ADVERTISEMENT

TPP ASN Dipotong, Kami Berhenti Jajan dan Warung Kecil Ikut Kehilangan Pelanggan

TPP ASN Dipotong, Kami Berhenti Jajan dan Warung Kecil Ikut Kehilangan Pelanggan MOJOK.CO

MOJOK.COKetika TPP ASN dipotong atas nama efisiensi, bukan hanya keluarga pegawai yang harus berhemat, melainkan warung, pedagang kecil, dan UMKM yang ikut kehilangan pendapatan.

Aku menghela napas sambil menghitung sisa uang di rekening. Kiriman dari suami belum juga masuk, sementara bulan sudah hampir menyentuh pertengahan. Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) yang sempat mandek selama beberapa bulan dan kini hanya dibayarkan sekitar 50 persen belum juga kami terima. Kalau sudah cair pun, jumlahnya tinggal sekitar satu juta rupiah.

Gaji bulanan suami sebenarnya tetap masuk. Namun, setelah dipotong angsuran rumah melalui bank, jumlah bersih yang tersisa hanya beberapa ratus ribu rupiah. Karena itu, selama ini TPP menjadi penopang penting bagi kebutuhan sehari-hari keluarga kami.

Kami tinggal di Kabupaten Siak, Riau. Seperti banyak pemerintah daerah lain, Pemkab Siak sedang menghadapi tekanan anggaran. Efisiensi dan kondisi keuangan daerah akhirnya terasa sampai ke penghasilan para ASN.

Aku percaya rezeki sudah diatur Tuhan. Berapa pun yang diterima, aku hanya bisa berdoa agar tetap cukup. Namun, doa tentu harus disertai perhitungan. Uang yang semakin terbatas itu harus dibagi untuk membeli bahan makanan, bensin, popok dan susu anak, serta berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya.

Syukurlah aku juga bekerja sehingga kami tidak sampai harus berutang kepada orang lain. Meski demikian, ada banyak pengeluaran yang terpaksa disesuaikan.

Kami mulai jarang makan dan jajan di luar. Belanja lauk-pauk dibuat lebih sederhana. Untuk kebutuhan sayur, aku memanfaatkan apa yang tersedia di halaman rumah. Aku yang biasanya menggunakan jasa laundry kini memilih mencuci dan menyetrika sendiri sepulang kerja, betapa pun tubuh sudah terasa letih.

Bukan karena kami mendadak anti-jajan atau tiba-tiba menemukan kebahagiaan dalam tumpukan pakaian kotor. Kami hanya sedang menyesuaikan kebiasaan dengan isi rekening.

Ternyata, bukan hanya keluarga kami yang melakukan hal serupa.

Ketika ribuan ASN mengurangi belanja secara bersamaan

Di Kabupaten Siak terdapat sekitar 8.000 ASN. Jumlah tersebut memang tidak mendominasi seluruh penduduk Siak, tetapi bukan angka yang sedikit jika ribuan orang itu mengurangi pengeluaran pada waktu yang hampir bersamaan.

Perubahannya mungkin terlihat remeh. ASN yang biasanya makan siang di warung mulai membawa bekal. Mereka yang biasa membeli kopi di kedai memilih menyeduh kopi sendiri di kantor. Pakaian yang biasanya diserahkan ke laundry mulai dicuci sendiri. Kebiasaan membeli jajanan untuk anak sepulang kerja pun harus dipikirkan berulang kali.

Bagi satu keluarga, penghematan itu mungkin hanya bernilai puluhan ribu rupiah sehari. Namun, bayangkan jika ribuan keluarga melakukan hal yang sama selama berbulan-bulan.

Dalam satu hari, misalnya, seorang ASN mengurangi belanja sebesar Rp20 ribu. Jika 8.000 ASN melakukan hal serupa, ada potensi Rp160 juta yang tidak dibelanjakan. Dalam sebulan, nilainya bisa mencapai miliaran rupiah.

Hitungan itu tentu hanya ilustrasi sederhana, bukan angka pasti. Tidak semua ASN memiliki pola konsumsi yang sama dan tidak seluruh uang mereka dibelanjakan di Siak. Namun, ilustrasi tersebut menunjukkan bahwa perubahan kecil dalam belanja ribuan orang dapat menghasilkan dampak yang jauh lebih besar terhadap perputaran ekonomi lokal.

Uang yang tidak jadi dibelanjakan ASN bukan hanya angka yang diam di dalam rekening. Uang makan siang seharusnya masuk ke warung, lalu digunakan pemilik warung untuk membeli beras, minyak goreng, dan bahan masakan.

Uang laundry seharusnya menjadi pendapatan pemilik usaha untuk membeli sabun, membayar listrik, dan menggaji pekerja. Uang untuk membeli kopi atau jajanan seharusnya menjadi modal pedagang untuk berjualan kembali keesokan hari.

Ketika uang itu berhenti berpindah tangan, bukan hanya ASN yang merasakan akibatnya.

UMKM ikut menanggung efisiensi dari pemotongan TPP ASN

Sejumlah pelaku UMKM dan pedagang pasar di sekitar kami mulai mengeluhkan penurunan daya beli. Rumah makan dan warung kopi semakin sepi. Jasa laundry kehilangan pelanggan. Penjual jajanan mendapati dagangannya lebih banyak tersisa.

Beberapa pedagang mengatakan bahwa pelanggan dari kalangan ASN yang biasanya rutin datang kini semakin jarang berbelanja atau menggunakan jasa mereka.

