Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Tulisan Tidak Lucu tentang Muhammadiyah Garis Lucu yang Tidak Lucu

Irfan Afifi oleh Irfan Afifi
6 Maret 2017
A A
Tulisan Tidak Lucu tentang Muhammadiyah Garis Lucu yang Tidak Lucu

Tulisan Tidak Lucu tentang Muhammadiyah Garis Lucu yang Tidak Lucu

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Membaca dua tulisan sebelum ini, yang ditulis oleh dua Muhammadiyah garis keras teman saya seorganisasi dan sealma mater itu, memberi impresi kecil pada saya bahwa ajakan membentuk Muhammadiyah garis lucu justru memunculkan perdebatan tidak lucu.

Tentu ini menurut kacamata saya (yang NU dan berencana akan pindah ke Abangan). Perdebatan itu bukan hanya tidak lucu, bahkan sudah termasuk dalam kategori menolak untuk lucu.

Iklan

Dalam hati saya bisa saja berdehem sambil nyinyir, “Menyedihkan sekali hidup kalian,” tapi, buru-buru saya tersadar bahwa saya baru saja menambah diskusi tidak lucu itu dengan tulisan yang juga tidak lucu.

Alangkah menyedihkannya hidup saya. Sudah NU, tidak lucu, menanggapi dua tulisan Muhammadiyah yang tidak lucu lagi. Ini persis seperti daftar ketidaklucuan yang dibikin oleh dua organisasi besar ini—tentu menurut gojekan saya bersama teman-teman saya, termasuk dua orang Muhammadiyah di atas, saat kami terlibat dalam pertemanan intens semasa kuliah di satu alma mater dan satu organisasi.

Dalam sebuah percakapan tentang NU-MU kami yang penuh gojek, atau tepatnya saling ejek, seorang teman yang Muhammadiyah melakukan serangan gojeknya.

“Orang yang masih bodoh itu biasanya NU. Jika ia sudah terdidik (pendidikan formal) alias sudah pandai, ia biasanya akan pindah Muhammadiyah.”

Seorang teman yang NU segera menimpali,

“Kamu belum selesai! Jika NU sudah pandai atau pintar, ia memang akan masuk Muhammadiyah. Tapi, jika ia terlalu pintar, ia akan menjadi NU lagi. Lihat itu Amin Abdullah, Dawam Raharjo, Munir Mulkan: mereka ‘dikeluarkan’ dari Muhammadiyah.

“Belum lagi gojekmu barusan menandai fakta implisit: pada dasarnya semua orang Indonesia itu NU, hanya perjalanan hidupnyalah, plus didikan orang tua, yang membuatnya bisa masuk Muhammadiyah.”

Sang Muhammadiyah lain menimpali. Kalau yang ini (agak) lucu.

“Eits, tunggu dulu, Kamu juga belum selesai. Gojekmu juga menandai fakta implisit berikutnya. Jika kamu asumsikan bahwa orang Indonesia pada dasarnya secara genetis adalah NU, ijtihad terbesar dan paling berhasil Muhammadiyah adalah justru melahirkan NU. Kau kan tahu, NU adalah respons balik atas munculnya modernisme Islam, khususnya Indonesia.”

Sang NU lain—yang kami tahu tidak pernah mau salat Jumat di Masjid Kampus UGM karena dianggap tidak syah; ia juga satu kampung dengan salah satu Muhammadiyah yang ditunjuk di awal tulisan ini—segera menyodorkan pendapatnya. “Bagaimana mau menumbuh-kembangkan ‘ijtihad’ jika sekolah Muhammadiyah di seluruh Indonesia tidak melahirkan orang yang cakap berbahasa Arab dan menguasai atau menimal bisa membaca Kitab Kuning?”

“Ah kalian memaknai ijtihad secara tekstualis,” sergah Muhammadiyah lain yang sengaja meng-gondrongkan rambutnya yang sedikit lucu itu. “Bukankah memiringkan saf salat, menciptakan pengajaran agama bermeja-bangku, memakai celana panjang, dan lain-lain itu ijtihad yang nyata?” “Tidakkah kalian insyafi itu, hai, teman-teman NU-ku?”

“Belum lagi jika ini ditambah dengan pendirian rumah sakit, universitas Islam, panti asuhan, sekolah umum berbasis agama di seantero Indonesia. Ini jika mau, dimasukin dalam ijtihad Muhammadiyah. Eh, yang terakhir ini mekso, ding! Tapi, itu yang dibutuhkan umat saat ini, Bung! Bukan malah tersudut, memperbanyak wirid, dan memeriahkan kuburan. Catat itu, ya!”

