ADVERTISEMENT

Lulus S3 dan Jadi Peneliti, Hidup Saya Malah Bergantung pada Honor Riset yang Tak Kunjung Cair

Lulus S3 dan Jadi Peneliti, Hidup Saya Malah Bergantung pada Honor Riset yang Tak Kunjung Cair MOJOK.CO

Peneliti bukan hanya yang bekerja di BRIN

Kebanyakan orang tahu bahwa peneliti itu adalah mereka yang bekerja di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Namun, sebenarnya banyak peneliti lainnya yang bekerja di luar lembaga pemerintah, mereka juga menghasilkan riset-riset dan memproduksi karya intelektual tanah air.

Dalam konteks ini, para peneliti prekariat mendedikasikan diri mereka untuk terus menemukan ide dan inovasi intelektual di bidangnya masing-masing. 

Mereka setiap hari harus begadang dan seringkali menghabiskan waktu di depan laptop untuk menulis, membaca, mengedit draf tulisan mereka, merevisi hasil review dari reviewer, dan akhirnya hasil riset mereka dalam bentuk artikel jurnal, buku, book chapter maupun edited volume diterbitkan.

Jika semua peneliti prekariat dikumpulkan dalam satu forum. Tentu mereka bakal menjadi pasukan tak terkalahkan. Pasalnya mereka adalah tulang punggung intelektualisme negeri ini. 

Memang, apabila dibandingkan dengan dosen, akademisi, peneliti di lembaga riset pemerintah, dan lembaga think thank. Para peneliti prekariat bisa dikatakan masih kalah jauh pamornya dan masih minim penghargaan.

Andai saja, mereka diberikan suara untuk mengeluarkan pendapatnya. Mereka juga ingin diwadahi dan mendapatkan tempat yang layak untuk terus memproduksi riset-riset yang bermutu.

Ekonomi keluarga tergantung proyek yang dikerjakan

Dalam konteks lain, meskipun mereka tidak memiliki beban kerja seperti halnya peneliti level pemerintah.  Mereka justru terbebani dengan berbagai macam kebutuhan hidup, mulai dari urusan pokok keluarga, cicilan rumah tangga, Kredit Pemilikan Rumah (KPR), biaya sekolah anak, dan lainnya.

Untuk itu, perekonomian mereka sangat tergantung bagaimana proyek yang mereka kerjakan, hibah yang didapat, dan honorarium yang diperoleh. Jika selama ini, di negeri ini peneliti kurang mendapatkan perhatian. 

Sesungguhnya, karena peneliti belum mendapatkan tempat yang layak dalam dunia akademik tanah air. Sementara, di beberapa negara, seperti halnya Singapura, Inggris, Belanda, China, dan negara-negara maju lainnya, mereka justru menghargai profesi peneliti dan gaji, serta tunjangan yang mereka dapatkan sangat fantastis. 

Bahkan, setiap bulan mereka bisa menyisihkan dana untuk berlibur. Sedangkan, peneliti kita justru disibukkan dengan terus memproduksi riset, tetapi tidak sempat untuk berlibur.

Harapan besar saya sebagai peneliti prekariat, semoga mereka dimana pun tempatnya bisa terus memproduksi riset-riset yang berdampak dan bermutu, serta mendapatkan gaji yang sesuai dengan harapan. Sehingga mereka mampu mencukupi kebutuhan keluarga mereka. 

Di tengah biaya hidup yang terus meroket. Karena tanpa mereka, iklim riset negeri ini juga akan mengalami penurunan, bahkan jauh perbedaannya dibandingkan negara-negara lainnya.

Penulis: Firmanda Taufiq
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Sekte “Pemuja Kargo” di Ekosistem Kampus Indonesia yang Mencetak Peneliti Palsu dan Ilmuwan Abal-Abal dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.

Terakhir diperbarui pada 21 Agustus 2026 oleh .

Firmanda Taufiq

Seorang penulis, peneliti, dan penyuka buku. Ia merupakan alumnus S3 Kajian Timur Tengah Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia juga menjadi Co-Chair Cluster Riset Stabilitas Nasional, Pertahanan & Kepemimpinan Global, Mata Garuda Institute.