Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Larangan Logo Halal di Cina dan Budaya Gagal Paham Indonesia

Novi Basuki oleh Novi Basuki
3 Agustus 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Logo halal beraksara Arab (حلال) di Cina akan diganti dengan logo “清真” (qingzhen). Artinya? Ya halal juga. Cuma netizen Indonesia mah tetep ribut aja.

Saya tidak boleh tidak harus sepakat pada apa yang disesalkan Pak Soegeng Rahardjo ketika diundang sebagai pembicara seminar tentang Islam di Cina yang dihelat di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jakarta, pada 17 Juli lalu.

Begini. Kata mantan duta besar Indonesia untuk Cina merangkap Mongolia itu, “kendati Cina tengah bergerak menjadi negara adidaya (superpower) yang akan mengubah perimbangan kekuatan (balance of power) global dan arsitektur kerja sama regional, tapi cara pandang kita terhadap Cina stagnan pada cara pandang ala Perang Dingin,” di mana agama dan ideologi komunisme kerap dibentur-benturkan.

Akibatnya, apa-apa yang berkaitan dengan Cina—apalagi soal kebijakan keagamaannya—selalu dipandang dengan mata penuh curiga. Tidak boleh serta-merta dipercaya. Pokoknya gitu.

Padahal Pemerintah Cina di bawah Presiden Xi Jinping sudah lama menyadari hal ini. Makanya, sejak Maret 2014, di Cina ramai sekali pembahasan mengenai bagaimana caranya agar Cina tidak terjerembap ke dalam apa yang oleh Xi Jinping sebut sebagai “Taxituo xianjing” alias “jebakan Tacitus”.

Yaitu, suatu perangkap yang bakal menjerat pemerintah, sehingga apa pun yang dikatakan atau dilakukan pemerintah, senantiasa dianggap kebohongan atau kesalahan belaka oleh masyarakat luas—wabilkhusus masyarakat negara lain seperti Indonesia.

Sialnya, karena telah berpuluh tahun terkungkung pola pikir Perang Dingin yang ditanam Orde Baru dan sekarang agaknya mulai dilestarikan lagi lewat penyitaan buku-buku berbau Marxisme seperti yang terjadi di Probolinggo belum lama ini. “Jebakan Tacitus” yang menimpa Cina di Indonesia selalu saja berkaitan dengan isu-isu agama. Islam khususnya.

Contohnya kayak yang terjadi sejak dua hari kemarin itu. Media-media arus utama negeri kita seakan berlomba-lomba melansir berita soal pemerintah komunis Cina yang, mengutip Tempo, “menerbitkan perintah agar restoran halal di negara itu mencopot tulisan arab atau simbol terkait Islam pada papan nama restoran mereka.”

Alasannya, tulis Republika, karena “menurut pihak otoritas di Cina, logo halal dan simbol-simbol yang terkait dengan Islam tersebut adalah kebudayaan asing.”

Sontak, berita demikian menjadi bahan baku hantam netizen yang terbiasa memamah mentah-mentah informasi cukup dari membaca judulnya saja. Ada yang berkomentar, mereka yang setuju pada tindakan represif otoritas Cina itu, adalah simpatisan komunis.

Saking serunya, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tiongkok yang kerap dinyinyiri sebagai juru bicara pemerintah Cina, sampai-sampai rela bertabayun “mendatangi pusat2 makanan halal di Beijing” guna melakukan “pelurusan atas berita hoax yang berkembang di media online” tadi. Itu pernyataan dari laman resmi mereka.

Hanya saja—untuk kali ini—terus terang saya menyayangkan langkah PCINU Tiongkok yang bagi saya terlalu terburu-buru bilang pemberitaan itu “hoaks” semata.

Bukannya apa. Sejak pada 2015 silam Xi Jinping menitahkan perlunya melakukan “cinaisasi agama” (zongjiao Zhongguohua) untuk mencegah infiltrasi paham-paham ekstremisme dan radikalisme agama dari luar. Otoritas Cina memang getol melakukan pribumisasi terhadap agama-agama yang ada di Cina.

Tujuannya agar agama-agama yang ada di Cina itu tidak gampang mengkopar-kapirkan dan bisa lebih ramah, toleran, serta akomodatif terhadap kebudayaan Cina yang umurnya lebih tua dibandingkan dengan usia agama-agama Abrahamik.

Iklan

Caranya? Terkhusus Islam, ulama-ulama Cina mulai meramu kembali suatu terminologi yang mirip dengan “Islam Nusantara” yang digagas NU. Mereka menamainya “Islam Konghucu”—atau yang lumrah disebut dengan istilah Mandarin “Huiru”.

