Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Komplain Itu Ya ke Orangnya Dulu Baru ke Medsos, Jangan Kebalik

Sigit Budhi Setiawan oleh Sigit Budhi Setiawan
5 Oktober 2017
A A
171005 ESAI HANDPHONE MARAH

171005 ESAI HANDPHONE MARAH

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kalau Anda hendak mencari orang suci, pakar, berani, dan sempurna, carilah di media sosial. Di media sosial berkumpul orang-orang yang sedikit-sedikit posting kritikan, komplain, penilaian moral, dan aktivis level mentok jedog.

Padahal besar kemungkinan semua itu palsu belaka. Koyo yak-yak o dhewe, ujar orang di kampung saya sinis. Karena, seperti kutukan Mariotangguhisme, para orang suci dan benar itu bisa menyelesaikan 1.001 masalah orang lain, namun pada masalah ke-1.002, yaitu masalah dirinya sendiri, dia gagal! Dan inilah awal krisis kebudayaan di dalam budaya dalam kumparan teknologi informasi.

Iklan

Di zaman now, mudah sekali postingan berupa teks, gambar, video, dan suara dari para orang suci dan benar itu menjadi viral. Ironinya, para audiens sosial media menerimanya begitu saja. Cenderung tanpa verifikasi, resistensi, dan kritisisme. Semua ditelan dan disebar (lagi) begitu saja.

Mau kasih contoh Buni Nyanyi kok kejauhan. Bikin orang itu jadi penting saja. Contoh lain, beberapa hari lalu sempat viral kejadian netizen di Yogyakarta yang menjadi korban drel, pentung, palak halus, atau diberi harga jauh dari normal di sebuah angkringan. Kejadian tersebut berlangsung tengah malam di timur Yogya. Tanpa protes, adu mulut, klarifikasi, pelaporan ke dinas terkait/polisi, dan mungkin ajakan duel, netizen tersebut langsung membayar.

Namun, ia membalas dendam palakan halus itu dengan curhat plus foto dan lokasi kejadian.

Contoh lain: video tersembunyi pengendara mobil terhadap ulah penjaga tol yang menolak pembayaran uang tunai. Dengan sok kritis, ngaktivis, dan saklek, ia berdebat kusir dan merasa pintar sendiri memaksa hanya mau membayar dengan uang tunai. Sang pengendara mobil merasa kebijakan nontunai belum berlaku. Dan kebijakan uji coba di jalan tol tersebut tidak betul menurut keyakinannya.

Ibarat ngajak tinju, pengendara ini tentu salah pilih lawan. Ibarat ngajak adu mulut, pengendara ini seolah mengajak baku mulut dengan tembok. Penjaga tetap penjaga, bukan siapa-siapa dalam hierarki pengambilan kebijakan penerapan peraturan nontunai ini. Apes bagi keduanya, video tersembunyi yang dibuat sang pengendara mobil itu viral dan menjadi bahan untuk nge-bully keduanya.

Dua tindakan sok di atas tampak sebagai kegagapan yang melahirkan sikap grusa-grusu tanpa verifikasi dan tanpa menyadari dampak besar bagi orang yang diviralkan melalui postingan teks, video, atau gambar tersebut. Dua contoh pengunggah di media sosial di atas telah berubah menjadi robot atau manusia tanpa kepala. Isi logikanya hanya if, then, dan else.

Dua orang ini tidak menyadari dampak besar dan abadi atas apa yang mereka posting. Usaha angkringan bisa bangkrut, nama baik rusak, dan harus merangkak dari nol lagi. Sang penjaga angkringan kala itu bisa jadi dalam kondisi ngantuk hingga salah hitung. Bisa jadi memang bodoh matematikanya karena bukan penjaga utama, tapi hanya pengganti.

Pun begitu dengan nasib sang penjaga tol. Bisa jadi setelah kejadian tersebut, pekerjaannya hilang karena ia dijadikan tumbal oleh manajemen level atas untuk cuci tangan. Bisa jadi anak, keluarga, atau kerabatnya kena cibiran dan bullying.

Kehendak Mariotangguhisme dua sosok sok suci dan benar itu akan berbeda alurnya kalau mereka telah melalui alur klarifikasi dan dialog yang manusiawi. Misalnya, sebelum membayar tagihan angkringan itu, dia klarifikasi, kenapa kok mahal sekali? Nah, kalau klarifikasi itu melahirkan keributan mulut dan memicu perkelahian fisik, itu jelas konsekuensi logis penegak moral dan nilai Mariotangguhisme.

