Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Merdeka dan Panjang Umur Bersama Mulut Marzuki Alie

Cepi Sabre oleh Cepi Sabre
17 Agustus 2017
A A
170817 ESAI MARZUKI ALIE

170817 ESAI MARZUKI ALIE

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sudah tanggal tujuh belas, berarti final lomba-lomba di RT-RT se-Indonesia Raya akan digelar serempak hari ini. Di media sosial mungkin orang akan kembali mendaur ulang keluhan tahunan bahwa kita sebenarnya belum merdeka. Buktinya, patung jenderal Cina segede Gaban—bukan Ranggalawe—bisa berdiri tegak di Tuban.

Hebat juga Cina itu, belum kirim pasukan, baru kirim satu jenderalnya, itu pun dalam bentuk patung, tapi semua orang sudah bisa bilang kalau kita dijajah Cina.

Iklan

Di sisi yang lain, ditutupinya patung itu dengan kain dari ujung kepala sampai ujung kaki (mungkin supaya kelihatan lebih syar’i) bisa jadi tanda juga bahwa masih ada warga negara kita yang belum merdeka untuk menjalankan keyakinannya.

Apa pun itu, yang jelas kedua Bung yang diculik para pemuda 72 tahun yang lalu sudah membacakan teks proklamasinya. Jaman film Si Unyil masih diputar di TVRI setiap hari Minggu jam 9 pagi, guru-guru saya selalu menekankan bahwa tidak seperti negara tetangga, kemerdekaan kita itu direbut dengan perjuangan. Dengan darah, keringat, dan air mata.

Satu hal yang patut kita syukuri bersama adalah bahwa dulu di era perjuangan belum ada Marzuki Alie. Kalau sudah ada, alih-alih menambah semangat perlawanan setiap ada pejuang yang gugur, orang mungkin malah patah semangat kalau ada yang ketembak tentara Belanda lalu beliau ngomong, “Makanya jangan jadi pejuang ….”

Berempati sepertinya memang bukan keahlian mantan ketua DPR kita itu. Tapi ini memang penyakit umum, mantan memang biasanya ketus. Kalau mereka perhatian, biasanya mau ngajak balikan. Kalau kata-kata Pak Marjuki Alie lemah lembut, kita malah seharusnya curiga, jangan-jangan beliau kepengin jadi ketua DPR lagi.

Tapi sepertinya itu memang gaya komunikasi beliau. Waktu Mentawai dihantam tsunami, beliau juga pernah dengan entengnya berkata, “Siapa pun yang takut kena ombak, jangan tinggal di pinggir pantai.”

Jadi, kalau orang takut kena awan panas, mengikuti saran beliau, sebaiknya jangan tinggal di kaki gunung. Atau, kalau takut digusur satpol PP, jangan bikin rumah di tengah kota.

“Kalau takut, makanya jangan …” itu sepertinya falsafah hidup Pak Marzuki. Ini sebenarnya cocok dengan pepatah lama, “Para pemberani akan diingat orang, tapi para pengecutlah yang hidup lebih lama.” Di masa damai seperti ini, keberanian memang barang langka dan umur panjang adalah segala-galanya. Apalagi berumur panjang dan dapat pensiun dari negara. Ditanggung BPJS pula.

Belum lama ini saksi kunci kasus korupsi E-KTP Johannes Marliem wafat—tentu saja tidak ditanggung BPJS. Pak Marzuki kembali dengan falsafah hidupnya: “Makanya jangan ….” Punya media penyimpanan data sebesar 500 gigabyte dan dipakai buat menyimpan rekaman para pejabat kongkalikong itu memang nggak baik buat kesehatan, mending diisi 3GP aja. Makanya jangan ….

Tapi yang saya bahkan tidak menyangka, ternyata Marzuki Alie juga punya perhatian yang besar kepada para jomblo. Lebih baik jadi saksi nikah, katanya. Betul juga. No pic, hoax; ngaku sudah nggak jomblo tapi nggak ada saksinya, siapa yang bakal percaya?

Kenapa dulu Pak Marzuki nggak jadi Kepala KUA aja, ya? Jangan-jangan karena malah bahaya, kalau ada yang cerai, nanti malah dinasehati, “Makanya jangan jadi manten, jadi mantan aja ….”

