Natalius Pigai Menyarankan Buku Karangan Orang Barat, Baiklah Saya Pilihkan

Natalius Pigai Menyarankan Buku Karangan Orang Barat, Baiklah Saya Pilihkan MOJOK.CO

Ilustrasi Natalius Pigai Menyarankan Buku Karangan Orang Barat, Baiklah Saya Pilihkan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

MOJOK.COSetelah Natalius Pigai menyarankan orang Indonesia membaca buku karangan orang Barat, saya pun tergoda memilihkan beberapa buku. Pak Menteri HAM juga harus baca.

Kepada Kompas, Menteri HAM Natalius Pigai merekomendasikan buku yang dikarang oleh orang Barat atau yang sudah diterjemahkan. Sebab, tambahnya lagi, orang Indonesia kalau menulis itu sesuai versinya dan subjektif. Sebagai pembaca sekaligus penjual buku bekas, saya sangat setuju sekali.

Buku-buku biografi pejabat kebanyakan sesuai versinya dan subjektif?

Saya sering menemukan buku-buku garapan orang Indonesia yang isinya sangat manis bahkan ketika membahas tentang tokoh yang kontroversial. Melalui penjelasan dari Menteri HAM Natalius Pigai, akhirnya keresahan  saya terjawab. Bahwa semua yang saya baca itu adalah sejarah yang dibangun sesuai dengan versinya. Alias sangat subjektif.

Misalnya buku yang judulnya Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya yang terbit pada 1989. Saya tadinya ingin mencari tentang korupsi, nepotisme, dan kehancuran-kehancuran yang terjadi di tahun-tahun itu. Namun yang saya temukan isinya malah lebih banyak puja dan puji yang begitu manis dan terkesan dibuat-buat.

Lantas saya juga menemukan buku yang dikarang oleh orang Indonesia dan sangat subjektif sekali. Judulnya Paradoks Indonesia yang terbit pada tahun 2017. Isinya merupakan fragmen pemikiran pengarang dan sindirannya terhadap rezim yang berkuasa pada saat itu. Dan bahkan menuliskan bahwa ekonomi bangsa sudah tidak bisa berdikari, sehingga bergantung pada hutang.

Saya menjadi sangsi pada buku-buku yang pada awal bab menceritakan kemiskinan dan diakhiri dengan kesuksesan yang dicapai dengan bersih dan gilang gemilang. Apakah semua yang tertuang dalam buku-buku macam itu merupakan buatan sesuai versinya si penulis?

Hanya jawaban rekomendasi buku, tapi di balik itu semua terdapat otokritik yang mantap untuk kawan-kawannya di menara gading sana.

Rekomendasi buku yang dikarang oleh orang “Barat” untuk Natalius Pigai

Kini, mari kita buka-buka perihal buku-buku yang dikarang oleh orang “Barat”. Saya menggunakan tanda kutip lantaran beberapa pengarang dan peneliti terkadang lebih mencintai negara ini ketimbang kebanyakan orang yang memimpin negara ini. Kenapa saya bisa mengatakan hal ini? Tentu saja dari apa yang mereka kaji dan tulis.

Yang pertama, buku berjudul Jiwa Reformasi dan Hantu Masa Lalu: Sinema Indonesia Pasca Orde Baru karya Quirine van Heeren. Melalui sinema, buku ini mencoba membedah bahwa reformasi memang banyak mengubah beberapa hal dalam dunia perfilman Indonesia, namun tidak bisa menghapus cara berpikir yang sudah ditanamkan oleh orde baru selama puluhan tahun.

Bagian yang menarik adalah ketika menjelaskan tentang film-film propaganda yang selain promosi kebijakan pembangunan Orde Baru, juga digunakan rezim untuk menyajikan versi sejarahnya. Kerusakan yang dihasilkan selama 32 tahun ternyata bukan hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga budaya.

