Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya

Cenuk Sayekti oleh Cenuk Sayekti
27 Maret 2026
A A
Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya MOJOK.CO

Ilustrasi Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Menjadi dosen itu seperti bermain peran layaknya aktor drakor, bermain banyak peran sekaligus. Pusing, kan?

Di Indonesia, profesi dosen sering digambarkan sebagai sosok yang punya aura agak-agak sakral. Hidupnya berkutat dengan buku, ide, riset, publikasi, dan diskusi intelektual. Dipandang sebagai profesi mentereng yang berdiri di depan kelas menjelaskan materi, lalu pulang dengan tenang setelah mencerdaskan kehidupan bangsa. 

Sayangnya, gambaran itu hanya berlaku di poster maupun flyer promosi kampus saat mencari mahasiswa baru. Di dunia nyata, hidup menjadi dosen sering lebih mirip tokoh drakor yang harus memainkan banyak peran sekaligus. Pusing. 

Dalam teori pendidikan tinggi Indonesia, ada konsep yang sangat terkenal: Tri Dharma Perguruan Tinggi. Isinya sederhana dan terdengar sangat bermartabat serta mulia: Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat. 

Tiga tugas itu merupakan “ruh” perguruan tinggi. Akan tetapi, Tri Dharma sering terasa bukan sebagai kehormatan, melainkan seperti paket pekerjaan yang tidak pernah selesai. 

Kadang terasa lebih mirip “triduka” karena menjadi dosen berarti punya tugas mencerdaskan bangsa, tapi energinya habis dikuras untuk urusan administrasi yang nggak habis-habis.

Menjadi dosen: Dari urusan akademik sampai jadi panitia halalbihalal

Di mata mahasiswa, pekerjaan dosen tampaknya sederhana: datang ke kelas, mengajar dua jam, lalu pulang. Tidak heran jika ada mahasiswa yang berpikir dosen itu profesi yang santai. “Pak, enak ya jadi dosen. Masuk cuma dua jam seminggu.”

Kalimat itu biasanya hanya dibalas senyum tipis oleh dosen. Padahal, ada gunung es pekerjaan di balik kelas dua jam itu yang tidak terlihat. Dosen harus menyiapkan materi dan membaca literatur terbaru. Mereka membuat soal ujian sekaligus memeriksa tumpukan tugas. Belum lagi urusan bimbingan tugas akhir. Itu belum menghadapi pesan singkat dari mahasiswa pada pukul sebelas malam. Kalimatnya klasik: “Pak, boleh minta tanda tangan lembar pengesahan skripsi? Besok pagi saya ujian hasil.”

Dalam praktiknya, pekerjaan mengajar bukan sekadar berdiri di depan kelas. Ia sering berganti menjadi pekerjaan yang merembet ke mana-mana—dari urusan akademik sampai jadi panitia halal-bihalal. Namun, anehnya justru pekerjaan mengajar sering bukan yang paling menyita energi dosen.

Melelahkannya menjadi dosen yang berdampak

Idealnya, selain mengajar dosen adalah peneliti. Dosen seharusnya membaca banyak buku, memikirkan masalah besar, lalu menulis gagasan yang mampu untuk mengubah dunia sesuai dengan motto Dikti: Kampus Berdampak. Masalahnya, untuk sampai ke tahap itu, dosen harus melewati satu ritual yang cukup melelahkan: proposal hibah penelitian. 

Proposal ditulis panjang-panjang, dengan metodologi yang rapi, target luaran yang jelas. Anggaran juga disusun seperti laporan proyek pembangunan jalan tol. Setelah itu proposal dikirim, lalu menunggu nasib—diterima atau tidak. 

Jika proposal tidak lolos, dosen gigit jari. Tahun depan coba lagi. Jika lolos, justru mulai garuk kepala karena pekerjaan sesungguhnya bukan di laboratorium, melainkan di depan tumpukan laporan kemajuan, laporan akhir, hingga seminar hasil. 

Kadang, jumlah formulir administratif dan lampiran nota jauh lebih tebal daripada substansi artikel ilmiahnya sendiri. Di titik ini, sebagian dosen mulai bertanya dalam hati: ini sebenarnya sedang meneliti atau sedang menjadi pegawai administrasi yang kebetulan menulis jurnal?

