Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Orang Jogja Ternyata Lemah Sekali ketika Ketemu KA Babaranjang yang Memang Menyebalkan di Jalanan Bandar Lampung

Razi Andika oleh Razi Andika
11 April 2024
A A
Orang Jogja Lemah Mental di Depan KA Babaranjang Lampung MOJOK.CO

Ilustrasi Orang Jogja Lemah Mental di Depan KA Babaranjang Lampung. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

KA Babaranjang, kereta yang menjaga Pulau Jawa tetap benderang

Kamu harus tahu bahwa pada akhir 2023 lalu, KA Kertajaya memecah rekor sebagai kereta penumpang dengan rangkaian terpanjang. Rangkaian 16 gerbong itu sanggup ditarik dari Stasiun Pasar Senen Jakarta sampai Stasiun Pasar Turi Surabaya. 

Namun, KA Kertajaya dan rekornya minggir dulu. Kenalkan, KA Babaranjang, akronim dari Kereta Api Batu Bara Rangkaian Panjang. Panjang bukan cuma nama, gerbong kereta ini bisa beroperasi dengan 61 gerbong sekali jalan! Iya, orang Jogja bayangin aja dulu.

Iklan

Panjang barisan gerbong bisa sampai 1 kilometer. Dengan jumlah itu, KA Babaranjang sanggup mengangkut kurang lebih 3 ribu ton batu bara milik PT. Bukit Asam. 

Perjalanan bahan utama pembangkit listrik ini dimulai dari stasiun Tanjung Enim Sumatera Selatan menuju Pelabuhan Tarahan, Lampung. Kapal PLTU Suralaya kemudian mengangkut batu bara tersebut menuju Banten, demi membuat Jogja dan Pulau Jawa jadi pulau paling benderang se-Indonesia.

Tapi sebelum itu, KA Babaranjang akan melintas di tengah kota Bandar Lampung terlebih dahulu. Dan, sudah pasti, kereta yang pasti bikin kesal ini akan menyita waktu Wawan yang sudah tidak sabar mencecap kopi robusta racikan tangan ahli khas barista lokal. 

Orang Jogja yang marah-marah, tapi ternyata lemah 

Dari kejauhan, terlihat palang pintu kereta menutup ditambah iringan sirine. Saya memperlambat laju motor, lokomotif KA Babaranjang belum melintas, dan Wawan masih belum merasakan keanehan. 

“Lha, kok nggak lewat-lewat,” orang Jogja itu mulai merasakan kejanggalan. 

KA Babaranjang sudah pasti menarik rem dari jarak jauh, posisinya sudah tak jauh dari Stasiun Tanjung Karang, Lampung. Malam itu, pengendara motor dan mobil tidak terlalu ramai. Posisi kami sendiri tidak terlalu jauh dari palang pintu. 

Di sebelah kami, satu pengendara lain menurunkan standar samping motornya, lalu membakar rokok. Dari spion motor saya melihat Wawan menyembunyikan tawa tapi tetap tampak cemas. “Santai banget ni orang,” bisiknya. 

Saya hanya membalas dengan senyum. Tak lama itu, ada satu pengendara lain mengunci dan meninggalkan motornya untuk beli donat goreng yang ada di pinggir jalan. 

Ekspresi heran sudah tidak bisa disembunyikan oleh orang Jogja ini. “Kok santai-santai banget ya orang Lampung, Zi? Ditinggalin, lho, motornya,” kata Wawan dengan sedikit bingung. 

“Ya santailah, agak lama emang keretanya lewat,” terang saya dengan sedikit tawa. 

“Halah, paling berapa lama sih?” sambut Wawan lagi. 

Lokomotif KA Babaranjang baru saja lewat dan Wawan makin memberondong saya dengan banyak pertanyaan. 

Iklan

“Kereto opo iki, Cuk?” 

“Jingan! Pirang gerbong e iki?” 

“Asui! Sui tenan!” 

Tidak satu pun keluhan orang Jogja satu ini yang saya respons. Namun, saya tidak bisa menyembunyikan tawa melihat ekspresi Wawan yang kesal.

Kereta yang membuat kesal

Yah, sesungguhnya, semua ini adalah wajar. KA Babaranjang jauh berbeda dari yang sering melintasi Stasiun Lempuyangan atau Stasiun Tugu di Jogja. Kereta yang lewat kali ini tidak ada jendela, cuma deretan besi yang berbaris tidak ada habisnya, serta atap yang terbuka lebar.