Yang kedua adalah Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia: Pramoedya, Sejarah, dan Politik karya Max Lane. Kumpulan esai yang ditulis oleh penerjemah Tetralogi Buru ke dalam bahasa Inggris yang diterbitkan oleh Penguin ini banyak mengulas tentang Pram dan betapa rezim orde baru menekan sastrawan yang tak sepemikiran dengan mereka.

Betapa lucunya sebuah rezim yang memiliki segala akses baik itu militer maupun sumber daya, takut pada sebuah karya tulis dan penulisnya itu sendiri. Tapi, apakah kita harus mengingatkan pada Max Lane bahwa seorang menteri mengatakan pengarang Indonesia itu kalau menulis sesuai versinya sendiri dan subjektif, sedangkan Pram itu sendiri adalah penulis Indonesia?

Pak Menteri HAM perlu baca karyanya David Bourchier

Yang ketiga adalah Pemikiran Sosial dan Politik Indonesia Periode 1965-1999 yang dieditori oleh David Bourchier. Memang buku itu merupakan kumpulan ide dan pemikiran tokoh-tokoh Indonesia seperti Gus Dur, B. J. Habibie, Y. B. Mangunwijaya, Wiji Thukul, W. S. Rendra, dan masih banyak lagi (mereka semua menulis sesuai versinya dan subjektif, kah?), tetapi ada yang menarik dalam pembukaan yang ditulis oleh Bourchier.

Ia membahas tentang 12 Mei dan penembakan yang menyebabkan empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas. Juga terjadinya perempasan, penjarahan, dan pembakaran di kawasan etnis Cina yang menewaskan 2.000 jiwa. 

Bahkan ia tak segan mengatakan ketidakbecusan rezim adalah hal yang dungu. Dan ia menulis begini:

“Kekerasan yang mengguncang ibu kota di banyak tempat itu dimengerti sebagai rekayasa suatu kelompok di dalam militer sendiri dalam upaya menodai lawan-lawan rezim dan membenarkan terjadinya tindak kekerasan—dan boleh jadi pengambilalihan kekuasaan oleh militer—oleh mantu…” Ah, baca sendiri ajalah. Ada di halaman 27.

Baca buku Politik Jatah Preman karya Ian Douglas 

Yang keempat adalah Politik Jatah Preman karya Ian Douglas Wilson. Tentang praktik patron yang awalnya merupakan sekumpulan begundal jadi lebih tertata. Tertatanya mereka inilah yang membuat banyak pihak besar melirik untuk menggunakan jasa patronasenya. Salah satu pembahasan yang menarik ada pada bagian tentang legenda Tanah Abang, yakni Hercules.

Ya, Hercules yang itu. Pendiri sekaligus ketua GRIB Jaya. Hercules yang berdiskusi sampai tengah malam dengan Seskab Teddy yang katanya adalah kawan lama.

Menurut buku itu, Hercules adalah anak dari seorang petani di Dili, dibawa ke Jakarta pada 1980an sebagai bagian dari kampanye merangkul ‘masyarakat Timor yang terbuang’ untuk menangkal persepsi internasional tentang pendudukan Indonesia. Dan yang mengonsep semua ini adalah… Ah, baca sendiri ajalah. Ada di halaman 115.

Maka, berangkat dari apa yang dikatakan oleh Pak Menteri Natalius Pigai, buku-buku di atas klir, ya, sebagai acuan yang dikaji dengan baik dan penuh kehati-hatian. Intinya: valid. Sebab dikarang oleh orang “Barat”. 

Namun, yang paling penting, tidak hanya benar dalam versinya sendiri, melainkan versi kebanyakan orang. Begitu juga dengan mereka-mereka yang digaji oleh uang rakyat.

Penulis: Gusti Aditya
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Pernyataan Menteri HAM Natalius Pigai menyebut pengibaran bendera One Piece sebagai ancaman bagi persatuan nasional.

Exit mobile version