Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Saran untuk Kapolri: Tangkap Juga Pelaku Ujaran Berlebihan!

Kokok Dirgantoro oleh Kokok Dirgantoro
10 November 2015
A A
Saran untuk Kapolri: Tangkap Juga Pelaku Ujaran Berlebihan!

Saran untuk Kapolri: Tangkap Juga Pelaku Ujaran Berlebihan!

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Surat Edaran Kapolri mengenai ujaran kebencian alias #hatespeech sontak menjadi bahasan di sana-sini. Sebagian bersorak, sebagian lain mengkritisi. Bisa jadi sebagian lagi tak memikirkannya karena sibuk mengurusi bisnis besar, seperti saya. Tapi karena urusan uang besar sudah selesai, kini saatnya saya mengabdikan kembali intelektualitas saya untuk kepentingan publik lewat tulisan ini.

Saya pribadi enggan terjebak dalam keributan apakah ujaran kebencian itu penting atau tidak untuk Indonesia. Justru saya merekomendasikan untuk memperluas target penangkapan dengan meringkus juga oknum-oknum ujaran berlebihan.

Iklan

Apa ujaran berlebihan itu? Itu frase yang saya ciptakan sendiri. Artinya adalah penyebaran informasi/data secara berlebihan hingga terjadi bias seolah prestasi, padahal sesuatu yang biasa-biasa saja. Bingung dengan penjelasan ini? Baiklah, saya beri contoh.

Pekan lalu, misalnya, diberitakan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dengan bangga memamerkan prestasi: RI ekspor beras organik 134 ton ke beberapa negara. Kendati demikian, menurutnya ekspor ini hanya pemanasan.

Sepintas berita ini sangat luar biasa. Wow, RI ekspor beras tahun ini! Mentan luar biasa! Namun setelah saya coba-coba browsing ekspor beras organik, ternyata sudah beberapa tahun terakhir RI ekspor beras organik 1.500 ton per tahun ke berbagai negara. Ealah…

Contoh lainnya lagi, selama belasan tahun impor bawang merah (shallot), kali ini Indonesia akhirnya bisa mengekspornya. Mantap sekali berita ini. Namun, coba saja cek data produksi dan konsumsi bawang merah tahunan nusantara. Untuk produksi bisa mencapai 1,3-1,5 juta ton, sementara konsumsi sekitar 1-1,2 juta ton. Lalu diapakan sisanya kira-kira kalau tidak diekspor dan dijadikan benih? Itu artinya, tiap tahun Indonesia ekspor bawang merah ke luar negeri, maka ekspor tahun ini mestinya bukanlah hal baru atau prestasi luar biasa.

Tahun ini ekspor bawang merah bisa mencapai lebih dari 30 ribu ton, lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini bisa terjadi karena berbagai sebab. Misalnya, karena petani bawang merah sukses menghadapi El Nino, sementara negara lain mungkin kurang beruntung. Atau karena petani bawang merah sukses menurunkan biaya produksi dari penggunaan bibit bawang merah biasa menjadi benih bawang merah jenis “Bulb”, sehingga bisa ditanam di areal yang lebih luas.

Nah, kembali ke isu awal: Mengapa saya fokus dengan ujaran berlebihan? Untuk bercandaan lebay? Tidak!

Saya bukan orang yang suka berlebihan. Bahwa isi rekening saya berlebihan, tentu itu soal lain. Memberitakan hal yang bukan prestasi menjadi seolah prestasi itu membahayakan. Komunikasi yang tidak jujur akan membawa malapetaka. Contoh yang paling saya suka adalah bagaimana komunikasi Jepang dan Amerika Serikat kepada masyarakatnya ketika perang dunia ke-II.

Jepang mengkomunikasikan setiap kemenangan pertempuran dengan gegap gempita dan mengubur informasi mengenai kekalahan, bahkan mengubahnya menjadi prestasi perang untuk beberapa kasus. Rakyat Jepang pun terlena. Mereka mengira bakal terus menang dan akan memimpin dunia. Tingkat kewaspadaan dan kebersamaan mereka dengan negara tidak tereskalasi.