Hal itu masuk akal. ASN termasuk konsumen yang memiliki pola pendapatan dan belanja relatif tetap. Mereka membeli sarapan atau makan siang ketika tidak sempat memasak. Sepulang kerja, mereka membeli jajanan untuk anak. Mereka menggunakan jasa laundry karena tidak selalu memiliki waktu dan tenaga untuk mencuci pakaian satu rumah.

Kebiasaan-kebiasaan sederhana itu mungkin selama ini tidak dianggap penting. Padahal, dari sanalah sebagian roda ekonomi masyarakat kecil bergerak.

Penghasilan yang diterima ASN tidak berhenti di rekening mereka. Uang itu kembali beredar di daerah dalam bentuk belanja kebutuhan rumah tangga, ongkos transportasi, makanan, dan jasa. Setelah diterima pedagang, uang yang sama kembali digunakan untuk membeli barang dagangan, membayar pegawai, atau memenuhi kebutuhan keluarganya.

Karena itu, ketika pembayaran TPP berkurang atau terlambat, yang menyusut bukan hanya pendapatan keluarga ASN. Ada warung yang kehilangan pelanggan, laundry yang kehilangan beberapa kilogram cucian, penjual gorengan yang membawa pulang lebih banyak dagangan, dan pedagang pasar yang mulai bertanya-tanya mengapa pembeli sekarang lebih sering menawar tetapi membeli lebih sedikit.

Pemotongan TPP ASN mungkin bukan satu-satunya penyebab menurunnya omzet UMKM. Kenaikan harga kebutuhan pokok dan kondisi ekonomi secara umum juga memengaruhi kemampuan masyarakat untuk berbelanja. Namun, di daerah dengan ribuan ASN, berkurangnya konsumsi mereka tentu bukan faktor yang bisa diabaikan.

Efisiensi tidak berlangsung di ruang kosong

Aku tidak sedang mengatakan bahwa belanja pegawai pemerintah tidak boleh dievaluasi. Pemerintah tentu harus berhati-hati menggunakan uang negara. Anggaran harus dikelola secara efisien dan diarahkan untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat.

Namun, efisiensi juga tidak boleh berhenti pada pertanyaan tentang berapa banyak uang yang berhasil dipangkas. Pemerintah perlu menghitung dampak lanjutan dari setiap pengurangan anggaran.

Jika penghasilan ribuan orang berkurang, konsumsi mereka juga akan menurun. Ketika konsumsi turun, ada pelaku usaha yang kehilangan pendapatan. Pada akhirnya, penerimaan daerah dari aktivitas ekonomi pun bisa ikut melemah.

Karena itu, sebelum mengurangi penghasilan pegawai, pemerintah daerah semestinya memastikan bahwa belanja lain yang kurang penting sudah lebih dahulu dievaluasi. Pemerintah juga perlu menjelaskan secara terbuka alasan pengurangan TPP, berapa lama kebijakan itu akan berlangsung, dan bagaimana nasib pembayaran yang masih tertunda.

Belum lama ini, anggota DPR Rahayu Saraswati Djojohadikusumo mengkritik anggaran lembaga penyiaran publik yang hanya cukup untuk “memberi makan ASN”, tetapi tidak menyisakan cukup ruang untuk program bagi masyarakat. Pernyataan tersebut memang tidak secara khusus membicarakan TPP ASN di daerah.

Namun, pilihan katanya menunjukkan cara pandang yang seolah-olah menempatkan penghasilan ASN berlawanan dengan kepentingan rakyat.

Padahal, ASN juga bagian dari masyarakat. Mereka memiliki keluarga, kebutuhan hidup, cicilan, dan tanggungan. Mereka bukan sekadar angka dalam pos belanja pegawai.

Pemotongan TPP ASN seperti tidak berhitung pada dampak aktivitas ekonomi

Selain itu, uang yang digunakan untuk “memberi makan ASN” tidak menghilang setelah masuk ke rekening mereka. Ketika digunakan untuk membeli makanan di warung, membayar laundry, membeli jajanan, atau berbelanja di pasar, uang itu berubah menjadi pendapatan bagi masyarakat lain.

Persoalannya bukan tentang membiarkan belanja pegawai membengkak tanpa pengawasan. Persoalannya adalah kebijakan yang terlalu mudah melihat pemotongan anggaran sebagai penghematan, tanpa menghitung berapa banyak aktivitas ekonomi yang ikut menghilang setelahnya.

Begitulah, saudara-saudari. Jika kaki tak pernah menapak ke bumi dan kita tak pernah mencoba memakai sepatu orang lain, kita mungkin akan mudah mengatakan bahwa sebuah angka hanyalah angka. 

Padahal, ketika angka itu dipotong dari satu sisi, ia bisa berubah menjadi piring kosong di sisi yang lain.

Sebab kita tidak pernah benar-benar tahu sesaknya sepatu orang lain jika kita hanya sibuk menilainya dari tempat kita berdiri.

Penulis: Yessy Niarty
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Apa Salahnya ASN Jualan Nasi Kuning? Gaji Tetap, Kebutuhan Terus Bertambah

 

Terakhir diperbarui pada 11 September 2026 oleh .

Yessy Niarty

Yessy Niarty merupakan banker dan penulis yang memiliki ketertarikan pada isu sosial, ekonomi, politik, pop culture hingga kehidupan working mom. Ia menulis tentang hal-hal yang dekat dengan keseharian, pengalaman, serta berbagai fenomena yang sedang hangat dibicarakan.