Nah, Islam Konghucu ini diharapkan bisa menjadi panacea untuk melawan arus Arabisasi yang—laiknya di Indonesia—juga cukup mewabah di Cina belakangan ini.

Sebagai bentuk konkret pengejawantahannya, beberapa masjid yang bentuknya dinilai kelewat kearab-araban dirobohkan. Diganti dengan yang lebih beraksitektur lokal mirip model masjid Cheng Ho kalau di Indonesia.

Sekarang, mereka memang perlahan menyasar logo halal beraksara Arab (حلال) untuk diganti menjadi aksara Mandarin “清真” (qingzhen) yang artinya halal juga.

Dulu, logo “清真” dan “حلال‎” sama-sama dipakai di bungkus-bungkus makanan atau warung-warung makan halal di sana. Nanti, kemungkinan cuma akan tinggal aksara Mandarin saja. Kalau lagi selow, cek saja keriuhan bahasan warganet Cina-muslim soal ini lewat mesin pencari baidu.com.

Apa yang sedang digalakkan pemerintah Cina ini sebenarnya 11:12 dengan pertanyaan retorik Gus Dur dalam esainya yang dimuat Majalah Tempo edisi 16 Juli 1983 itu:

“[M]engapa harus menggunakan kata ‘shalat’, kalau kata ‘sembahyang’ juga tidak kalah benarnya? Mengapakah harus ‘dimushalakan’, padahal dahulu toh cukup langgar atau surau? Belum lagi ulang tahun, yang baru terasa ‘sreg’ kalau dijadikan ‘milad’. Dahulu tuan guru atau kiai sekarang harus ustadz dan syekh, baru terasa berwibawa. Bukankah ini pertanda Islam tercabut dari lokalitas yang semula mendukung kehadirannya di belahan bumi ini?”

Tapi tenang saja, sekalipun misal makanan halal di Cina nanti benar-benar hanya akan memakai label “清真” alih-alih “حلال‎”, kehalalannya saya kira tetap tidak akan terpengaruh.

Sebab, Pemerintah Cina punya Asosiasi Islam Cina (Zhongguo Yisilanjiao Xiehui), lembaga semacam Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang bertugas mengurus sertifikasi halal.

Sementara menunggu rampungnya Undang-Undang Jaminan Produk Halal yang sedang dikebut DPR pusat, masing-masing daerah di Cina punya peraturan daerah tersendiri terkait regulasi halal. Lengkap dengan hukuman bagi yang dengan tanpa izin  menempel logo halal pada makanan yang kehalalannya dipertanyakan, misalnya.

Dan yang terpenting, di Cina tak pernah kekurangan kaum beragama yang sewaktu-waktu bisa dikompori untuk menggeruduk toko-toko nakal macam itu. Persis kayak di Indonesia. Takbir!

Terakhir diperbarui pada 1 April 2022 oleh

Tags: logo halallogo halal cina
Novi Basuki

Novi Basuki

Kandidat Doktor di Sun Yat-sen University, Guangdong, Cina.

Artikel Terkait

No Content Available
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja MOJOK.CO

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja

5 Agustus 2026
Cinta yang Tak Berbalas Bikin Perempuan Crush Recession hingga Belum Menikah. MOJOK.CO

Crush Recession: Jatuh Cinta Terasa Melelahkan, bikin Perempuan Malas Pacaran

4 Agustus 2026
77 persen lulusan sekolah vokasi (sarjana terapan) tembus dunia kerja. Lebih dari dari lulusan S1 MOJOK.CO

Lulusan Sekolah Vokasi (Sarjana Terapan) Lebih Laris di Dunia Kerja dari S1, Industri Butuh yang Berketerampilan

7 Agustus 2026
Mahasiswa KKN di desa

Suasana KKN Tak Seindah Konten di TikTok: Banyak Drama Sesama Mahasiswa, hingga Tangis Palsu Saat Perpisahan dengan Warga Desa

5 Agustus 2026
Caffino Srikandi Merdeka Cup: turnamen sepak bola putri internasional di Kudus, momentum bakat muda Indonesia unjuk kualitas MOJOK.CO

Srikandi Merdeka Cup: Turnamen Sepak Bola Putri U-16 Level Internasional di Kudus, Momentum Unjuk Kualitas untuk Tembus Timnas

3 Agustus 2026
Saat cerita/sambat ke teman berujung adu nasib dengan kalimat maut "Kamu masih mending". Meresponsnya dengan pura-pura tolol ternyata menyenangkan MOJOK.CO

Niat Cerita ke Teman Berujung Adu Nasib: Pura-pura Tolol saat Teman Bilang “Kamu Masih Mending” Ternyata Menyenangkan

6 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.