Rokok filter pengendara di sebelah saya sudah terbakar setengah, donat yang dibeli pengendara lainnya juga rampung dikemas. Tapi, KA Babaranjang masih melintas, dan saya mesti meladeni kerungsingan Wawan sekaligus memberinya penjelasan apa itu KA Babaranjang serta detail-detail lainnya. 

Dan sungguh, pemandangan saat KA Babaranjang melintas sangat menjemukan. Sekitar 10 menit sampai palang pintu kereta terbuka, akhirnya keluhan orang Jogja satu ini mereda. 

“Lemah!” Maki saya pada Wawan sambil bercanda, dan makian itu menyembur bukan tanpa alasan. Sebab, Wawan belum merasakan pengalaman terjebak saat KA Babaranjang melintas di pagi hari, saat orang-orang memadati jalanan sebelum beraktivitas. 

Menunggu KA Babaranjang melintas ditambah macet bisa menyita 10-15 menit. Memang, di beberapa jalan utama kota Bandar Lampung sudah ada flyover. Namun, masih ada jalan kecil di sekitar permukiman warga Lampung yang dilintasi rel kereta api. Beberapa di kabupaten dan desa-desa kecil bahkan tanpa palang pintu. Selain menyita waktu, juga cukup berisiko bagi lalu-lalang warga sekitar.

Meskipun demikian, KA Babaranjang masih berjasa menyumbang pendapatan fantastis untuk PT KAI. Bahkan, laba yang diperoleh dari pengangkutan batu bara ini diyakini mampu menambal biaya operasional kereta penumpang di Pulau Jawa. 

Di tahun 2023 saja, PLTU Suralaya Banten sebagai salah satu penyuplai listrik terbesar di pulau terpadat sedunia itu menerima total 25,4 juta ton batu bara. Hal ini tentu berperan penting menjaga cahaya di Jogja dan Pulau Jawa tetap menyala. Dan justru fakta inilah yang tidak banyak dipahami oleh warganya.

Manfaat sebuah kereta yang biasanya bikin sebal

“Kamu nggak perlu bersimpati ke kami kok, Wan,” goda saya pada Wawan. 

Sejak jadi orang paling gelisah di depan palang pintu rel kereta tadi, kini mood-nya terlihat lebih baik. Duduk santai di kedai kopi kecil yang syahdu di bilangan Way Halim Lampung sambil menelusuri kisah KA Babaranjang memang menyenangkan. 

Wawan menyeruput kopinya lebih dalam ketika dia membuktikan sendiri fakta-fakta penting di balik KA Babaranjang. Fakta-fakta yang orang Jogja temukan ini, seperti berita kecelakaan yang melibatkan KA Babaranjang di banyak lokasi hingga merenggut nyawa. Sebuah kekhawatiran bagi warga Lampung dan Sumatera Selatan, namun tidak dirasakan orang-orang di Pulau Jawa yang justru banyak merasakan manfaat dari kerja keras KA Babaranjang. 

Gelas kopi Wawan yang mengering sudah diisi ulang. Obrolan dilanjutkan dengan menyusun rencana berangkat ke Pesisir Barat keesokan harinya. Kami akan start sejak pagi dan mencari perlintasan kereta api lebih dulu. Wawan mesti merasakan sensasi KA Babaranjang lagi, tapi kali ini di jalan yang lebih ramai, dan di waktu lebih yang sibuk. Biarin, kan katanya orang Jogja itu orangnya sabar. Ya, kan? Hehe.

Penulis: Razi Andika

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Pengalaman Keliling Indonesia Naik Honda Beat: Catatan Kebodohan yang Berakhir di Jogja dan kisah menarik lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 11 April 2024 oleh

Tags: Bandar LampungJogjaKA BabaranjangKA Babaranjang LampungKopi Robusta LampungLampungPT KAIpulau jawaStasiun LempuyanganStasiun Tugu JogjaWay Halim Lampung
Razi Andika

Razi Andika

Sering masuk angin.

Artikel Terkait

kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO
Sehari-hari

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO
Kabar

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co
Hiburan

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan MOJOK.CO

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan

19 Juli 2026
Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum.MOJOK.CO

Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum

20 Juli 2026
Pemuda lulusan SMK tidak menyerah mencari kerja dengan modal ijazah SMK demi orang tua MOJOK.CO

Modal Ijazah SMK dan Pengalaman Tak Nyerah Cari Kerja demi Orang Tua, Meski Sering Terima “Penolakan” karena Fisik

21 Juli 2026
Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri? MOJOK.CO

Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri?

20 Juli 2026
Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Standard Ganda: Orang Kota Sok Lebih Berkelas, Padahal di Mata Orang Desa Sama Noraknya

21 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.