Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Siman di Film ‘The Science of Fictions’ Tak Pura-pura Jadi Astronot tapi Jadi Penguasa

Haris Firmansyah oleh Haris Firmansyah
13 Desember 2020
A A
Debat soal Manusia Pernah ke Bulan dan Pernyataan Dikit-dikit Menurut Allah

Debat soal Manusia Pernah ke Bulan dan Pernyataan Dikit-dikit Menurut Allah

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Bukan jadi astronot saja Siman di film ‘The Science of Fictions’ bisa ditafsirkan. Bisa jadi representasi macam-macam lho dia nih.

Gunawan Maryanto sang pemeran utama pria dalam film The Science of Fictions (Hiruk Pikuk Si Al-Kisah) memenangi Piala Citra di Festival Film Indonesia 2020. Dengan catatan, beliau berakting dalam film garapan Yosep Anggi Noen ini tanpa dialog.

Ini mengingatkan kita kepada Limbad yang menjuarai The Master Season 2, ajang pencarian bakat magician tanpa pernah berkata-kata.

Pertanyaannya, diam saja bisa jadi juara, gimana kalau banyak bicara?

Nyatanya, yang banyak berkata-kata bisa berbeda dengan yang dikerjakannya. Semisal mantan Menteri Sosial dan Menteri KKP yang ditangkap KPK.

Di podcast Deddy Corbuzier sih kedua pesohor itu pandai beretorika, bikin beberapa smart people jadi simpati. Eh, ujungnya akrobat mereka bikin malu yang ngundang ke podcast.

Cuma ngundang ke podcast aja Om Deddy merasa nggak “smart” lagi, gimana yang melantik coba?

Dalam film The Science of Fictions, tokoh utama bernama Siman menyaksikan syuting pendaratan manusia di Bulan yang dilakukan oleh kru asing. Ternyata Neil Armstrong tidak benar-benar mendarat di Bulan, melainkan mendarat di Bantul, Yogyakarta.

Howalah, pantas aja dulu ada cerita Neil Armstrong sempet dengar suara azan dan masuk Islam. Hm, masuk akal juga.

Gegara jadi saksi konspirasi, Siman pun dibisukan dengan dipotong lidahnya oleh alat penguasa. Namun, Siman tidak menyerah. Walaupun telah mengistirahatkan kata-katanya, Siman coba membuktikan kebenaran dengan beragam cara.

Dari mulai membangun replika roket dari rongsokan mesin cuci, sampai berlagak seperti astronot. Lengkap dengan kostum ala antariksawan dan helm tukang las.

Trauma berat membuat Siman bergerak serba lambat dalam setiap aktivitas kesehariannya. Bagaikan manusia berjalan di atas permukaan Bulan. Makan-minum, lambat. Pas kerja jadi kuli, tetap lambat. Joget, masih lambat juga. Sudah seperti seleb TikTok bikin video slow motion.

Misi dari istikamahnya Siman menirukan astronaut adalah memberi tahu warga kampungnya bahwa pendaratan manusia di Bulan adalah kebohongan. Namun, masyarakat malah menjadikan Siman sebagai bulan-bulanan, bukan pembawa pesan kebenaran. Aksi Siman hanya sebatas hiburan dan dijadikan tontonan warga belaka.

Di kehidupan nyata, ada yang namanya Aksi Kamisan. Para korban pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), selaiknya Siman, melakukan aksi di bawah payung hitam di depan Istana Negara setiap Kamis sore. Gerakan ini bertujuan menuntut pihak berwenang untuk mengusut kasus-kasus pelanggaran HAM di negeri ini yang belum selesai.

Iklan

Namun, seperti kita tahu, negara masih bungkam dan penguasa belum bisa menyelesaikan PR-nya. Sementara Aksi Kamisan masih terus berjalan. Kemungkinan isu HAM akan terus dijadikan “gorengan” politik oleh para elite untuk meraih kekuasaan.

Alih-alih astronot, Siman yang bergerak lambat malah seperti sedang menirukan penguasa. Diceritakan Siman selalu konsisten bergerak bagai siput, kecuali perkara uang dan perempuan. Sebelas-dua belas dengan gimik yang rutin dibawakan pelawak senior Haji Bolot.

