Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Sisi Gelap AI dan Ancaman Imperialisme Digital ala ‘Big Tech’

Aditya Rizki oleh Aditya Rizki
25 Februari 2026
A A
Sisi Gelap AI dan Ancaman Imperialisme Digital ala 'Big Tech' MOJOK.CO

Ilustrasi Sisi Gelap AI dan Ancaman Imperialisme Digital ala 'Big Tech'. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sisi gelap AI membuat beban kerja yang setara dengan 300 juta pekerja purnawaktu di seluruh dunia akan tergantikan. 

Kecerdasan Buatan (AI) bukan lagi cerita fiksi ilmiah. AI telah menjadi bagian dari realitas sehari-hari. Teknologi ini mulai diadopsi ke berbagai sektor mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga seni sebagai fondasi inovasi. Disrupsi digital ini menandai babak baru peradaban manusia yang semakin bergantung pada mesin AI.

Cikal bakal AI dimulai sejak tahun 1956 di Dartmouth College, ketika sekelompok ilmuwan meyakini bahwa kecerdasan bisa disematkan ke dalam komputer. Setelah melewati fase stagnan selama bertahun-tahun, teknologi ini bangkit kembali pada dekade 2010-an. Kebangkitan ini didorong oleh meledaknya kapasitas komputasi dan ketersediaan big data secara global. Berbagai riset dan penelitian untuk menyempurnakan AI mendapatkan titik terangnya.

Kini euforia penggunaan AI di berbagai sektor melaju pesat dan seolah tak terbendung lagi. Riset mengenai Large Language Model (LLM) menunjukkan lompatan kecerdasan yang melampaui batas multidisiplin ilmu. Dampaknya, berbagai profesi yang sebelumnya dianggap hanya bisa dilakukan oleh manusia perlahan-lahan mulai digantikan oleh AI.

Lompatan AI saat ini

Kemampuan AI yang bisa belajar secara mandiri dengan algoritma tertentu, membuat performanya semakin hari semakin menjanjikan. AI mampu memberikan kemampuan kepada mesin untuk meniru kecerdasan manusia. Dari sekadar membuat konsep, memecahkan masalah, melakukan prediksi, hingga mengambil keputusan tertentu.

Bila membandingkan AI saat ini dengan tiga tahun silam, lompatan multimodalitasnya sungguh revolusioner. Agen AI sekarang tidak hanya terbatas pada membuat artikel dan merekayasa ilustrasi/foto. Kemampuannya sudah sampai pada menghasilkan video beresolusi tinggi, menggubah musik dengan prompt sederhana, hingga menjadi asisten personal yang bisa menjalankan berbagai perintah.

Selain itu, para pengguna yang tidak punya latar belakang IT sekalipun bisa dengan mudahnya membangun aplikasi melalui tren vibe coding. Istilah yang digunakan untuk menyebut aktivitas coding dengan hanya bermodalkan instruksi bahasa alami kepada agen AI.

Para pemenang event Claude Code Hackathon yang diselenggarakan perusahaan AI Anthropic baru-baru ini justru dimenangkan oleh para inovator yang punya latar belakang non-IT. Termasuk diantaranya adalah pengacara, musisi, pekerja infrastruktur jalan, juga dokter spesialis. Mereka terbukti bisa mengembangkan prototipe produk teknologi dan memberi solusi rekayasa perangkat lunak berbasis AI yang inovatif.

Manfaat AI tersebut terasa sangat nyata dalam mempermudah berbagai aspek. Semisal dalam dunia medis, AI terbukti membantu mendiagnosis penyakit secara dini dan akurat. Di sektor industri, otomatisasi AI mampu meningkatkan efisiensi dan mempercepat proses produksi dengan tingkat akurasi yang tinggi.

Perusahaan-perusahaan populer yang bergerak di bidang AI seperti Google (Gemini), OpenAI (ChatGPT), dan Anthropic (Claude) terus memperbarui LLM setiap waktu. Tujuannya tidak lain untuk menghasilkan kualitas olahan AI yang memanjakan penggunanya: cepat, akurat, sekaligus murah.