Sebenarnya kami yang Muhammadiyah maupun NU sangat tahu, ajakan atau tepatnya kegelisahan ihwal pembentukan garis lucu, baik di Muhammadiyah maupun NU yang akhir-akhir ini semakin “serius” sebenarnya adalah ajakan untuk bersikap tidak bersikap kaku, tegang, dan bahkan bersungut-sungut dalam menanggapi perbedaan pendapat—hal yang belakangan semakin “menegangkan”. Juga kami tahu, orang berkarakter lucu itu tidak mengenal organisasi. Itu poinnya.

Tapi, teman kami yang NU satu ini, yang maksudnya adalah saya sendiri (tapi jangan keras-keras suaranya), tetap tidak bisa terima.

“Kamu boleh tidak menerima bahwa NU tidak lebih lucu daripada Muhammadiyah, tapi kalian pasti tidak bisa menyanggah bahwa cerita semacam ini tidak akan kalian temui selain di NU ….”

***

Iklan

Alkisah, seorang santri sedang menyetorkan bacaan surat Al-Ikhlas-nya pada seorang kiai yang duduk tepat di depannya.

“Qul huwallahu ahadu,” sang santri mulai melafalkan. Sang kiai segera menginterupsi dan membenarkan kesalahan bacaan Quran santrinya, yakni karena melanggar tanda waqof pada akhir ayat surat qulhu tersebut. Sang santri harusnya melafalkan ahad, bukan ahadu.

“Ahad, bukan ahadu,” sang kiai meminta.

“Qul huwallahu ahadu.”

“Ahad, bukan ahadu. Ulang!”

“Qul huwallahu ahadu.”

“Ahad, bukan ahadu. Ulang lagi!”

Tidak terlalu yakin, sang santrinya mengulang dengan tepat. Sang kiai segera mempersiapkan tangannya.

“Qul huwallahu ahad—” Belum selesai sang santri melafalkan, sang kiai segera menjulurkan tangan dan memegang bibir santrinya.

“Nah, begitu. Sampai situ saja, ahad. Bukan ahadu.”

Pelan-pelan sang kiai melepaskan jari-jarinya dari bibir santri tersebut. Tiba-tiba terdengar suara,

“—du.”

Terakhir diperbarui pada 16 Oktober 2018 oleh

Tags: abanganfeaturedijtihadMuhammadiyah Garis LucuNU garis lucu
Irfan Afifi

Irfan Afifi

Artikel Terkait

Prof. Dr. Abdul Mu’ti: Cerdas, Sederhana, dan Jenaka

Prof. Dr. Abdul Mu’ti: Cerdas, Sederhana, dan Jenaka

27 Februari 2023

Selain NU Garis Lucu, Artikel Kesehatan Garis Lucu Penting Juga

14 Januari 2019

Kiat Jadi Warga Baru di Kampung ala Iqbal Aji Daryono

30 Juni 2018
penyekapan karena kritik seragam mojok.co

Hari-Hari Seragam PNS Kementerian Keuangan

16 Mei 2017
Es Goreng Rasa Mellow van Yogyakarta

Es Goreng Rasa Mellow van Yogyakarta

15 Mei 2017
Membubarkan NU Lebih Mudah daripada Membubarkan HTI

Membubarkan NU Lebih Mudah daripada Membubarkan HTI

15 Mei 2017
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

pegawai BPO

Lulusan Magister Biologi Rela jadi Pegawai BPO di Tanah Rantau Agar Tidak Dianggap Pengangguran dan Bikin Orang Tua Menderita

26 Agustus 2026
Pelaku pembakaran hutan di Kalimantan dan titik lemah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia MOJOK.CO

Titik Lemah Penanganan Karhutla di Indonesia: 72 Orang Sengaja Bakar Hutan untuk Buka Lahan, Jadi Ancaman Ekosida

23 Agustus 2026
Melalui hidangan Buntil Salmon, Sasanti Restaurant menghadirkan telisik gastronomi dan permakultur yang memberi pengalaman mengesankan dalam mengeksplorasi kekayaan kuliner Nusantara. (Nusaplant)

Melalui Buntil Salmon, Sasanti Restaurant Tak Hanya Bicara Rasa tapi Pertemuan Kekayaan Pangan dan Flora Nusantara

21 Agustus 2026
14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

25 Agustus 2026
Kemiskinan Struktural di Balik Riuh Operasi Pesta Copet.MOJOK.CO

Kemiskinan Struktural di Balik Riuh Operasi Pesta Copet

25 Agustus 2026
Gus Yahya dalam sambutan pembukaan Muktamar ke-35 NU: Nahdlatul Ulama harus bersinergi dengan pemerintah untuk kemaslahatan rakyat MOJOK.CO

Gus Yahya: NU Tidak Punya Jalan Lain Selain Kerja Sama dengan Pemerintah jika Ingin Hadirkan Manfaat Nyata

27 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.