Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin

Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin MOJOK.CO

Ilustrasi Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin. (Ega Fansuri/Mojok.co)

MOJOK.COSebagai praktisi mie ayam, penulis pusing bukan karena harga-harga bahan pokok naik, tapi harga yang pindah tempat.

Menjadi penjual mie ayam itu bukan cuma soal mahir mengocok saringan mie di dalam dandang panas atau memastikan takaran micin pas di lidah pelanggan. Lebih dari itu, ini adalah pertempuran mental yang dimulai bahkan sebelum matahari kepikiran buat bangun. Kalau orang bilang rezeki dipatok ayam, saya mah sudah standby di pasar saat ayamnya sendiri masih mengigau.

Fenomena pindah harga bahan baku mie ayam

Rutinitas subuh saya dimulai dengan hawa dingin yang menusuk tulang, menembus jaket lungsuran yang sudah mulai tipis. Tujuan utamanya pasar. Di sana, saya menemui drama yang jauh lebih menegangkan daripada sinetron stripping mana pun: drama harga bahan baku.

Belakangan ini, saya sering garuk-garuk kepala setiap kali tanya harga sawi atau dada ayam. Para pedagang di pasar punya istilah baru yang bikin saya pengin nanya ke pakar ekonomi mana pun. Mereka nggak bilang harga naik. Mereka bilang harganya pindah.

“Bukan naik lagi, Teh, ini mah pindah harga!” celetuk Mang Dadang, langganan saya untuk urusan daging ayam.

Istilah pindah harga ini bagi saya terdengar sangat filosofis sekaligus menyakitkan. Kalau naik, biasanya ada harapan bakal turun. Tapi kalau pindah? Ya berarti dia sudah menetap di tempat baru yang lebih tinggi dan nggak mau pulang-pulang. Bayangkan, keuntungan dari semangkuk mie ayam itu tipisnya sudah kayak tisu dibagi dua.

Kalau harga ayam pindah ke atas tapi harga jual mie ayam saya tetap di situ-situ saja demi menjaga perasaan pelanggan, ya wasalam. Tapi ya mau bagaimana lagi? Jualan makanan itu soal rasa, dan rasa nggak boleh bohong gara-gara bahan yang dikurangi.

Ngopi bersama bapak, adu nasib dengan saudara

Selesai bertarung di pasar dengan belanjaan yang beratnya menguji kesabaran, saya nggak langsung pulang ke rumah untuk eksekusi dagangan. Ada satu rute wajib yang tidak boleh dilewatkan, yaitu rumah Bapak.

Mampir ke rumah Bapak adalah oase di tengah gurun pindah harga tadi. Saya biasanya bawa sarapan seadanya, entah itu bubur ayam atau nasi uduk, ditambah gorengan yang minyaknya bisa buat goreng satu kompleks. Di sana, ritual suci dimulai: ngopi bareng Bapak.

Biasanya, saudara-saudara saya yang lain juga ikutan kumpul karena memang rumahnya berdekatan. Di teras rumah Bapak inilah, “sidang paripurna” keluarga digelar. Isinya? Tentu saja saling lempar keresahan alias adu nasib.

Ada kakak saya yang curhat suaminya bikin masalah terus sampai pusing tujuh keliling. Ada adik yang mengeluh anaknya susah diatur dan lebih memilih jadi pro player ketimbang belajar. Ada juga yang jujur-jujuran bilang lagi nggak pegang duit sama sekali buat bayar kebutuhan hari ini.

Menariknya, di forum ini nggak ada yang sok jadi motivator. Nggak ada yang bilang, “Sabar ya, ini ujian,” atau “Kamu kurang bersyukur.” Kami cuma dengerin, sesekali nyeletuk kasar buat ngeledek, lalu ketawa bareng.

Kami semua sadar kalau obrolan ini nggak akan menghasilkan solusi finansial atau perubahan kebijakan negara. Tapi anehnya, setelah uneg-uneg itu keluar bersama asap kopi hitam, beban di pundak rasanya berkurang beberapa gram. 

Kami pulang dengan perasaan yang sama-sama hancur, tapi setidaknya kami tahu kalau kami nggak sendirian dalam kehancuran itu.

Botol saus mie ayam adalah indikator kebahagiaan, tapi kadang pembeli kebangetan

Setelah urusan “kesehatan mental” selesai di rumah Bapak, barulah realitas yang sesungguhnya dimulai. Begitu sampai rumah, saya langsung berubah jadi chef merangkap kuli dan juga driver delivery.

Menyiapkan air rebusan sampai mendidih, memotong sawi dengan presisi biar nggak rugi-rugi amat tapi tetap kelihatan banyak, sampai ritual mengisi ulang botol-botol saus.