Haji Bolot yang berseragam ala pejabat selalu tidak nyambung tiap diajak ngobrol oleh Malih yang mewakili rakyat jelata, terkecuali untuk urusan duit dan cewek.

Ketika uangnya dimaling orang, ternyata Siman bisa berjalan cepat untuk melabrak si pencuri. Begitu pula ketika menyalurkan birahinya dengan wanita penghibur yang diperankan oleh Asmara Abigail, cepet banget.

Saking cepetnya, mungkin Dokter Boyke bisa menyebut Siman sebagai Edi Tansil. Astronot yang tidak bisa petik bintang, akhirnya realistis dengan “petik mangga”.

Bukankah kelakuan Siman itu sama dengan penguasa yang lamban dalam bekerja, tetapi gercep kalau urusan nilep uang negara dan kencan dengan sugar baby?

Jangan-jangan adegan yang sebenarnya Siman lihat itu bukan pendaratan manusia di Bulan. Melainkan penanganan pandemi di Indonesia oleh pemerintah yang lambat dan lamban.

Namun, tantangan terbesar dari pengalaman menonton The Science of Fictions adalah kita tidak benar-benar tahu kebenaran versi siapa yang sesungguhnya terjadi? Apakah NASA atau Siman? Soeharto atau PKI? Polri atau FPI?

Dulu, siapa yang memegang kamera adalah pihak yang mampu membuat sejarah. Sampai-sampai kita tidak tahu apakah sejarah yang kita baca dan tonton adalah fakta, ataukah hanya propraganda rezim yang berkuasa?

Kini, kamera bisa ada dalam genggaman setiap orang. Semua orang bisa membuat ceritanya sendiri, entah nyata atau fiktif belaka. Pemain TikTok saja bisa membuat video viral tentang kehidupan percintaan seseorang yang ditinggal menikah mantan, padahal rekayasa wal fiksi.

Walaupun sekarang kamera bukan benda eksklusif para elite lagi, penguasa tetap bisa membisukan rakyatnya. Entah dengan membatasi akses media sosial saat ada aksi massa, bikin internet lambat di atas tanah ulayat secara semena-mena, atau mengirim simpatisan untuk menuntut pakai UU ITE yang serba-guna.

Dan kalau sudah begitu… jangan-jangan, kita ini yang jadi Siman-nya?

BACA JUGA Pemerintah Kita Sudah Kacau sejak Istilah dan tulisan menarik Haris Firmansyah lainnya.

Terakhir diperbarui pada 12 Desember 2020 oleh

Tags: astronotbulanFilmLimbadsiman
Haris Firmansyah

Haris Firmansyah

Pegawai Bank Ibukota. Selain suka ngitung uang juga suka ngitung kata.

Artikel Terkait

Na Willa, film anak yang obati inner child
Seni

‘Na Willa’, Merangkul Inner Child dan Kebutuhan akan Film Anak dari Muaknya Komodifikasi Ketakutan

27 Maret 2026
Sinefil.MOJOK.co
Urban

Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”

9 Februari 2026
Film Tukar Takdir Nggak Sekadar Adegan Mesra Nicholas Saputra dan Adhisty Zara dalam Mobil! Mojok.co
Pojokan

Film Tukar Takdir Nggak Sekadar Adegan Mesra Nicholas Saputra dan Adhisty Zara!

8 Oktober 2025
film tema perselingkuhan.MOJOK.CO
Mendalam

Main Serong di Sinema Indonesia: Mengapa Kamu Menyukai Film Bertema Perselingkuhan?

22 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerja WFH untuk ASN bukan solusi. MOJOK.CO

WFH 1 Hari dalam Seminggu Cuma Bikin Pekerja Boncos dan Nggak Produktif, Lalu Di Mana Efisiensi Pemakaian Energinya?

6 April 2026
Ikuti paksaan orang tua kuliah jurusan paling dicari (Teknik Sipil) di sebuah PTN Semarang biar jadi PNS. Lulus malah jadi sopir hingga bikin ibu kecewa MOJOK.CO

Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

7 April 2026
PNS tetap WFO saat WFH

PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM

8 April 2026
Kuliah soshum di PTN merasa gagal karena tak jadi wong untuk orang tua

Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua

6 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO

Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran”

7 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.