Menjawab Pertanyaan-Pertanyaan Agama di Situasi yang Tidak Tepat

170804 khotbah belajar agama mojok

170804 khotbah belajar agama mojok

“Apa yang membuatmu percaya sepenuhnya bahwa Tuhan itu ada, Daf?”

Itu pertanyaan seorang kawan. Tidak perlu saya sebut namanya, sebab jika disebut di sini saya khawatir belio bisa dianggap antek kuminis oleh orang-yang-gak-pernah-baca-soal-kuminisme-babarpisan-dalam-hidupnya.

Beberapa kawan menganggap saya punya pemahaman lebih soal agama, sehingga dalam beberapa kesempatan mereka sering menanyakan hal-hal yang agak sulit. Padahal sebenarnya nggak begitu juga, cuma saya punya lebih banyak kawan yang lebih paham soal agama saja. Kawan-kawan saya itu nggak tahu saja kalau pertanyaan mereka sering saya salurkan (saya tanyakan ulang) ke kawan saya yang lebih alim.

Di sisi lain, terkadang pertanyaan yang nongol tidak sulit-sulit amat, tapi momen dan situasinya tidak cukup tepat. Jadinya sama saja, merepotkan.

Misalnya di sebuah forum launching buku ketika saya masih seorang editor. Irwan Bajang, Pemred Indie Book Corner waktu itu, bertanya kepada saya soal hukum hubungan sesama jenis menurut Islam. Sebenarnya gampang saja menjawabnya, “Ndasmu, Jang! Yo haramlah ….” Beres urusan.

Masalahnya, pertanyaan itu diajukan di depan forum umum yang beberapa pengunjungnya adalah waria.

“Mas Dafi ini kan pernah nyantri … jadi, gimana menurut Mas Dafi?”

Rasanya pengen ngemut gundulnya Bajang waktu itu.

Saya benar-benar gagu menjawabnya. Lambe rasanya seperti kena parkinson. Beberapa orang yang lurus mungkin akan enak saja menjawabnya, “Katakanlah kebenaran walau kebenaran itu pahit.” Iya sih, tapi kalau kebenaran itu malah tidak membawa kebaikan, bagaimana kebenaran itu bisa mencerahkan?

Pada akhirnya saya cuma jawab simpel saja, “Anu … setahu saya, yang diharamkan adalah aksi lewat jalur belakangnya. Kalau soal hubungan kasih, bisalah dirasakan sendiri batasan-batasannya.” Udah.

Saya nggak berani jawab macam-macam. Sebab memang forumnya bukan forum pengajian. Ini forum buku, kenapa tiba-tiba muncul pertanyaan beginian?

Di kesempatan lain, kadang nyasar juga pertanyaan soal fikih. Orang pikir lebih gampang menjawabnya, kenyataannya nggak. Bisa juga jadi sulit jika yang bertanya cukup rewel. 

Misalnya pertanyaan dari kawan saya yang lain, Khairul Anam, wartawan di majalah mentereng nasional, soal hukum memelihara anjing. Tanpa ba-bi-bu dia bertanya, “Emang pelihara anjing itu haram, ya?”

“Nggak juga sih,” jawab saya.

Bagi beberapa orang, jawaban persoalan agama memang harus masuk akal. Terkadang jawaban secara langsung dengan mengutip hadis atau rujukan kitab tidak cukup efektif untuk menjawabnya.

“Lho, berarti boleh dong?” balas kawan saya ini cepet.

“Emang boleh, nggak ada larangan secara eksplisit soal itu. Bahkan najisnya anjing aja bentuk hadisnya implisit, karena ngomongin bejana yang kena jilatan anjing dan cara mensucikannya.”

“Kalau gitu, kenapa gak banyak orang Islam yang melihara anjing, malah banyak yang melihara kucing? Kan anjing banyak fungsinya sebagai peliharaan?”

“Ya nggak gitu cara mikirnya. Melihara anjing itu boleh, gak diharamkan, cuma repotnya setengah mampus.”

“Ah, kata siapa repot? Anjing itu termasuk hewan peliharaan paling gampang diurus. Cerdas, bisa loyal sama majikannya.”

“Iya, betul.”

“Lah, terus repotnya di mana?”

“Ya repot. Kalau situ mau salat kan kudu bersihin satu rumah karena nggak tahu mana aja tempat-tempat yang tadi dijilatin. Mana sucinya sampe tujuh kali basuh lagi. Ya repotlah. Buang-buang air.”