Ngomong-ngomong soal saus, bagi tukang mie ayam, botol saus adalah indikator kebahagiaan. Kalau botol saus cepat habis, artinya banyak pelanggan yang datang. Tapi ya itu, saya kadang gemas sama pelanggan yang kalau menuang saus kayak lagi mau bikin kolam renang di dalam mangkuk.

“Sausnya satu liter, mienya cuma satu porsi,” batin saya menjerit. Tapi ya sudahlah, demi pelayanan.

Jualan di depan rumah itu ada seninya. Ada saat-saat di mana saya cuma bisa duduk bengong sambil mengelap meja yang sebenarnya sudah bersih, sambil komat-kamit berdoa agar ada motor yang mengerem di depan kedai.

Ramai dan sepi itu memang bumbu dagang, tapi buat saya, masalahnya lebih serius: hidup saya bergantung di setiap mangkuknya. Setiap bulir mie yang masuk ke air mendidih adalah harapan untuk bayar listrik, uang jajan anak, sampai buat beli bensin motor. 

Setiap dentingan sendok dan mangkuk dari pelanggan adalah musik paling merdu yang pernah saya dengar.

Senin dan Kamis, dua hari yang menguras air mata

Kalau kebanyakan orang benci hari Senin karena harus balik kerja, saya justru harus menutup warung setiap Senin dan Kamis. Bukan karena saya malas atau sudah kaya raya, tapi karena ada tugas negara yang jauh lebih penting: mengantar suami cuci darah ke rumah sakit.

Di titik inilah, mental saya benar-benar diuji. Saat rekan sejawat sesama tukang mie ayam sedang panen pelanggan di hari kerja, saya harus bergelut dengan bau obat-obatan, antrean BPJS yang panjangnya kayak nunggu kepastian dari mantan, dan melihat suami yang harus terhubung dengan mesin selama berjam-jam.

Dilema itu nyata. Di satu sisi, saya butuh jualan setiap hari karena modal dan kebutuhan hidup terus mengejar. Di sisi lain, menemani suami adalah pengabdian yang tak bisa ditawar. Setiap kali warung libur, pendapatan otomatis nol. Padahal, kebutuhan rumah sakit dan biaya transportasi ke sana nggak bisa dibayar pakai pindah harga.

Namun, dari sinilah saya belajar tentang ketangguhan. Menjadi penjual mie ayam mengajarkan saya untuk tidak hanya jago mengaduk bumbu, tapi juga jago mengaduk emosi. 

Saya harus tetap tersenyum ramah saat melayani pelanggan yang cerewet minta porsi “kuli” harga “subsidi”, padahal di kepala saya sedang berputar jadwal cuci darah dan tagihan yang belum lunas.

Mie ayam adalam simbol perlawanan terhadap kerasnya hidup

Mungkin bagi sebagian orang, mie ayam hanyalah makanan selingan di sore hari. Tapi bagi saya, semangkuk mie ayam adalah simbol perlawanan terhadap kerasnya hidup. Ini adalah cara saya bertahan di tengah ekonomi yang makin nggak masuk akal.

Saya belajar bahwa hidup itu persis kayak proses bikin mie ayam. Harus melalui proses perebusan di air yang sangat panas dulu supaya bisa lunak dan enak dimakan. 

Harus diberi bumbu yang pas supaya nggak hambar. Dan yang paling penting, harus dinikmati pelan-pelan, meskipun kuahnya kadang bikin lidah melepuh.

Jika esok hari Anda lewat di depan warung mie ayam sederhana dan melihat penjualnya sedang sibuk menata mangkuk, ingatlah bahwa di balik setiap porsinya, ada doa-doa yang dirapalkan agar cukup untuk menyambung hidup esok hari.

Ada perjuangan melawan lelahnya pasar, ada tawa pahit di teras rumah Bapak, dan ada ketabahan luar biasa di hari Senin dan Kamis.

Bagi saya, selama kompor masih bisa menyala dan air masih bisa mendidih, harapan itu masih ada. Meskipun harga terus “pindah”, meskipun hidup kadang terasa lebih asin daripada bumbu mie ayam kebanyakan micin, saya akan tetap di sini. Mengocok mie, menuang kuah, dan berharap semoga hari ini lebih banyak mangkuk yang kosong di atas meja pelanggan.

Sebab, hidup memang bukan soal mencari solusi dari setiap obrolan ngopi di rumah Bapak, tapi soal bagaimana kita punya cukup tenaga untuk kembali ke “dandangan” masing-masing dan menghadapi hari esok dengan kepala tegak. Mari makan mie ayam, biar nggak oleng menghadapi kenyataan.

Penulis: Wiwi Susanti”
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Belajar Membangun Bisnis dari Pedagang Mie Ayam Bintang, Sekilas Tampak Sederhana tapi Punya 5 Cabang di Jakarta dan tulisan lainnya yang membahas Mi Ayam

Exit mobile version