Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Lapor Jokowi karena Jalan Rusak Tidak Boleh Diapresiasi!

Sebab bukan rahasia lagi, kan. Otonomi daerah di Indonesia itu seringnya hanya memunculkan “dinasti-dinasti kecil” di wilayah tersebut. Begitu, Pak Jokowi.

Isidorus Rio Turangga Budi Satria oleh Isidorus Rio Turangga Budi Satria
8 Mei 2023
A A
Lapor Jokowi karena Jalan Rusak Tidak Boleh Diapresiasi! MOJOK.CO

Ilustrasi Lapor Jokowi karena Jalan Rusak Tidak Boleh Diapresiasi! (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Jokowi meminta warga untuk lapor langsung kepadanya terkait jalan rusak. Ini bukan keputusan bijak dan layak diapresiasi. Aneh banget! 

Kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Provinsi Lampung berjalan “sesuai prediksi”. Viral berminggu-minggu karena kritikan seorang TikToker yang berbalas sikap antikritik dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung, membuat sang Kepala Negara harus turun tangan membereskan kekacauan. 

Iklan

Dan mudah diduga, kedatangan Jokowi memang menjadi headline di banyak media nasional. Alih-alih mengunjungi jalan yang sudah diperbaiki Pemprov dalam waktu satu malam saja, pria asli Solo itu justru melewati jalan yang terkenal rusak parah!

Keputusan yang justru aneh dari Jokowi

Tapiii, anehnya kemudian adalah cuitan Presiden Jokowi. Setelah memberikan keterangan pers yang menyebut bahwa Pemerintah Pusat akan mengambil alih perbaikan jalan di Lampung melalui Kementerian PUPR, dia juga ngetweet di akunnya. Dia menyebut, jika masyarakat Indonesia mendapati ada jalan rusak yang sudah dianggurin oleh Pemda setempat selama bertahun-tahun, silakan dilaporkan ke Presiden. Iya, jalan rusak, langsung lapor Presiden.

Tanpa mengurangi rasa hormat ke Pak Jokowi, tapi untuk selevel Kepala Negara, urusan jalan rusak sejatinya adalah urusan yang sangat bisa sekali untuk didelegasikan. Ada level Kementerian PUPR untuk perwakilan di tingkat pusat. Ada juga Dinas PUPR Kabupaten/Kota pula di tiap daerah, untuk tingkat Pemda. 

Sekali lagi, kalau urusan jalan rusak harus sampai lapor ke Presiden, terus apa fungsi kita selama ini melakukan sistem otonomi daerah? Apa mending kita bubarin saja ini Pemprov dan Pemkot di seluruh Indonesia dan semua satu negara diurus oleh pusat?

Dilema status jalan di Indonesia

Perkara jalan ini memang dilematis, terutama karena ini Indonesia, Pak Jokowi. Soalnya, sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 34 tahun 2006 tentang jalan, status jalan di Indonesia dibagi menjadi lima jenis, yakni jalan nasional, jalan provinsi, kabupaten, kota, hingga desa. Pembagian status jalan ini yang sedikit banyak, jadi salah satu sebab lambatnya penentuan siapa yang seharusnya memperbaiki jalan.

Dan, kerancuan ini bukan hal baru ya, Pak Jokowi. Ketidaktahuan status jalan sering menjadi sebab masyarakat yang memprotes kerusakan yang misalnya terjadi di depan rumahnya ke Dinas PU tingkat kabupaten/kota, padahal status jalan tersebut misalnya, merupakan jalan nasional yang kewenangannya di Kementerian PUPR selaku Pemerintah Pusat. 

Tapi, kan, mana mungkin semua lapisan masyarakat kita bisa hafal beda jalan yang ada dekat rumahnya adalah jalan provinsi atau jalan kota, bahkan jalan nasional? Yang kami tahu kan, Pak Jokowi, ya jalan rusak, lapor, pengen itu diperbaiki. Simpel, to?

Tapi yang simpel begini memang di Indonesia kerap jadi rumit sekali. Tweet Jokowi sendiri juga seharusnya kurang tepat untuk diapresiasi sebagai hal yang positif. Ini menunjukkan kemunduran sangat masif terhadap keberlangsungan sistem otonomi daerah di Indonesia. 

Ketidakbecusan Pemda

Ketidakbecusan Pemda mengurus hal yang jadi kewenangannya berlanjut menjadi polemik di media sosial, lantas menjadi viral, membuka bobrok betapa nggak jelasnya otonomi daerah di Indonesia. Makin nggak jelas lagi karena sekelas Presiden Jokowi sampai harus bilang ke publik lewat media sosial bahwa, “Kalau ada jalan rusak, lapor saya saja.”

Padahal ya, secara sistem dan teknologi, pelaporan jalan rusak di Indonesia sudah coba difasilitasi, setidaknya oleh Pemerintah Pusat. Dilansir dari situs jalankita.binamarga.pu.go.id, masyarakat dapat melaporkan jalan rusak kepada pemerintah melalui dua cara. Pertama, laporan yang disampaikan melalui kanal situs resmi Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online Rakyat di laman lapor.go.id. 

