Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kolom

Lapisan demi Lapisan Ketuhanan

Ulil Abshar Abdalla oleh Ulil Abshar Abdalla
13 Mei 2020
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Tak ada suatu peristiwa apa pun di dunia ini kecuali merupakan manifestasi dari nama dan sifat-sifat ketuhanan dengan perantaraan af’al-Nya.

Ini adalah pembahasan terakhir mengenai tema tindakan Tuhan. Saya memang sengaja menulis agak panjang dan berulang-ulang mengenai tema ini, karena di sanalah terletak salah satu soal pokok yang harus kita hadapi sebagai seorang beriman.

Iklan

Saya akan mengakhiri pembahasan ini dengan mengulas kembali hadis qudsi yang sangat populer di kalangan para sufi: Kuntu kanzan makhfiyyan, fa-aradtu an u‘rafa, fa-khalaqtu-l-khalqa—s Aku (Tuhan) dulunya adalah “perbendaharaan” yang tersembunyi, kemudian Aku ingin diketahui, lalu Aku ciptalah ciptaan (makhluk).

Hadis ini melambangkan proses “tanazzul”: Tuhan yang “turun” dari kerahasiaan total-Nya, membiarkan diri-Nya dikenal, diketahui, disingkapkan rahasianya-Nya oleh makhluk, terutama manusia. Momen “tanazzul” inilah yang memungkinkan Tuhan menyingkapkan diri melalui berbagai faset: melalui dzat, nama, sifat, dan tindakan (af’al).

Dalam tarekat Syattariyyah (didirikan pada abad ke-14 oleh Syekh Sirajuddin Abdullah Syattar [w. 1406]; tarekat ini banyak menyerap ajaran illuminasi atau isyraq dari Syekh Syihabuddin Suhrawardi [w. 1191]), dikenal ajaran tentang “martabat tujuh” yang menjelaskan dengan cara yang amat menarik mengenai proses “ketersingkapan” ilahi.

Ada tiga faset penting di sana: ahadiyyah–wahdah–wahidiyyah. Faset-faset ini boleh kita sebut sebagai lapisan-lapisan ketuhanan.

Ahadiyyah adalah faset ketika Tuhan masih merupakan “kanzun makhfiyyun”, kerahasiaan total yang tak mungkin dikenal oleh manusia. Inilah Tuhan yang digambarkan dalam ajaran Jawa sebagai “tan kinaya ngapa”.

Ibn ‘Arabi (w. 1240) menyebutnya sebagai “ankaru-n-nakirat,” nakirah (sesuatu yang tak dikenal) yang paling nakirah. Tuhan tidak hendak berada dalam faset ini terus-menerus. Dia ber-“kehendak (iradah) untuk “turun” dari faset yang misterius ini ke faset berikutnya yang sedikit lebih terang; faset yang disebut “wahdah”.

Faset “wahdah” adalah momen ketika Tuhan, melalui dzat (subtansi) dan sifatnya mulai, “ber-ta’alluq” atau berhubungan dengan seluruh ciptaan, tetapi secara ijmal, umum saja. Momen ini bisa kita gambarkan dengan ide yang muncul di kepala seorang arsitek tentang sebuah bangunan yang ingin ia rancang.

Ide itu belum ia tuangkan dalam bentuk gambar yang detil atau maket. Faset ini juga disebut sebagai “ta‘ayyun awwal,” realisasi pertama yang masih serba global dan umum. Pada faset ini, Tuhan sudah bukan lagi dzat yang sepenuhnya misterius. Dia sudah mulai “menampakkan” diri, walau samar-samar.

Faset berikutnya adalah “wahidiyyah”, yaitu faset ketika dzat dan sifat-sifat Tuhan sudah mulai berhubungan dengan ciptaan/makhluk secara detil, tetapi masih pada tataran “konseptual”.

Ini bisa kita setarakan dengan momen ketika sang arsitek tadi sudah mulai menuangkan ide arsitektural yang bersifat umum di kepalanya dalam bentuk gambar yang detil, kalau perlu disertai dengan maket. Tetapi gedung itu masih berupa gambar, belum muncul secara riil sebagai gedung yang memiliki bentuk fisik yang bisa ditinggali.

Faset yang paling akhir dari proses ketersingkapan Yang Ilahi tentu momen ketika dunia yang bersifat fisik ini sudah muncul ke ‘alam al-syahadah, alam yang tampak pada indera kita. Alam inilah yang menjadi arena tempat terselenggaranya seluruh af’al atau tindakan-tindakan Tuhan. Juga di alam inilah seluruh nama dan sifat-sifat ketuhanan mewujud secara riil.

Tak ada suatu peristiwa apa pun di dunia ini kecuali merupakan manifestasi dari nama dan sifat-sifat Tuhan dengan perantaraan af’al-Nya. Ketika kita melihat seorang ibu yang merawat anak-anaknya, itu, dalam kerangka cara-pandang yang spiritual ini, tiada lain adalah wujud dari sifat rahman-rahim, ke-maha-kasih-sayang-an Tuhan.