Sebaliknya, Amerika Serikat mengomunikasikan ke publik di negaranya informasi apa adanya. Jika menang, diberitakan menang, jika kalah, ya, diberitakan kalah. Bahkan spesifikasi tank Jerman yang jauh lebih hebat dari tank mereka pun juga diinformasikan. Cara itu membuat rakyat Amerika justru berempati kepada pemerintah dan tentara.

Hingga akhirnya mereka memutuskan membeli obligasi perang dan periset metalurgi, berikut manufaktur otomotif agar dapat bekerja lebih keras untuk memproduksi tank yang lebih tangguh walau mustahil. Dengan kekuatan pendanaan yang besar tersebut, Amerika Serikat mampu memproduksi tank lebih banyak dan lebih cepat daripada Jerman–tentunya dibantu dengan sekutu. Alhasil, tank Jerman yang lebih kokoh pun kalah jumlah.

#Neolib selalu benar, hahahahaha. Mati kau, Dandhy Laksono!!!

Apa pesan moral dari cerita tentang Perang Dunia ke-II tersebut?

Bahwa program komunikasi yang artifisial dan karikatif untuk citra ada kalanya penting. Tapi kalau sudah berlebihan, tentu membahayakan. Apalagi sampai mengubur berbagai berita negatif yang harusnya dipikirkan cara penyelesaiannya bersama-sama.

Contoh lainnya lagi, masih ingat peristiwa pembuangan tomat di jalan dan selokan Garut? Apa yang terjadi sebenarnya?

Tangan-tangan terampil petani Garut sebenarnya telah sukses mengembangkan tanaman tomat di dataran rendah. Turunnya elevasi lahan tanaman membuat luas lahan kian besar, sehingga produktivitasnya pun tinggi. Sebuah kecerdasan lokal yang luar biasa, bahkan dalam kondisi iklim kering-kerontang El Nino.

Namun apa lacur, pemerintah gagal mengantisipasi ‘prestasi’ para petani tomat tersebut hingga harganya hancur lebur di bawah Rp500/kg. Padahal, Garut adalah penghasil 10-12% total produksi tomat nasional, dan sebanyak 30-35% produksi tomat se-Jawa Barat diproduksi hanya dari Garut. Apa iya dengan produktivitas demikian tinggi tidak ada perhatian pemerintah pusat dan daerah?

Iklan

Rasanya, jika pemerintah serius mengekspos informasi bahwa akan terjadi produktivitas panenan tomat yang tinggi di Garut, pasar-pasar induk se-Jawa semestinya dapat bersiap menampungnya. Para pengekspor tomat juga bisa datang ke lokasi melihat kualitas tomat mana saja yang bisa diekspor. Para pengusaha mungkin juga akan memperhitungkan untuk membangun manufaktur produk olahan tomat di Garut.

Dari sana pemerintah semestinya menyusun kebijakan yang menguntungkan petani tomat, membuka ruang investasi yang mendukung produk lokal, atau setidaknya membuat suatu kampanye bersama, seperti, “Ayo makan tomat Garut!”. Bukannya hanya menunggu harga ambyar, lalu bikin pasar murah untuk bantu petani dengan berbagai susupan kepentingan politis.

* * *

Memang kesal melihat ujaran kebencian–apalagi jika Anda pemilih Jokowi seperti saya. Selain itu, Anda pastinya terganggu banget dengan berbagai akun anonim yang menyerang dan melibatkan kita dalam convo (perbincangan kelompok) Twitter yang arahnya merundung presiden, sambil mengejek: “Tuh lihat presiden pilihanmu!”

Bukan berarti mereka jahat. Mereka, para pembenci kelas wahid itu, hanya sekumpulan orang caper karena selama ini kurang perhatian. Bisa jadi karena tuna asmara atau pecundang di dunia nyata. Dengan menjadi anonim, mereka bebas menghina dan merendahkan orang lain, lalu mengira nasib setiap orang sama buruk dengan kehidupannya.

