Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Merayakan Idul Fitri sebagai Seorang Katolik dengan Cara Gus Dur

Kristian Erdianto oleh Kristian Erdianto
25 Juni 2015
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Jauh sebelum saya ikut merayakan Idul Fitri sebagai seorang Katolik, saya sudah kenal tulisan Gus Dur. Begitu menyejukkan.

Fenomena kekerasan mengatasnamakan agama makin kerap terjadi. Penyalahgunaan agama sebagai alat politik adalah salah satu penyebabnya. Politik kekuasaan atau politik yang mengenyangkan perut.

Kalau nggak rame ya nggak makan. Kalau nggak sering mengkafirkan orang ya nggak akan diundang sebagai pembicara seminar.

Walaupun begitu, saya selalu percaya bahwa agama tidak pernah menjadi akar kekerasan. Perbedaan isi kepala orang-orang yang seringkali dangkal yang justru membuat agama terlihat menakutkan, dan seakan menjelma sebagai alat penebar teror.

Sejak kuliah saya menyukai tulisan Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur. Tulisan-tulisannya begitu menyejukkan, khususnya yang terkait fenomena agama dan kekerasan—yang akhir-akhir ini masih terus saja terjadi.

Agama menjadi perhatian utama Gus Dur karena sering menimbulkan bermacam-macam tafsiran. Dan menurutnya, kekerasan atas nama agama berakar dari fanatisme yang sempit.

Semua agama, menurut saya, adalah sama. Sama-sama tidak pernah mengajarkan kekerasan. Biarlah saya dicap sebagai orang yang sedang bingung atau mengalami kekosongan pemikiran ketika menganggap semua agama sama. Kalau dari segi lain, misal soal kebenaran dan kehidupan surgawi setelah kematian, saya tidak tahu.

Meski saya sangat yakin dalam iman, namun saya belum bisa mengatakan pada semua orang bahwa agama sayalah yang paling benar dan jalan satu-satunya menuju surga. Selama ini, sama sekali saya belum pernah merasakan bagaimana nikmatnya berpelesir ke surga.

Saya pikir, toh semua orang—beragama maupun tidak beragama—memiliki tujuan akhir yang sama, walaupun  pergi dengan jalan keyakinan yang berbeda-beda.

Sejak hari pertama bulan puasa, saya coba menyisihkan waktu khusus untuk membaca kembali tulisan-tulisan Gus Dur. Waktu khusus, meminjam istilah orang Kristen sebagai “saat teduh”, memang saya ikhtiarkan untuk lebih banyak memahami kehidupan beragama dan bermasyarakat yang toleran, sebagai sebuah konsekuensi dari kemajemukan.

Kebetulan saya memiliki buku kumpulan tulisan Gus Dur yang diambil dari kolom-kolomnya di majalah Tempo dasawarsa 1970-an dan 1980-an. Selain buku Tuhan Tidak Perlu Dibela, saya juga mengoleksi kumpulan esai Gus Dur berjudul Kiai Nyentrik Membela Pemerintah.

Dan tulisan Gus Dur berjudul Sederhana, Syahdu kembali mengingatkan saya akan kesederhanaan yang telah mengajari saya menjadi manusia toleran.

Sederhana, Syahdu merupakan sebuah catatan perjalanan dan curahan perasaan Gus Dur ketika mengunjungi Kapel Rothko di Houston, Texas, Amerika Serikat.  Ia menceritakan dengan detail seperti apa rupa bangunan sederhana itu, yang konon merupakan wadah interaksi spiritual berbagai agama dengan kehidupan.

Kapel Rothko didirikan pada tahun 1971 oleh John dan Dominique de Menil. Mereka berdua merupakan pasangan suami-istri kaya-raya, imigran asal Perancis, filantropis, aktivis dan kolektor benda-benda seni. John de Menil adalah seorang bankir, dan istrinya, Dominique merupakan anak dari pasangan Conrad dan Louise Delpech Schlumberger, pendiri perusahaan minyak Slumberger Limited.

Iklan

Pembangunan Kapel Rothko ditujukan sebagai sebuah bangunan religius yang tidak berafiliasi pada agama dan kepercayaan tertentu, namun terbuka bagi semua orang dari berbagai macam latar belakang agama. Di tempat inilah berbagai macam upacara keagamaan digelar.

Sejak berdiri, Kapel Rothko telah menjadi landmark spiritual dan pusat berkumpul bagi orang yang peduli dengan perdamaian, kebebasan, dan keadilan sosial di seluruh dunia.

Menurut penuturan Gus Dur, Kapel Rothko merupakan perlambang gairah kerohanian yang sangat pekat. Serba sederhana, tanpa tanda-tanda kemegahan apapun yang terpasang. Alat peribadatan tidak ada yang terpasang secara permanen dalam ruangan utama, sehingga semua harus membawa sendiri ke dalam ruangan itu untuk dipergunakan.

Kalau orang Katolik ingin menggunakannya untuk misa, mereka membawa sendiri altar mereka. Orang Muslim boleh menghamparkan tikar sembahyang mereka, dan menghadapkannya ke arah kiblat di tenggara.

Beberapa orang Swami dari India pernah mengadakan meditasi dan peragaan Yoga. Kelompok Yahudi dan kelompok Sufi Turki Mevleviyati, yang terkenal dengan sebutan The Wirling Dervishes pun pernah menggunakan Kapel Rothko.