Seluruh peristiwa di alam raya yang memperlihatkan “care-taking,” merawat sesuatu, itu adalah realisasi dari sifat “mudabbir”-Nya, yakni Tuhan Yang Maha Merawat.

Dengan cara pandang semacam ini, seorang beriman akan merasakan kehadiran Tuhan dalam seluruh peristiwa, Tuhan yang “omni-present”, yang selalu ada dan hadir bersama hamba-hamba-Nya; Tuhan yang menyertai makhluk-Nya melalui “ma‘iyyah”-Nya, melalui kesertaan-Nya yang non-stop dalam setiap momen; Tuhan yang tak pernah absen dan lengah.

Dengan kesadaran seperti ini, kita akan menghayati tindakan-tindakan Tuhan sebagai “portal” dari mana kita memasuki alam ketuhanan, agar Tuhan selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari, bukan Tuhan yang “jauh” dan terpisah dari kehidupan riil. Tindakan Tuhan dalam alam raya ini adalah jalan masuk bagi seorang hamba untuk bertemu dengan Sang Pencipta.

Tentu saja, kesadaran semacam ini hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang beriman, dan sungguh-sungguh dengan imannya itu, yang melihat dunia sebagai manifestasi dari tindakan Tuhan. Orang-orang yang menyangkal sejak awal keberadaan Tuhan sudah tentu akan melihat alam raya ini bukan sebagai manifestasi Tuhan melalui af‘al-Nya, melainkan dunia fisik yang bekerja sepenuhnya secara otonom melalui hukum alam.

Iklan

Manusia memiliki pilihan bebas antara dua jalan itu: jalan keimanan yang bermuara pada pandangan tentang dunia sebagai arena di mana Tuhan menyingkapkan diri; atau jalan penyangkalan yang bermuara pada pandangan tentang dunia sebagai “a self-contained system of physical world,”—dunia yang tertutup pada dirinya sendiri dan menutup kehadiran Tuhan.

Manusia adalah makhuk yang bebas. Tuhan memberikan kebebasan penuh kepadanya untuk memilih mana jalan yang ia kehendaki.


Sepanjang Ramadan, MOJOK.CO akan menampilkan kolom khusus “Wisata Akidah Bersama al-Ghazali” yang diampu oleh Ulil Abshar Abdalla. Tayang setiap pukul 16.00 WIB.

Terakhir diperbarui pada 13 Mei 2020 oleh

Tags: al-ghazaliWisata Akidah
Ulil Abshar Abdalla

Ulil Abshar Abdalla

Cendikiawan muslim.

Artikel Terkait

Masa Depan Agama-agama Dunia

23 Mei 2020

Argumen Keberadaan Tuhan untuk ‘New Atheists’

22 Mei 2020

Kita Tak Bisa Lagi Beragama secara Solipsistik

21 Mei 2020

Masih Relevankah Doktrin Politik Sunni pada Masa Ini?

20 Mei 2020

Doktrin Politik Sunni yang ‘Quietist’

19 Mei 2020

Apakah Kita Perlu Negara?

18 Mei 2020
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Penyesalan mahasiswa kiri dan naif: tolak kerja (jadi budak) korporat karena melanggengkan kapitalisme, tapi sadar orang tua belum bahagia MOJOK.CO

Sesal Mahasiswa Sok Kiri Anti Kapitalisme dan Naif: Tolak Kerja Korporat, Tapi Sadar Belum Bantu Ekonomi Orang Tua

21 Agustus 2026
Sisi lain blusukan kampung di Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Sisi Lain Tren Blusukan Kampung: Nggak Seru seperti di Medsos, Malah Dicurigai Pencuri dan Dianggap Tak Tau Adab

20 Agustus 2026
Jombang makin kegilaan karnaval sound horeg: battle audio tengah malam, atraksi lampu jadi perburuan baru MOJOK.CO

Jombang Makin “Kegilaan” Sound Horeg: Battle Audio Tengah Malam, Atraksi Lampu Jadi Tren Kalcer Baru

23 Agustus 2026
Jangan remehkan antrean Stasiun Lempuyangan, Jogja, di jam pagi untuk keberangkatan Kereta Api (KA) Ekonomi Sri Tanjung MOJOK.CO

Antrean Pagi Stasiun Lempuyangan Jogja Selalu “Keos” dan Bikin Tegang, Datang Lebih Awal Tak Jadi Solusi

21 Agustus 2026
Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026
Desta pamit dari Vindes rasanya kayak kehilangan dua teman MOJOK.CO

Ketika Desta pamit dari Vindes, saya merasa kehilangan dua teman yang tidak pernah saya kenal

27 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.