Tri Dharma Perguruan Tinggi yang bertambah dari seorang akademisi menjadi operator birokrasi

Bagian ketiga dari Tri Dharma adalah pengabdian kepada masyarakat. Secara konsep, ini sangat indah. Kampus tidak boleh terpisah dari masyarakat. Ilmu harus memberi manfaat bagi kehidupan nyata.

Iklan

Namun, dalam praktiknya, pengabdian masyarakat sering berubah menjadi kegiatan yang lebih dekat dengan kewajiban administratif daripada transformasi sosial. Dosen datang ke suatu desa, memberi penyuluhan, foto bersama warga, lalu pulang. 

Tugas paling penting selanjutnya adalah menyusun laporan kegiatan. Di dalam laporan itu harus ada banyak hal: latar belakang, metode kegiatan, dokumentasi foto, hingga daftar hadir peserta.

Kadang muncul pertanyaan kecil yang cukup mengganggu: apakah yang lebih penting dalam kegiatan ini—manfaat menjadi dosen bagi masyarakat, atau menyusun kelengkapan dokumen laporannya?

Jika Tri Dharma hanya berisi tiga hal di atas maka kehidupan dosen masih cukup terkendali. Masalahnya, di luar tiga tugas itu masih terdapat pekerjaan lain yang tidak tertulis dalam konsep Tri Dharma maupun kontrak kerja. 

Ada rapat kurikulum. Ada rapat akreditasi. Ada rapat evaluasi pembelajaran. Ada pengisian berbagai sistem digital yang namanya semakin hari semakin kreatif saja.

Setiap sistem biasanya membutuhkan hal yang sama: unggah dokumen, isi laporan, dan perbarui data. Lama-lama, dosen mulai merasa profesinya bukan lagi sekadar akademisi, tetapi juga operator berbagai platform birokrasi pendidikan tinggi. 

Buku belum selesai dibaca terpaksa ditunda, karena ada laporan yang harus diunggah sebelum tenggat waktu. Ide penelitian yang menarik harus menunggu, karena ada formulir yang harus diisi. 

Ironinya, di tengah semua kesibukan itu, dosen masih diharapkan menghasilkan publikasi internasional yang berkualitas. Sungguh sebuah kemustahilan yang nyata bagi dosen di negeri yang dikenal paling banyak menghasilkan publikasi pada jurnal predator setelah India.

Menjadi dosen adalah profesi terhormat, tapi cuma simbolik

Profesi dosen sering disebut sebagai profesi yang terhormat. Kalimat itu benar—setidaknya dalam pengertian simbolik. Dosen dihormati karena ilmu dan perannya dalam pendidikan.

Namun, kehormatan simbolik tidak selalu berjalan seiring dengan kesejahteraan yang nyata. 

Di banyak kampus, terutama bagi dosen muda atau dosen non-pegawai negeri, realitas ekonomi sering jauh dari bayangan masyarakat. Gelar akademik yang panjang tidak selalu berarti kehidupan yang mapan.

Ada dosen yang sudah menyelesaikan studi doktoral di luar negeri di kampus ternama selama bertahun-tahun, tetapi masih harus berpikir dua kali sebelum membeli buku yang sangat diperlukan. Ada dosen yang mengajarkan teori ekonomi Islam, tetapi terpaksa harus mengajukan pinjaman online menjelang akhir bulan.

Di titik itu, muncul pertanyaan yang tidak nyaman: bagaimana mungkin sistem pendidikan tinggi berharap banyak dari dosen, tetapi tidak selalu memberikan kondisi yang memungkinkan mereka bekerja dengan baik dan menjamin kesejahteraan mereka di saat yang sama?

Mempertanyakan kembali Tri Dharma Perguruan Tinggi

Tri Dharma sebenarnya adalah konsep yang sangat mulia yang ingin memastikan bahwa perguruan tinggi tidak hanya mengajar, tetapi juga menghasilkan pengetahuan dan memberi manfaat bagi masyarakat. Akan tetapi, masalahnya bukan pada konsepnya, melainkan pada cara sistem memperlakukannya. Ketika Tri Dharma berubah menjadi daftar kewajiban yang harus dilaporkan, diukur, dan dihitung secara administratif, ada risiko  maknanya yang mulia justru hilang. 

Menjadi dosen seharusnya punya ruang yang lebih luas untuk berpikir, bukan menjadi sibuk memenuhi berbagai indikator administratif. Mereka sibuk mengejar target, tetapi tidak sempat menikmati proses intelektual yang seharusnya menjadi inti kehidupan akademik. Jika kondisi ini terus berlanjut, Tri Dharma yang semula dirancang sebagai pilar perguruan tinggi bisa berubah menjadi beban yang membuat dosen lelah secara struktural. 