Sisi gelap AI

Di balik sisi baiknya, AI menyimpan sisi gelap yang mengancam isu ketenagakerjaan. Laporan Goldman Sachs memprediksi 300 juta pekerjaan purnawaktu di seluruh dunia terancam digantikan oleh AI. Otomatisasi berskala besar ini berisiko memicu gelombang pengangguran massal jika tidak diantisipasi.

Masalah serius lainnya adalah praktik pelanggaran hak cipta masif oleh perusahaan raksasa pengembang AI. Jutaan karya tulisan, seni, multimedia, dan data pribadi pengguna terindikasi dijadikan data pelatihan tanpa persetujuan (consent) pemilik aslinya. Praktik eksploitatif ini secara terang-terangan mengerdilkan hak kekayaan intelektual kreator demi melatih algoritma untuk tujuan komersial.

Lebih jauh lagi, AI berpotensi menjadi senjata penyebaran misinformasi massal berupa deepfake yang manipulatif. Ketergantungan buta pada AI juga dikhawatirkan menggerus nalar kritis dan “membodohi” penggunanya. Interaksi yang digantikan oleh AI perlahan menciptakan masyarakat nirempati yang terasing dari nilai-nilai kemanusiaan.

Bahaya ini disadari betul oleh para perintis teknologi AI yang akhirnya mulai angkat bicara. Sosok Geoffrey Hinton, yang dijuluki sebagai “The Godfather of AI”, memilih mundur dari posisinya di Google karena punya kekhawatiran. Ia memperingatkan bahwa tanpa regulasi, kecerdasan buatan sangat mudah dieksploitasi oleh aktor-aktor jahat.

Iklan

Realitas ini memicu munculnya para whistleblower dari dalam industri kecerdasan buatan itu sendiri. Seperti yang dilakukan oleh kolektif “Right to Warn” yang digagas oleh eks karyawan OpenAI. Mereka mengungkap praktik kelam di balik layar perusahaan teknologi raksasa (big tech). Mereka menjadi saksi bahwa perusahaan sering mengorbankan etika dan keselamatan publik demi mengejar dominasi pasar.

Eksploitasi Big Tech ini ternyata tidak hanya menyasar data pengguna, tetapi juga sumber daya alam. Pelatihan (training) model AI berskala besar membutuhkan konsumsi energi dan air yang luar biasa besar untuk mendinginkan data center. Jejak karbon industri ini berisiko memperparah krisis iklim global secara diam-diam.

Selain krisis ekologis, AI juga mewariskan bias sosiokultural manusia yang sangat berbahaya. Karena dilatih dari data historis yang tidak sempurna, algoritma kerap mereplikasi diskriminasi rasial dan gender. Keputusan otomatis mesin AI dalam memahami aspek hukum justru dapat melanggengkan ketidakadilan sistemik.

Narasi penyeragaman etika yang digaungkan perusahaan teknologi Barat juga memunculkan hegemoni baru. Standar moral AI sekarang sangat didominasi oleh perspektif negara maju, yang berisiko menggerus nilai-nilai budaya lokal. Bentuk baru imperialisme digital ini secara halus telah menjajah cara pandang dan kearifan negara-negara berkembang.

Sudah saatnya bersikap lebih kritis

Dalam menghadapi disrupsi ini, para inovator dan pengembang AI di Indonesia tidak boleh hanya terjebak sebagai pengguna pasif. Sudah saatnya kita perlu bersikap lebih kritis terhadap dampak buruk AI yang beroperasi tanpa kendali etis dan moral. Kewaspadaan harus difokuskan pada implikasi sosiokultural yang dapat merusak tatanan sosial, ekonomi, dan politik bangsa. Terlebih Indonesia sedang dalam proses menuju generasi Indonesia emas 2045.

Untuk merespons urgensi tersebut, pemerintah melalui jajaran kementerian terkait perlu berkomitmen untuk memperkuat kedaulatan digital nasional sebelum terlambat. Roadmap dan gagasan masyarakat informasi yang mulai terbiasa dengan AI perlu mendapat perhatian lebih serius dan berkelanjutan.