Ada banyak petuah baik soal memilih kata. Berkata yang baik atau diam, kata Nabi. “Pena—keyboard dan keypad untuk zaman sekarang—lebih tajam daripada pedang,” kata yang lain. Karena luka yang diakibatkan kata-kata biasanya bertahan lebih lama daripada luka yang didapat ketika carok. Buktinya, kalian masih belum bisa lupa kan waktu ada yang bilang, “Kita sampai di sini aja ya, Mas ….”

Nasehat lain berbunyi, “Orang diberi dua mata dan satu mulut supaya melihat dua kali sebelum bicara satu kali.” Tapi orang juga punya dua tangan dan satu mulut. Mungkin itu artinya supaya kalau punya masalah dengan orang, kita disuruh nonjok dua kali dulu sebelum bicara satu kali. Contohnya tentara yang nggampar polantas waktu ditegur karena nggak pakai helm. Itu sebenarnya pelajaran dari sang tentara buat sang polantas, dikasih dua tangan kok malah ngomong dulu?

Sebenarnya itu nasehat supaya kita bijaksana dalam memilih kata-kata, mikir dulu sebelum bicara atau ngetwit atau nyetatus. Tapi fakta bahwa ubur-ubur bisa bertahan selama 650 juta tahun padahal nggak punya otak memang lumayan menggetarkan. Dan bukankah umur panjang, ditambah dapat pensiun dan ditanggung BPJS, adalah segala-galanya, Pak Marzuki?

Terakhir diperbarui pada 17 Agustus 2017 oleh

Tags: 17 Agustus 1945Johannes MarliemMarzuki AliMentawai
Cepi Sabre

Cepi Sabre

Artikel Terkait

Mahasiswa KKN UGM dan LPS berkolaborasi hadirkan edukasi literasi keuangan di desa terluar Mentawai MOJOK.CO

Literasi Keuangan untuk Desa Terluar di Mentawai: Jadi Bekal Masyarakat Desa Hadapi Ragam Persoalan Finansial

10 Agustus 2026
KKN UGM di Suku Mentawai.MOJOK.CO

Pengalaman Unik Mahasiswa KKN UGM Bersama Suku Mentawai yang Lakukan Tradisi Runcingkan Gigi untuk Kecantikan

7 Agustus 2024
Sukarni: Soekarno-Hatta, Rengasdengklok, & Lahirnya Sebuah Republik

Sukarni: Soekarno-Hatta, Rengasdengklok, & Lahirnya Sebuah Republik

14 Agustus 2022

7 Fakta Rahasia Kemerdekaan Indonesia yang Nggak Rahasia-Rahasia Banget

17 Agustus 2019

Investor dan Turis Sama Saja, Sama-Sama Miskin Imajinasi

11 Mei 2018
170817 ESAI 17 Agustus Mojok

17 Agustus dan Arwah Para Pahlawan yang Bergentayangan Selama Upacara Bendera

17 Agustus 2017
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Kiprah dosen pembimbing mahasiswa KKN UGM di Sangurejo. MOJOK.CO

Dulu Dicap Kampung Kumuh, Kini Produk Kulit Salak Kampung Sangurejo Sampai Belanda

21 Agustus 2026
Sikap-sikap sederhana ke pelayan rumah makan atau restoran yang seharusnya jadi kewajaran MOJOK.CO

Sikap-sikap Sederhana ke Pelayan Rumah Makan atau Restoran yang Kita Abaikan karena Ego, Padahal Bermakna Memanusiakan

20 Agustus 2026
Jangan remehkan antrean Stasiun Lempuyangan, Jogja, di jam pagi untuk keberangkatan Kereta Api (KA) Ekonomi Sri Tanjung MOJOK.CO

Antrean Pagi Stasiun Lempuyangan Jogja Selalu “Keos” dan Bikin Tegang, Datang Lebih Awal Tak Jadi Solusi

21 Agustus 2026
Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja dan gitu-gitu aja. Tapi punya nilai sosial bagi perantau Jogja asal desa MOJOK.CO

Bakpia Jogja Memang Oleh-oleh Biasa dan Gitu-gitu Aja, Tapi Sangat Berharga buat Orang di Desa

22 Agustus 2026
Alma Odai "Cucurella" Diburu Fans, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu MOJOK.CO

Alma Odai “Cucurella” Diburu Fans di Srikandi Merdeka Cup, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu

22 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.