Pada saat itu, pertanyaan sederhana kembali muncul: apakah kita masih menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, atau tanpa sadar sedang hidup dalam triduka pendidikan tinggi?

Penulis: Cenuk Sayekti
Editor: Agung Purwandono

Baca Juga: Dosa Mahasiswa Interior di Surabaya: Memuja Garis Presisi di Studio, tapi Menyembah Kue Lembek di Dapur dan catatan menarik lainnya di rubrik ESAI.

Terakhir diperbarui pada 27 Maret 2026 oleh

Tags: DosenDrakorKampusMahasiswamenjadi dosen
Cenuk Sayekti

Cenuk Sayekti

Dosen pada Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, anggota Serikat Pekerja Kampus, dan anggota Kaukus Indonesia Kebebasan Akademik (KIKA). Saya berminat pada isu kesejahteraan buruh kampus dan kebebasan akademik pada perguruan tinggi di Indonesia.

Artikel Terkait

Ortu dihina karena miskin. Anak kuliah sebagai mahasiswa jurusan Psikologi UIN buktikan lulusan PTN ecek-ecek malah hidup lebih terhormat MOJOK.CO
Edumojok

Ortu Miskin Dihina Saudara Kaya saat Anak Kuliah di UIN, Dicap PTN Ecek-ecek tapi Lulus Punya Karier Lebih Terhormat

25 Maret 2026
Tabungan penting, tapi mahasiswa Jogja yang masih harus irit demi makan kesulitan menabung
Sehari-hari

Tabungan Itu Penting, Tapi Mahasiswa Jogja yang Masih Harus Gali Lubang Tutup Lubang Demi Makan Mana Bisa

10 Februari 2026
Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO
Sosok

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026
Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital: Harga RAM Makin Nggak Ngotak MOJOK.CO
Esai

Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal

16 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pekerja Surabaya pindah kerja di Jogja kaget dengan kebiasaan "menghibur-hamburkan uang" pekerja Jogja MOJOK.CO

Pekerja Surabaya Pindah Kerja di Jogja: Bingung sama Kebiasaan “Buang-buang Uang”, Repot karena Budaya Traktir Teman

26 Maret 2026
Catatan Tan Malaka tentang Perburuan Aktivis 1926 yang Terlupakan

100 Tahun Naar De Republiek: Catatan Gelap Tan Malaka

20 Maret 2026
Tabungan soft saving ala gen Z

Soft Saving, Jalan Pintas Gen Z Ingin Menabung Ala Kadarnya tapi Masih Prioritaskan Penuhi Gaya Hidup Usia Muda

25 Maret 2026
Bukan Cuma Gaji Kecil, Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja Juga Mesti Siap dengan Budaya Pekewuh yang Memperlambat Kerjaan Mojok.co

Penyesalan Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja: Selain Gaji Kecil, Budaya Pekewuh Ternyata Memperlambat Kerjaan

22 Maret 2026
Derita Pekerja Jogja Pindah Jakarta: Gaji Lebih Mending, tapi Semua Serba Cepat dan Nggak Pakai Hati Mojok.co

Derita Pekerja Jogja Pindah Jakarta: Gaji Lebih Tinggi, tapi Semua Serba Cepat dan Nggak Pakai Hati

25 Maret 2026
Pekerja Jakarta WFH demi hemat BBM

Wacana WFH 1 Hari: Kesempatan Pekerja Kantoran Jakarta “Multitasking” dan Kabur WFC, padahal Tak Boleh Keluar Rumah

25 Maret 2026

Video Terbaru

Tirta Aji Mulih Deso: Pemancingan Ikan Predator dengan Sistem Catch and Release (CNR)

Tirta Aji Mulih Deso: Pemancingan Ikan Predator dengan Sistem Catch and Release (CNR)

23 Maret 2026
Tiyo Ardianto BEM UGM: Transformasi Gerakan Mahasiswa di Tengah Krisis Politik dan Ekonomi

Tiyo Ardianto: BEM UGM dan Transformasi Gerakan Mahasiswa di Tengah Krisis Politik dan Ekonomi

23 Maret 2026
Catatan Tan Malaka tentang Perburuan Aktivis 1926 yang Terlupakan

100 Tahun Naar De Republiek: Catatan Gelap Tan Malaka

20 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.