Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Menghabiskan Makanannya

Nurul Jubaedah oleh Nurul Jubaedah
1 April 2026
A A
Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Mencoba Menghabiskan Makanannya MOJOK.CO

Ilustrasi Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Mencoba Menghabiskan Makanannya. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Jadi guru sekaligus wali kelas yang harus membagi menu MBG ke siswa itu menciptakan perasaan yang aneh.

Saya tidak tahu harus mulai dari mana. Mungkin dari wajah anak-anak yang bosan melihat menu hari itu, atau dari punggung saya sendiri yang pegal karena bolak-balik mengatur antrean makan. 

Atau dari rasa capek yang aneh: bukan capek mengajar, tapi capek mengurus sesuatu yang bahkan tidak selalu dimakan oleh anak-anak.

Niat MBG itu sangat mulia

Sebagai guru sekaligus wali kelas, saya merasakan langsung bagaimana Program Makan Bergizi Gratis (MBG) itu hadir bukan hanya sebagai program pemerintah, melainkan sebagai pekerjaan tambahan yang tidak tertulis di SK. 

Tugas saya bukan cuma memastikan anak-anak paham pecahan atau bisa membedakan kalimat aktif dan pasif. Namun, juga memastikan mereka menerima makanan, duduk rapi, makan dengan tertib, dan… ya, meminta mereka setidaknya mencoba menghabiskannya.

Masalahnya, “setidaknya mencoba” itu sering berhenti di kata “mencoba”.

Setiap hari pembagian MBG, suasana kelas berubah jadi semacam kantin dadakan. Meja digeser, anak-anak ribut, beberapa antusias, beberapa lagi langsung mengernyit begitu tutup kotak makan dibuka. 

Saya berdiri di depan, memanggil satu per satu, memastikan tidak ada yang terlewat. Dalam hati, saya sudah bisa menebak: hari ini bakal ada sisa makanan.

Dan benar saja.

Ada yang cuma makan nasi setengah. Ada yang lauknya disentuh pun tidak. Ada yang bilang, “Bu, aku nggak suka ini.” 

Ada juga yang diam saja, tapi kotaknya pulang dalam keadaan isi hampir utuh. Kalau sudah begini, saya yang bingung. Mau marah? Tidak bisa. Mau memaksa? Salah juga. Karena pada akhirnya, selera itu tidak bisa dipaksakan.

Di atas kertas, program MBG terlihat sangat mulia. Pemerintah ingin memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang cukup. Mengurangi stunting. Meningkatkan kualitas generasi masa depan. 

Semua itu terdengar benar, bahkan penting. Namun di lapangan, ceritanya tidak sesederhana itu.

Saya pernah menghitung secara iseng. Dari satu kelas saja, katakanlah 30 anak, minimal 5 sampai 10 porsi sering tidak habis. Kadang lebih. Kadang jauh lebih banyak lagi. 

Iklan

Itu baru satu kelas. Di satu sekolah bisa ada puluhan kelas. Di satu kota? Ribuan.

Lalu saya membaca angka yang lebih besar: jutaan ton makanan terbuang setiap tahun dari program ini. 

Kalau diterjemahkan ke bahasa saya sebagai wali kelas, itu berarti miliaran kotak makan yang mungkin nasibnya sama seperti di kelas saya, dibuka, dilihat, lalu ditinggalkan.

Dan jujur saja, itu menyedihkan.

Bukan hanya karena angkanya besar katanya sampai triliunan rupiah, tapi karena saya melihat sendiri bentuk nyatanya. Nasi yang mengering di kotak makan, sayur yang tidak tersentuh, ayam yang masih utuh tapi sudah dingin. Semua itu bukan lagi statistik. Itu makanan.

Badan Gizi Nasional sendiri pernah menyebutkan bahwa mereka telah mendorong penyelenggaraan Program MBG yang efisien untuk menekan sisa makanan di sekolah sekaligus mengurangi dampak lingkungan. Efisiensi program dinilai menjadi salah satu indikator penting keberhasilan MBG dalam jangka panjang.

Jangan-jangan bukan salah programnya, tapi pelaksanaannya yang tidak pas

Capeknya jadi wali kelas di momen membagikan MBG ini bukan cuma soal fisik. Memang, berdiri lama, mengatur anak-anak, membersihkan sisa-sisa, itu melelahkan. Namun, ada capek lain yang lebih halus: capek melihat sesuatu yang niatnya baik, tapi pelaksanaannya sering terasa tidak pas.

Kadang saya bertanya dalam hati, sebenarnya siapa yang menentukan menu MBG ini? Apakah pernah benar-benar bertanya ke anak-anak apa yang mereka suka? Atau minimal, apa yang mereka tidak suka? 

Karena kenyataannya, di satu daerah, makanan tertentu bisa jadi favorit. Tapi di tempat lain, itu malah jadi “musuh bersama” yang diam-diam disingkirkan.

Saya pernah mendapati satu menu MBG yang hampir seluruh kelas tidak habis. Bukan karena porsinya terlalu banyak, tapi karena rasanya asing di lidah mereka. 

Anak-anak ini bukan pemilih yang aneh-aneh. Mereka hanya terbiasa dengan makanan tertentu di rumah. Ketika tiba-tiba disuguhi sesuatu yang berbeda tanpa adaptasi, ya wajar kalau mereka menolak.

Di situ saya merasa, mungkin masalahnya bukan pada niat programnya, tapi pada cara program ini dijalankan.

Sistemnya terasa terlalu jauh dari realitas kelas. Terlalu “dari atas ke bawah”. Data penerima mungkin sudah rapi di laporan, tapi di lapangan, jumlah makanan MBG kadang tidak sesuai. 