Pun dengan tindakan sang pengemudi mobil di tol tadi. Baiknya ya tidak serta-merta mengunggah video tersembunyi itu ke media sosial. Usaha dialog dan klarifikasi harusnya ditempuh secara empan papan alias lihat tempat. Kalau semua telah mentok dan relasi kekuasaan si pengendara dengan manajemen jalan tol memang timpang sehingga terjadi abuse of power, mengunggah video tersebut menjadi perlawanan. Bukan tindakan pengecut yang beraninya ngadu ke medsos.

Saya harus memberi kredit pada Husain Fata Mizani dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Husain seorang netizen dari Madiun, Jawa Timur yang dengan berani mempertaruhkan risiko dihajar polisi dengan mengklarifikasi dan membuat siaran langsung praktik razia lalu lintas yang ia anggap tidak sesuai prosedur hukum. Bagi saya, tindakan Husain ini bentuk melek hukum. Ia melawan dengan siaran langsung di medsos karena hubungan kekuasaan memang timpang.

Perilaku ala orang suci dan benar yang dipraktikan pelanggan angkringan dan pengendara mobil tadi biasa dan mudah kita temukan di media sosial, apa pun platform-nya. Pelakunya termasuk orang terpelajar dan melek hukum. Sikat sana, kritik sini, dan tebar ke mana-mana secara asal. Motivasi utama tampaknya biar nyelebritis dan jadi people zaman now.

Iklan

Kesimpulannya, tindakan para sok suci dan benar adalah krisis kebudayaan yang menjadi persoalan kemanusiaan hari ini dan masa depan. Ketika perubahan kebudayaan dalam ledakan teknologi informasi itu gagal diantisipasi, sedang kebudayaan lama telah mati dan kebudayaan baru belum lahir, tindakan manusia dalam budaya bentukan teknologi informasi tidak ubahnya mesin logaritma itu sendiri: hanya memiliki data, informasi, dan pengetahuan.

Kebijaksanaan yang menjadi domain manusia, bukan mesin, tersingkir dan disingkirkan. Kegagapan mengantipasi krisis kebudayaan di atas tidak hanya melahirkan perilaku ngehek Mariotangguhisme, namun juga meledakkan hoax yang mudah membakar fundamentalisme pada nilai primordial dan konflik laten lainnya.

Terakhir diperbarui pada 1 Januari 2020 oleh

Tags: buni yaniHusain Fata MizaniInternetkomplainmedia sosialvideo viral
Sigit Budhi Setiawan

Sigit Budhi Setiawan

Artikel Terkait

Zero post di Instagram cara hidup tenang Gen Z. MOJOK.CO
Urban

Gen Z Lebih Tenang Tanpa Feed Instagram (Zero Post), Aslinya Bukan Misterius Cuma Capek Mengejar Validasi dan Ingin Melindungi Diri

7 Mei 2026
Anomali pengunjung toko buku sekarang bukan baca, malah foto
Sehari-hari

Anomali Pengunjung Toko Buku Hari Ini: Outfit Foto Elite, Beli Buku Sulit

11 Februari 2026
Gawai adalah Candu: Cerita Mereka yang Mengalami Brain Rot karena Terlalu Banyak Menonton Konten TikTok.MOJOK.CO
Fragmen

Gawai adalah Candu: Cerita Mereka yang Mengalami Pembusukan Otak karena Terlalu Banyak Menonton Konten TikTok

3 Juli 2025
cek kuota telkomsel.MOJOK.CO
Tekno

5 Cara Cek Kuota Telkomsel Paling Cepat dan Praktis

18 September 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nasi Kuning Muna Cung dan Kisahnya yang Membuat Wisatawan Rela Berjalan Kaki dari Malioboro MOJOK.CO

Nasi Kuning Muna Cung dan Kisahnya yang Membuat Wisatawan Rela Berjalan Kaki dari Malioboro

22 Juli 2026
Dalang cilik perempuan asal Klaten yang menyukai wayang. MOJOK.CO

Jadi Perempuan Satu-satunya di Lomba Dalang Anak Klaten, Bocah 13 Tahun Ini Buktikan Wayang Tak Kenal Gender

22 Juli 2026
Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri.MOJOK.CO

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri

17 Juli 2026
Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri MOJOK.CO

Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri

20 Juli 2026
Cerita Pencari Kerja Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’.MOJOK.CO

Cerita Jobseeker Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’

17 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.