Semuanya tentu terpukau dengan kesyahduan yang meliputi ruangan pagelaran serba sederhana. Kesederhanaan itu, menurut Gus Dur, memunculkan keharuan dan kesyahduan yang diperlukan manusia modern dalam pergumulannya dengan kehidupan.

Kesederhanaan bercampur rasa syahdu yang dilukiskan Gus Dur itu setidaknya saya rasakan juga di keluarga saya.

Jika orang-orang di Houston memiliki Kapel Rothko, saya juga memiliki rumah buyut di Pacitan—yang setiap Lebaran memberikan pengalaman menjadi seorang Muslim tanpa harus menghilangkan identitas saya sebagai seorang Katolik. Layaknya sebuah tempat persinggahan dalam perjalanan spiritual para peziarah.

Dulu, menjelang hari raya Idul Fitri, kakek kerap membawa saya pulang ke Pacitan, kampung halamannya. Sebagai orang Jawa, kakek tidak pernah bisa meninggalkan kebiasaan lamanya untuk bersilaturahmi—nilai-nilai budaya lokal yang selalu ia tanamkan kepada saya, meski kami bukanlah penganut Islam.

Setiap saat itu datang, saya selalu menyambutnya dengan riang gembira karena bisa ikut “merayakan” Idul Fitri.

Dari seluruh keluarga besar kakek dan nenek, hanya mereka berdua yang memeluk agama Katolik. Saudara, kakak, dan adik mereka semuanya adalah pemeluk Islam. Tapi sebagai seorang Kristiani, kakek justru lebih memilih mudik saat lebaran, bukan saat Natal ataupun Paskah.

Pada saat Idul Fitri tiba, saya diperlakukan keluarga besar layaknya seorang muslim. Sungkeman, saling bermaafan dan makan opor ayam. Saya tidak pernah merasa dibedakan atau diperlakukan sebagai orang asing. Tidak pernah merasa diasingkan

Dari sanalah saya belajar mengenal makna toleransi sesungguhnya: memanusiakan manusia lain tanpa harus memiliki tendensi untuk menghakimi.

Apa yang saya rasakan saat itu mungkin tidak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang pernah mengunjungi Kapel Rothko. Terkesima oleh kesederhanaan yang kontemplatif.

Sejatinya manusia akan saling terkait satu sama lain, dan agama bisa berfungsi sebagai salah satu pondasi yang menyokong kehidupan masyarakat majemuk.

Seperti yang pernah dikatakan oleh Gus Dur: bukankah dengan saling memiliki pengertian mendasar antar-agama, masing-masing agama akan memperkaya bekal perjuangan menegakkan moralitas, keadilan, dan kasih sayang?

BACA JUGA Humor Gus Dur dalam Semangkok Soto Pak Soleh.

Terakhir diperbarui pada 25 Februari 2021 oleh

Tags: Idul FitriKatolikMuslimRamadan
Kristian Erdianto

Kristian Erdianto

Artikel Terkait

Potret kasih sayang keluarga (ayah, ibu, dan anak) dalam momen mudik Lebaran (Mojok.co/Ega Fansuri)
Catatan

Bagi Ibu, Tak Apa Membayar Tiket Mahal untuk Mudik demi Bisa Kumpul Bersama “Anak Kecilnya” yang Berjuang di Perantauan

5 Maret 2026
THR belum cair, tapi sudah ludes dalam hitungan di kalkulator. Mudik lebaran memang tidak menyenangkan MOJOK.CO
Sehari-hari

THR Belum Cair tapi Sudah Jelas Ludes buat Dibagi-bagi, Yang Pasti Tak Ada Bagian untuk Diri Sendiri

23 Februari 2026
Takjil bingka dari Kalimantan
Catatan

Seloyang Bingka di Jogja: Takjil dari Kalimantan yang Menahan Saya agar Tetap “Hidup” di Perantauan

23 Februari 2026
Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Meme yang Viral Itu Mojok.co
Pojokan

Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Banyak Meme yang Viral Itu

23 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pedagang sate kere di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten. MOJOK.CO

Sate Kere Merbung di Klaten: Warisan Terakhir Ibu yang Menyelamatkan Saya dan Keluarga dari Jurang PHK

16 Maret 2026
Alasan Kita Perlu Bersama Andrie Yunus di Tengah Pejabat Korup. MOJOK.CO

ICW: Usut Tuntas Kekerasan “Brutal” terhadap Andrie Yunus, Indikator Bahaya untuk Pemberantasan Korupsi

14 Maret 2026
Suasana Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. MOJOK.CO

“Jajanan Murah” yang Tak Pernah Surut Pembeli di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten

17 Maret 2026
Burger Aldi Taher Juicy Lucy Mahalini Rizky Febian DUAR CUAN! MOJOK.CO

Memahami Bagaimana Aldi Taher dan Jualan Burgernya yang Cuan Mampus dan Berhasil Menampar Ilmu Marketing Ndakik-Ndakik

17 Maret 2026
Makanan Khas Jawa Timur Obat Rindu Kala Mudik ke Surabaya (Aly Reza/Mojok.co)

Makanan Khas Jawa Timur di Jogja yang Paling Bikin Perantau Surabaya Menderita: Kalau Nggak Niat Mending Nggak Usah Jualan, Bikin Kecewa

14 Maret 2026
Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.