Namun, apakah orang-orang seperti itu harus dipenjara? Bukankah konseling kejiwaan lebih penting untuk mereka? Apakah ujaran kebencian sudah demikian dahsyatnya hingga mampu mengumpulkan ribuan massa dan membentuk barisan perlawanan yang solid?

Sejauh ini, kebencian tak berdasar hanya laku di kalangan yang sama. Untuk kalangan yang waras dan tak mau terseret arus polarisasi, ujaran kebencian dalam berbagai bentuk hanyalah hiburan/lawakan selewat. Dapat perhatian iya, tapi cuma selewat. Ya, selevel Vicky Prasetyo di masa jayanya. Paling banter juga cuma hestek-hestekan doang. Yang seperti ini jauh rasanya dari membahayakan keamanan negara.

Tapi kalau sudah membawa unsur SARA, rasanya undang-undang ujaran kebencian menjadi perlu karena postingan tersebut dapat menimbulkan berbagai dampak buruk yang susah dilokalisir. Dan jika ujaran kebencian (yang dilakukan haters tanpa pijakan informasi, data, dan logika yang masuk akal) dianggap membahayakan, tentu saya juga akan mendorong ujaran berlebihan juga diatur melalui Surat Edaran Kapolri.

Ada yang mau dukung saya?

 

*sumber gambar: huffingtonpost

Terakhir diperbarui pada 18 Februari 2021 oleh

Tags: #hatespeechMediasurat edaran kapolri
Kokok Dirgantoro

Kokok Dirgantoro

Artikel Terkait

AMSI dan UAJY kerja sama untuk ciptakan media yang sehat. Penandatanganan diwakili Rektor UNY Sri Nurhartanto dan Ketua AMSI Pusat Wahyu Dyatmika. (Istimewa)

AMSI dan UAJY Kerja Sama untuk Ciptakan Ekosistem Media yang Sehat

14 April 2026
Waduh! 3 Konglomerat Media Ini Ikut Pemilu 2024, Yuk Intip Harta Kekayaannya MOJOK.CO

3 Konglomerat Media Ini Ikut Pemilu 2024, Yuk Intip Harta Kekayaannya

5 Oktober 2023
Seorang Kakek 73 Tahun di Solo yang Setia Jualan Kliping Sumber Ilmu Pengetahuan. MOJOK.CO

Seorang Kakek 73 Tahun di Solo yang Setia Jualan Kliping Sumber Ilmu Pengetahuan

23 Mei 2023
Kisah Loper Koran, Terus Bertahan Demi Sesuap Nasi Meski Sepi Pembeli. MOJOK.CO

Kisah Loper Koran, Terus Bertahan Demi Sesuap Nasi Meski Sepi Pembeli

6 Maret 2023
Wisnu Prasetya: Netralitas Media Cuma Ilusi Belaka!

Wisnu Prasetya: Netralitas Media Cuma Ilusi Belaka!

9 Mei 2022

Alasan Orang Tua Ingin Anaknya Jadi PNS

8 November 2021
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Universitas Terbuka (UT).MOJOK.CO

Kuliah di UT Dikira Bikin Kehilangan Relasi, Mahasiswanya Malah Bisa Membangun Jejaring sampai Luar Negeri 

27 Agustus 2026
Melalui hidangan Buntil Salmon, Sasanti Restaurant menghadirkan telisik gastronomi dan permakultur yang memberi pengalaman mengesankan dalam mengeksplorasi kekayaan kuliner Nusantara. (Nusaplant)

Melalui Buntil Salmon, Sasanti Restaurant Tak Hanya Bicara Rasa tapi Pertemuan Kekayaan Pangan dan Flora Nusantara

21 Agustus 2026
ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026
S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026
Nasib siswa di tengah Karhutla Palangka Raya, Kalimantan Tengah. MOJOK.CO

Nasib Siswa SD di Tengah Kepungan Karhutla, Napas Sesak dan Pusing tapi “Dipaksa” Semangat Sekolah

26 Agustus 2026
Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik MOJOK.CO

Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik

26 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.