ADVERTISEMENT

Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap

Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap MOJOK.CO

Ada tawaran pekerjaan tetap, tapi belum tentu menyelesaikan persoalan

Kami sebenarnya pernah mendapatkan tawaran pekerjaan tetap. Masalahnya, status tetap tidak otomatis menyelesaikan persoalan ekonomi.

Sebagai lulusan S2, istri saya pernah mendapat tawaran menjadi dosen di luar kota dengan penghasilan sekitar Rp1,8 juta per bulan. Secara status, pekerjaan itu terdengar menjanjikan.

Namun, kami harus menghitung biaya yang menyertainya: kos, makan, transportasi, dan kemungkinan menjalani pernikahan jarak jauh.

Penghasilan Rp1,8 juta itu pada akhirnya akan habis hanya agar pekerjaan tersebut tetap bisa dijalani.

Karena itu, saya sering bertanya-tanya setiap mendengar nasihat, “Yang penting kerja dulu.”

Saya tidak mengatakan pekerjaan dengan gaji Rp1,8 juta tidak penting. Namun, menerima pekerjaan bukan keputusan sesederhana memilih bekerja atau menganggur. Terlebih setelah menikah, sebuah pekerjaan harus dihitung bersama biaya hidup, tempat tinggal, jarak, dan kehidupan pasangan.

Sebelum menikah, ketika tidak memiliki pekerjaan tetap, persoalannya hanya berbunyi: saya belum punya pekerjaan tetap. Setelah menikah, kalimat itu berubah menjadi: kami belum punya pekerjaan tetap.

Hanya satu kata yang berubah, tetapi tanggung jawab di belakangnya jauh lebih besar.

Kalau saya mendapat pekerjaan di kota lain, apakah istri harus ikut? Kalau pekerjaan istri berada di luar kota, apakah saya yang mengalah?

Atau kami harus menjalani LDR? Mendapatkan pekerjaan tetap bagi salah satu dari kami tidak hanya menentukan besarnya gaji, tetapi juga kota tempat kami tinggal dan karier siapa yang harus lebih dahulu menyesuaikan.

Gelar magister bukan slip gaji

Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin tinggi pula ekspektasi orang lain terhadap kehidupannya. Setelah lulus S2, saya kira orang-orang akan bertanya tentang penelitian atau bidang yang saya tekuni.

Ternyata ada yang bertanya mengapa saya belum mempunyai pekerjaan tetap. Ada pula yang melihat motor saya dan bertanya mengapa belum menggantinya. Ada yang heran mengapa setelah lulus S2 saya masih tinggal di rumah kontrakan. Bahkan, ada yang pernah meminjam uang kepada saya.

Saya kadang ingin mengatakan bahwa gelar magister bukan slip gaji.

S2 tidak otomatis membuat rekening bertambah, cicilan rumah menghilang, atau motor lama berubah menjadi baru. Gelar juga tidak membuat seseorang otomatis memperoleh pekerjaan tetap.

Orang-orang melihat dua huruf di belakang nama kami, tetapi tidak melihat berapa banyak lamaran yang telah dikirim, berapa lama kami menunggu jawaban, atau bagaimana rasanya mengetahui bahwa pekerjaan yang sedang dijalani akan berakhir dalam beberapa bulan.

Ketidakpastian itu bahkan pernah masuk ke rumah dan membuat kami bertengkar. Bukan karena kami tidak saling mendukung, melainkan karena kami sama-sama takut menghadapi bulan berikutnya.

CV hanya mencatat gelar, pengalaman, proyek, penelitian, dan publikasi. CV tidak mencatat kekhawatiran tentang biaya hidup. Ia juga tidak mencatat percakapan suami istri yang sama-sama tidak tahu beberapa bulan lagi akan bekerja di mana.

Kami tidak menyesal sekolah tinggi hingga jadi lulusan S2

Sejak kecil, kita seperti diajari rumus sederhana: sekolah yang rajin, kuliah, mendapatkan gelar, mencari pekerjaan, menikah, lalu hidup mapan. Kami mengikuti rumus itu, bahkan melanjutkannya sampai jenjang magister.

Kami belajar, mencari beasiswa, menyelesaikan kuliah, membangun pengalaman, menulis, meneliti, dan bekerja. Namun, ternyata ada satu bab yang jarang diajarkan: cara memperoleh pekerjaan yang layak ketika begitu banyak orang menginginkannya, sementara jumlah pekerjaan yang tersedia sangat terbatas.

Pasar kerja tidak punya kewajiban untuk terkesan pada perjuangan seseorang memperoleh gelar. Ia tidak peduli apakah biaya kuliah dibayar dengan beasiswa, tesis dikerjakan berbulan-bulan, atau seseorang telah memiliki publikasi dan pengalaman proyek.

Saya tidak ingin tulisan ini berakhir dengan kesimpulan bahwa sekolah tinggi adalah kesalahan. Kalau harus mengulang hidup, saya tetap akan sekolah. Istri saya pun mungkin akan mengambil pilihan yang sama.

Pendidikan memberi kami cara berpikir, pengalaman, dan kesempatan yang tidak selalu bisa diukur dengan gaji. Namun, kami akhirnya memahami bahwa pendidikan tinggi bukan kontrak menuju kemapanan. Gelar adalah modal, bukan jaminan.

Jadi, kalau ditanya bekerja di mana, saya akan tetap menjawab bahwa saya adalah peneliti dan konsultan. Jawaban itu benar. Istri saya juga punya jawaban sendiri tentang pekerjaannya, dan jawaban itu sama benarnya.

Kami tidak sedang mencari pekerjaan semata. Kami sedang mencari kepastian: bahwa bulan depan masih ada penghasilan, ketika sakit ada perlindungan, dan ketika orang bertanya “kantornya di mana?”, kami tidak perlu menjelaskan kehidupan kami panjang lebar.

Sebab, setelah lulus S2, menikah, bekerja, dan mengirim entah berapa banyak lamaran, masih ada satu pertanyaan sederhana yang belum bisa kami jawab dengan tenang:

“Bulan depan kalian masih punya pekerjaan?”

Penulis: Muhammad Irfan Nurdiansyah
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Lulus S3 dan Jadi Peneliti, Hidup Saya Malah Bergantung pada Honor Riset yang Tak Kunjung Cair dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.

Terakhir diperbarui pada 21 Agustus 2026 oleh .

Muhamad Irfan Nurdiansyah

Praktisi kebencanaan dengan latar belakang Magister Manajemen Bencana. Tertarik menulis tentang pendidikan, pekerjaan, perantauan, dan kegelisahan sehari-hari yang dialami generasi muda.

Exit mobile version