Pernah ada kelebihan. Pernah juga kekurangan. Kalau berlebih, ya ujung-ujungnya dibuang. Kalau kurang, kami yang kelabakan.

Potensi besar Program MBG untuk pelajar

Sebagai wali kelas, saya sering jadi “penanggung jawab tidak resmi” untuk hal-hal seperti ini. Anak-anak protes ke saya. Orang tua bertanya ke saya. 

Namun, saya sendiri tidak punya banyak kuasa untuk mengubah apa pun selain, menyuruh anak-anak makan. Ironis, ya.

Di sisi lain, saya juga melihat potensi besar dari program MBG. Bayangkan kalau distribusinya lebih fleksibel. Kalau ada sistem yang bisa memantau secara real-time: sekolah mana yang kelebihan, mana yang kekurangan. 

Kalau menu MBG bisa disesuaikan dengan preferensi lokal. Kalau anak-anak juga dilibatkan, minimal lewat survei sederhana.

Mungkin ceritanya akan berbeda.

Saya tidak bilang semua harus sempurna. Namanya juga program besar, pasti ada tantangan. Tapi melihat makanan terbuang setiap hari itu rasanya seperti melihat kesempatan yang hilang. 

Kesempatan untuk memberi gizi. Kesempatan untuk menghemat anggaran. Kesempatan untuk membuat program ini benar-benar terasa manfaatnya.

Dan di tengah semua itu, kami para guru, terutama wali kelas ada di garis depan yang sering tidak terlihat. Kami yang memastikan pembagian berjalan. Kami yang menghadapi reaksi anak-anak. Kami yang membereskan sisa-sisa makanan. Kami yang diam-diam mengelus dada ketika melihat makanan MBG masih banyak yang tersisa.

Capek? Jelas.

Tapi bukan capek yang membuat ingin berhenti. Lebih ke capek yang membuat bertanya: apakah ini sudah cara terbaik?

Program yang masih bisa diperbaiki

Saya masih percaya program MBG bisa diperbaiki. Dengan evaluasi yang jujur. Dengan keberanian untuk mengakui bahwa ada yang tidak berjalan dengan baik. Dengan membuka ruang untuk inovasi, bukan sekadar mempertahankan sistem yang ada.

Karena pada akhirnya, tujuan dari semua ini sederhana: anak-anak makan dengan baik, sehat, dan bahagia. Bukan sekadar menerima kotak makan.

Dan saya, sebagai wali kelas, mungkin tidak bisa mengubah kebijakan besar. Tapi saya bisa terus menyuarakan hal kecil yang saya lihat setiap hari: bahwa ada cerita di balik angka-angka triliunan itu. 

Cerita sederhana tentang anak-anak yang tidak menghabiskan menu MBG. Dan guru yang berdiri di samping mereka, merasa capek bukan hanya di badan, tapi juga di hati.

Penulis: Nurul Jubaedah
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Sahur dengan MBG, Nilai Gizinya Lebih Cocok untuk Mahasiswa ketimbang Anak Sekolah dan artikel lainnya di kanal Esai.
 

Terakhir diperbarui pada 1 April 2026 oleh

Tags: guruMakanan Bergizi GratisMBGwali kelas
Nurul Jubaedah

Nurul Jubaedah

Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di MTsN 2 Garut, pegiat literasi, penulis buku, pembimbing riset, dan konten kreator.

Artikel Terkait

MBG untuk sahur dan berbuka di bulan Ramadan
Sehari-hari

Sahur dengan MBG, Nilai Gizinya Lebih Cocok untuk Mahasiswa ketimbang Anak Sekolah

24 Februari 2026
guru, stem, guru honorer, pns.MOJOK.CO
Edumojok

Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM

31 Januari 2026
guru BK.MOJOK.CO
Ragam

Menjadi Guru BK Capek Mental dan “Tak Menghasilkan”, Memilih Resign dan Kerja Kantoran Meski Harus Mengubur Cita-Cita

29 Januari 2026
Curhat Guru PPPK Paruh Waktu: Status ASN, Kontrak Setahun, Gaji Masih Teka-teki MOJOK.CO
Esai

Curhat Guru PPPK Paruh Waktu: Status ASN, Kontrak Setahun, Gaji Masih Teka-teki

23 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Album baru ARIRANG BTS. MOJOK.CO

Sekecewanya ARMY dengan Album “ARIRANG”, Patut Diakui kalau Lagu-lagu BTS Selamatkan Hidup Banyak Orang

29 Maret 2026
Stasiun Tugu Jogja nggak cocok untuk orang kaya tak bermoral. MOJOK.CO

Pintu Timur Stasiun Tugu Jogja Nggak Cocok untuk User Eksekutif Nirempati dan Ojol yang Kesabarannya Setipis Tisu

26 Maret 2026
Salah paham pada kuliner sate karena terlalu miskin. Baru benar-benar bisa menikmatinya setelah dewasa untuk self reward MOJOK.CO

Salah Paham ke Sate: Kaget dan Telat Sadar kalau 1 Porsi Bisa buat Diri Sendiri, Jadi Self Reward Tebus Masa Kecil Miskin

31 Maret 2026
Peaky Blinders: The Immortal Man Adalah Film yang Seharusnya Tidak Ada (?)

Peaky Blinders: The Immortal Man Adalah Film yang Seharusnya Tidak Ada (?)

30 Maret 2026
Kucing, hewan peliharaan

Memelihara Kucing Membuat Saya Menjadi Manusia: Tak Saling Bicara, tapi Lebih Memahami ketimbang Sesama Manusia

26 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.