Yang kedua, pelaporan memanfaatkan aplikasi bernama Jalan Kita yang merupakan produk buatan Direktorat Bina Teknik Ditjen Bina Marga PUPR. Aplikasi Jalan Kita sendiri sudah tersedia di PlayStore dan App Store dan seharusnya bisa mempermudah birokrasi dari proses penyampaian pengaduan jalan rusak di Indonesia

Tapi kembali lagi, di ramai-ramai kasus Lampung dan banyak kasus jalan rusak lainnya di seluruh Tanah Air, kita sampai di poin pentingnya dan pertanyaan utama: apakah otonomi daerah di Indonesia sudah nggak efektif? Apakah sesuatu harus viral dulu supaya mendapatkan solusi dari para pemangku jabatan? Brengsek betul kalau yang seperti ini terjadi.

Lahirnya dinasti kecil di dalam pemerintahan

Perbaikan jalan di level Pemda nih sering banget menimbulkan situasi lempar tanggung jawab karena status jalan kerap dijadikan “tameng”. Seperti misalnya pengaduan kerusakan jalan di jalan berstatus jalan nasional, namun terjadi di sekitar wilayah administrasi Kota A, Pak Jokowi.

Alih-alih melakukan tindakan cepat dengan melakukan perbaikan jalan agar masalah cepat teratasi. Seringnya, dinas terkait di Kota A malah pasif. Akhirnya malah melempar bola dengan ucapan klise, “Status jalan ini tidak masuk kewenangan Kabupaten/Kota”. Kalau sudah kayak gini, kan sebagai sipil rasanya geregetan juga ya. Urusan memperbaiki jalan saja saling lempar, apalagi ngurus hajat rakyat yang lebih besar, kan?

Saya ingin mengingatkan. Kita sebaiknya sesegera mungkin menyadari bahwa kita mundur sangat jauh sekali dari titik kemajuan. Iya, kemajuan diharapkan kalau perkara jalan rusak di daerah tidak bisa tuntas di level Pemda. 

Sebab bukan rahasia lagi, kan. Otonomi daerah di Indonesia itu seringnya hanya memunculkan “dinasti-dinasti kecil” di wilayah tersebut. Begitu, Pak Jokowi.

Iklan

Penulis: Isidorus Rio Turangga Budi Satria

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Jogja dan Lampung Memang Sama-sama Menyebalkan dan analisis menarik lainnya di rubrik ESAI.

Terakhir diperbarui pada 8 Mei 2023 oleh

Tags: jalan rusakJoko WidodojokowiLampunglapor jokowiPresiden Jokowi
Isidorus Rio Turangga Budi Satria

Isidorus Rio Turangga Budi Satria

Dulu nulis bola. Sekarang nulis tekno.

Artikel Terkait

Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Sejumlah titik ruas jalan rusak di Jawa Tengah (Jateng) dapat perbaikan di 2026 MOJOK.CO

Jalan Rusak di Jawa Tengah Dapat Perbaikan di 2026: Rusak Berat Diprioritaskan, Pengerjaan Dilarang Asal-asalan

5 Juni 2026
Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Truk ODOL Memang Meresahkan: Perspektif dari Pengendara Motor yang Selalu Bertemu dengan Truk Kelebihan Muatan di Jalan

Truk ODOL Memang Meresahkan: Perspektif dari Pengendara Motor yang Selalu Bertemu dengan Truk Kelebihan Muatan di Jalan

24 Juni 2025
Penipuan love scam: ngaku-ngaku jadi pilot di luar negeri, berhasil pikat perempuan Lampung hingga poroti puluhan juta MOJOK.CO

Penyesalan Perempuan Lampung, “Tergila-gila” Lelaki yang Ngaku Jadi Pilot di Luar Negeri Berujung Kehilangan Uang Puluhan Juta

7 Mei 2025
Sialnya Mudik dari Jogja ke Sumatra karena Percaya Pelni-ASDP MOJOK.CO

Nasib Sial Mudik dari Jogja ke Sumatra via Merak-Bakauheni Akibat Terlalu Berharap ke ASDP dan Pelni

26 Maret 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya MOJOK.CO

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya

23 Agustus 2026
Pesan veteran Indonesia di momen kemerdekaan. MOJOK.CO

Dari Veteran Indonesia ke Generasi Muda yang Pesimis Rayakan Kemerdekaan: Bacalah Buku Sejarah!

19 Agustus 2026
Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta. MOJOK.CO

Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA: Masjid sebagai Mercusuar Peradaban dan Konservasi Lingkungan

22 Agustus 2026
Grup WhatsApp keluarga, tempat menghakimi hidup orang lain (Unsplash)

Grup WhatsApp keluarga bukan tempat silaturahmi, tapi sumber stres baru ketika berubah menjadi ruang sidang untuk menghakimi hidup orang lain

18 Agustus 2026
TPU Farm: Ketika Kematian Menumbuhkan Kehidupan MOJOK.CO

TPU Farm: Ketika Cabai Tumbuh di Area Makam

17 Agustus 2026

Punya 30 Kamar Kost Putri Ternyata Tidak Seindah yang Dibayangkan

19 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.