Untungnya, jawaban ini cukup memuaskan kawan saya.

Hal semacam ini saya tiru dari tradisi guru-guru saya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan, untuk orang-orang yang ingin mendapatkan jawaban dengan penjelasan yang tidak sekadar menyodorkan ketentuan hukumnya.

Alkisah, pada sebuah kajian kitab kuning, seorang kawan saya ketika masih nyantri bertanya. Namanya Hamzah Arofah. “Kang, setiap yang suci itu halal kan ya?” tanyanya. Kang Ta’mir, guru fikih kami cuma mengangguk.

“Nah, kalau gitu, bagaimana hukumnya air mani? Air mani kan suci, jadi boleh dong dimakan?” tanya Hamzah.

Ebuset, berani bener ini orang. Meskipun dalam hati penasaran juga akan jawaban pertanyaan ini.

Guru saya tidak menjawab, kebetulan ia sedang membawa sajadah. Dengan tenang guru saya berdiri, menghampiri kawan saya lalu meletakkan sajadah di hadapannya. Setelahnya guru saya kembali duduk ke depan.

Kami satu kelas tentu saja celingak-celinguk, bingung.

“Ya itu jawabannya,” kata guru saya.

Saya tambah bingung. “Maksudnya gimana, Kang?” tanya kawan saya ini.

“Kalau kamu doyan, silakan makan sajadah itu,” jawab Guru saya tenang.

Kami satu kelas tertawa, menyadari ada silogisme yang keliru dari pemahaman fikih kami. “Yang halal dimakan itu memang pasti suci, tapi yang suci belum tentu halal dimakan. Sajadah itu suci, memangnya bisa kamu makan?” jelas guru saya.

Hal inilah yang kemudian membuat pertanyaan kawan di awal tulisan membutuhkan jawaban yang tidak terlalu dogmatis tapi cukup efisien. Paling tidak dengan pendekatan yang memuaskan menurut perspektif orang-orang yang tidak dibesarkan dalam tradisi agamis. Apalagi menjelaskan Tuhan ada. Ini jelas tidak gampang.

Jika pertanyaan itu muncul dalam forum pengajian ya gampang saja menjawabnya, tapi di obrolan sambil ngopi dan ngobrol ngalor-ngidul gak jelas waktu itu sungguh sulit. Di sisi lain, kawan saya ini (yang awalnya saya pikir bercanda) ternyata benar-benar menunggu jawabannya.

“Ya karena ada mati, Bos,” jawab saya yang sebenarnya kebingungan karena belum sempat googling.

Kawan saya mengenyitkan dahi. Dia sebenarnya paham, tapi agak lumayan belum terang benar jawaban saya.

“Ya … mati. Situasi empirik yang nggak bisa diulang. Karena gak bisa diulang, manusia jadi nggak punya tempat untuk mempelajarinya sepanjang hidup. Nah, cuma agama saja yang bisa memberikan gambaran apa yang terjadi setelah mati. Nggak ada literatur lain yang bisa menjawabnya secara memuaskan melebihi apa yang disajikan agama dan konsep ketuhanannya. Ya, paling tidak sampai sekarang,” jawab saya. Agak ngawang memang, tapi saya pikir itu sudah maksimal yang saya bisa.

“Berarti kalau ada yang membuktikan kalau nanti kita mati itu tidak terjadi apa-apa, kamu jadi nggak percaya Tuhan?”

“Mungkin. Tapi … memangnya sudah ada buktinya?”

Kawan saya malah terkekeh.

Jawaban saya ini sebenarnya cuma meniru jawaban Dalai Lama. Saat ditanya, “Bagaimana jika ada bukti bahwa reinkarnasi itu tidak ada?” Dalai Lama cuma menjawab, “Ya kalau bisa dibuktikan tidak ada, berarti memang tidak ada.”

Si penanya tertawa, tapi tawanya hilang saat Dalai Lama bertanya balik, “Memangnya sudah ada yang bisa membuktikannya kalau reinkarnasi itu tidak ada?”

Mau berharap jawaban apa? Pake hadis? Pake ayat-ayat suci? Ini obrolan di warung kopi, Bung, bukan dialog interaktif perbandingan agama dan ketuhanan.

Lagipula tulisan ini buat mojok.co, bukan islami.co. Eh ….

Exit mobile version