Meski harus diakui bahwa langkah ini menghadapi tantangan struktural yang berat ketika birokrasi dituntut untuk terus mengawal laju inovasi Big Tech. Komitmen politik saja tidak cukup tanpa kemandirian infrastruktur teknologi yang terbebas dari jerat asing.

Pada akhirnya, pemerintah harus segera mengambil langkah proaktif. Rencananya tahun 2026 ini, pemerintah akan merilis dua Perpres terkait kecerdasan artifisial. Kedua Perpres tersebut diusulkan oleh Komdigi.

Pertama adalah Rancangan Perpres tentang Etika Kecerdasan Buatan. Isinya mencakup mencakup nilai dan manfaat penerapan etika AI, serta langkah-langkah perlindungan terkait penggunaan AI. 

Kedua, Rancangan Perpres tentang Peta Jalan Kecerdasan Artifisial Nasional Tahun 2026-2030. Materi pokok di dalam Perpres tersebut adalah pembangunan ekosistem sistem kecerdasan artifisial untuk mendukung program prioritas presiden. 

Patut kita tunggu implementasi dari kedua Perpres tersebut. Ketegasan regulasi menjadi benteng terakhir pelindung warga negara atas eksploitasi teknologi dan sisi gelap AI.

Penulis: Aditya Rizki
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Menjadi Guru SD di Era ‘Skibidi Toilet’: Pertarungan Sengit Melawan Algoritma yang Tak Mungkin Saya Menangkan dan kisah seru lainnya di rubrik ESAI.

Terakhir diperbarui pada 25 Februari 2026 oleh

Tags: AIArtificial Intelligencekecerdasan buatansisi gelap Ai
Aditya Rizki

Aditya Rizki

Webmaster Mojok. #YNWA

Artikel Terkait

celengan investasi, ai.MOJOK.CO
Aktual

Kalau Mau Bersaing di Era AI, Indonesia Butuh Investasi Energi 1 Triliun Dolar AS

30 Januari 2026
AI Mengancam Orang Malas Berpikir, Tak Sesuai dengan Ajaran Muhammadiyah MOJOK.CO
Ragam

AI Mengancam Orang Malas Berpikir, Tak Sesuai dengan Ajaran Muhammadiyah

29 Januari 2026
AI, ChatGPT, Kecerdasan Buatan Bisa Nggak Cerdas Lagi kalau Gantikan PNS dan Hadapi Birokrasi Fotokopi MOJOK.CO
Ragam

ChatGPT Bukan Ustaz: Bolehkah Bertanya Soal Hukum Agama kepada AI?

28 Januari 2026
Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital: Harga RAM Makin Nggak Ngotak MOJOK.CO
Esai

Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal

16 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia MOJOK.CO

Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia

23 Februari 2026
Lapangan Padel di Jakarta Selatan bikin Stres Satu Keluarga. MOJOK.CO

Nestapa Tinggal di Perumahan Elite Jakarta Selatan Dekat Lapangan Padel, Satu Keluarga Stres Sepanjang Malam

19 Februari 2026
5 tips bagi yang pertama kali mudik naik pesawat dan cara dapat promo tiket murah MOJOK.CO

Tips 5 Persiapan bagi Orang yang Pertama Kali Mudik Naik Pesawat dan Dapat Promo Tiket Murah

18 Februari 2026
Yamaha Mio Sporty 2011 selalu mogok di Jogja. MOJOK.CO

Salut dengan Ketahanan Yamaha Mio Sporty 2011, tapi Maaf Saya Sudah Tak Betah dan Melirik ke Versi Baru

20 Februari 2026
Mila Sejahtera Bus Sialan, 15 Jam Disiksa Berakhir Demam MOJOK.CO

Rangkaian Penderitaan Naik Bus Mila Sejahtera dari Jogja Menuju Jember: Disiksa Selama 15 Jam, Berakhir Demam Tinggi dan Diare. Sialan!

19 Februari 2026
kerja di jepang, merantau.MOJOK.CO

Ironi Kerja di Jepang: Banting Tulang Hingga 5 Kali Lebaran Tak Pulang, tapi Setelah Sukses Hasilnya Tak Bisa Dinikmati

23 Februari 2026

Video Terbaru

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

19 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.