan, bahwa kesuksesan toh bukan didominasi oleh anak-anak IPA.

Urusan peluang, anak IPS setara, Pada titik tertentu, mereka bahkan jauh lebih visioner, sebab banyak dari mereka yang masuk IPS murni karena keteguhan hati dan memang sudah punya visi tentang masa depan mereka. Berbeda dengan anak IPA yang, tak bisa dimungkiri, banyak yang sejak awal berkeinginan masuk IPA karena merasa ia lebih unggul ketimbang IPS.

Lagipula, segala kesuksesan peradaban dunia ini dibangun oleh anak-anak pembelajar ilmu sosial dan ilmu hayat dengan porsi yang sangat berimbang.

Benar bahwa banyak penemu teknologi kehidupan ini didominasi oleh orang IPA, namun tak bisa disangkal bahwa segala penemuan akan selalu berhubungan dengan pembiayaan, dan urusan pembiayaan, pastilah erat dengan ekonomi, dan ekonomi, tentu saja adalah bagian dari ilmu sosial.

Benar bahwa perusahaan-perusahaan teknologi banyak diisi oleh insinyur-insinyur jebolan IPA, namun tak bisa disangkal bahwa yang mengurus gaji insinyur-insinyur itu adalah orang-orang manajemen keuangan, dan tentu saja mereka kebanyakan orang IPS.

Benar bahwa anak-anak IPA berpotensi menjadi dokter-dokter spesialis, namun tak bisa dimungkiri, banyak anak IPS yang berpotensi menjadi pemilik atau komisaris rumah sakit tempat para dokter itu bekerja.

Sudah saatnya stereotip ngehek dan menyebalkan tentang anak IPS untuk mulai diluruhkan, baik secara bertahap maupun tidak.

BACA JUGA: Stereotip Anak IPA dan IPS yang Nggak Habis-Habis.

Terakhir diperbarui pada 9 Desember 2020 oleh

Tags: ipaipssekolah
Alma Najmia

Alma Najmia

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Artikel Terkait

Kekerasan di sekolah, Mahasiswa UNY Dibully Gara-Gara Pemilu BEM
Edumojok

“Sekolah Bukan Ring Tinju”: Ortu Pukuli Guru Madrasah di Madura adalah Alarm Darurat Pendidikan Indonesia

9 Februari 2026
Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana MOJOK.CO
Esai

Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana

9 Februari 2026
Guru tak pernah benar-benar pulang. Raga di rumah tapi pikiran dan hati tertinggal di sekolah MOJOK.CO
Ragam

Guru Tak Pernah Benar-benar Merasa Pulang, Raga di Rumah tapi Pikiran dan Hati Tertinggal di Sekolah

8 November 2025
Homeschooling Sering Diremehkan, Padahal Bisa Bikin Anak Berpikir Kritis dan Mendapatkan "Kemewahan" yang Tak Diberikan Sekolah Formal.MOJOK.CO
Ragam

Homeschooling Sering Diremehkan, Padahal Bisa Bikin Anak Berpikir Kritis dan Mendapatkan “Kemewahan” yang Tak Diberikan Sekolah Formal

12 Mei 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

User bus ekonomi Sumber selamat pertama kali makan di kantin kereta api. Termakan ekspektasi sendiri MOJOK.CO

User Bus Sumber Selamat Pertama Kali Makan di Kantin Kereta, Niat buat Gaya dan Berekspektasi Tinggi malah Berakhir Meratapi

25 Februari 2026
kerja di jepang, merantau.MOJOK.CO

Ironi Kerja di Jepang: Banting Tulang Hingga 5 Kali Lebaran Tak Pulang, tapi Setelah Sukses Hasilnya Tak Bisa Dinikmati

23 Februari 2026
Toyota Avanza Perusak Gengsi, Gak Waras Gak Berani Beli MOJOK.CO

Toyota Avanza Bekas Perusak Gengsi, tapi Orang Waras Pasti Tidak Ragu untuk Membeli Mobil yang Ramah Ekonomi Keluarga Ini

24 Februari 2026
Gagal seleksi CPNS dan tidak tembus beasiswa LPDP untuk kuliah S2 di luar negeri pilih mancing, dicap tidak punya masa depan oleh keluarga MOJOK.CO

Gagal LPDP dan Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Nemu Rasa Tenang meski Dicap Tak Punya Masa Depan

22 Februari 2026
Yang paling berat dari mudik lebaran ke kampung halaman bukan pertanyaan kapan nikah atau dibandingkan di momen halal bihalal reuni keluarga, tapi menyadari orang tua makin renta dan apa yang terjadi setelahnya MOJOK.CO

Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Situasi Setelahnya

27 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP serba salah, penerima beasiswa LPDP dalam negeri dan LPDP luar negeri diburu

Penerima LPDP Dalam Negeri Terkena Getah Awardee Luar Negeri yang “Diburu” Seantero Negeri, padahal Tak Ikut Bikin Dosa

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.