Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kolom

Argumen Keberadaan Tuhan untuk ‘New Atheists’

Ulil Abshar Abdalla oleh Ulil Abshar Abdalla
22 Mei 2020
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Dawkins mengatakan bahwa semua agama (termasuk Islam) adalah non-sense; bahwa gagasan tentang Tuhan sama sekali tak masuk akal.

Sejak Richard Dawkins menerbitkan bukunya, God’s Delusion, pada 2006, muncul gerakan baru yang secara agresif mengampanyekan ateisme. Buku Dawkins itu, harus diakui, memuat sejumlah argumen yang cukup solid, dan ditulis dengan bahasa yang amat elegan. Tetapi kita menangkap di sana nada kemarahan yang mendalam atas agama. Kenapa? Ini penjelasan saya.

Iklan

Kemarahan para “new atheists” seperti Dawkins itu, kalau kita mau jujur, sangat mungkin dipicu oleh perkembangan dalam masyarakat Islam. Dawkins tampaknya menulis buku itu sebagai respon tak langsung terhadap munculnya kelompok-kelompok fundamentalis Islam di dunia Islam yang kemudian menyebar ke Eropa Barat. Pengaruh ideologi ini makin menggila setelah munculnya ISIS pada 2014. Kebrutalan ISIS membikin kaget dan marah orang-orang di Eropa Barat. Seperti kita tahu, kebrutalan ini tidak saja terjadi di Irak dan Syria, tetapi menyebar dan meneror Eropa.

Sejujurnya, yang “shocked” karena kebrutalan ISIS bukan saja kalangan non-Muslim di Barat. Yang paling marah, bahkan sampai ke tingkat “muak,” justru orang Islam sendiri, sebab, korban pertama dan paling banyak dari kebrutalan ISIS sebetulnya bukan orang Barat, melainkan umat Islam. Jadi, dalam hal kemarahan atas praktek agama yang “brutal” ini, baik umat Islam dan Dawkins memiliki kesamaan: kemarahan dan kemuakan.

Yang membedakan adalah: Dawkins bergerak lebih jauh lagi dengan mengatakan bahwa semua agama (termasuk Islam) adalah non-sense; bahwa gagasan tentang Tuhan sama sekali tak masuk akal. Dawkins kemudian menyusun argumen yang bertakik-takik untuk menyangkal keberadaan Tuhan. Dia mencoba mematahkan argumen-argumen skolastik tentang wujudnya Tuhan, baik argumen ontologis, kosmologis, atau teleologis.

Saya tak cukup bisa diyakinkan oleh argumen Dawkins dalam bukunya itu, meskipun saya menikmatinya sebagai bacaan. Banyak buku yang sudah ditulis untuk menyangkal balik hujjah-hujjah Dawkins, baik dari kalangan Islam, Kristen, atau kalangan ateis dan agnostik sendiri. Saya merasa, beberapa “argumen klasik” tentang wujudnya Tuhan masih tetap relevan hingga sekarang. Berikut ini beberapa catatan saya tentang trend new-atheism ini.

Pertama, sebagaimana sudah banyak dikemukakan oleh para pengkritik Dawkins, sains dan pengetahuan kealaman tidak akan bisa membuktikan ada atau tidak adanya Tuhan. Paling jauh yang bisa dicapai oleh sains adalah keadaan “tidak tahu,” apa yang sering disebut sebagai agnostisisme.

Apa yang disuguhkan oleh data-data sains, entah dalam kimia, biologi, fisika, maupun astronomi, hanyalah keterangan tentang bagaimana alam bekerja melalui hukum-hukum tertentu. Apa yang dilakukan oleh sains, paling jauh hanya mengungkap “natural laws” yang mengatur kerja alam fisik ini. Sains hingga kapanpun tak akan bisa menjawab pertanyaan dasar ini: Bagaimana dan dari mana hukum itu muncul? Siapa yang “menciptakannya” atau men-desain-nya?

Fondasi utama sains adalah empirisme: segala hal hanya bisa dikatakan “ada” atau “tidak ada” jika ia bisa dikonfirmasi oleh data dan bukti empiris. Kalau sesuatu tidak memiliki bukti yang bisa diindera (baik secara langsung atau melalui instrumen pembantu), ia secara otomatis tidak valid secara ilmiah; dengan kata lain: dia hanya “hantu” saja. Karena Tuhan tidak bisa dibuktikan secara empiris, maka dia tidak ada. Sederhana.

Pertanyaan yang sering diajukan adalah ini: Jika sains bekerja dengan metode seperti itu, bagaimana ia ia bisa sampai kepada kesimpulan tentang tak adanya Tuhan? Padahal kita tahu, Tuhan bukanlah entitas yang bisa dibuktikan ada atau tidak ada dengan memakai metode itu. Sebab Tuhan bukanlah data empiris.

Jika sains bergerak lebih jauh dengan memastikan bahwa Tuhan tidak ada, dia sudah melangkahi wilayahnya – yakni, wilayah data empiris. Seorang saintis yang “meyakini” tidak adanya Tuhan sudah berubah dari seorang saintis menjadi seorang yang memeluk “keyakinan” tertentu. Dalam hal ini posisi dia sudah sama dengan orang-orang beriman. Ateisme dan teisme memiliki kedudukan yang sama: sama-sama merupakan keyakinan, bukan sains.

Kedua: Sains menjelaskan kemunculan kehidupan (origin of life) melalui apa yang disebut sebagai teori evolusi. Menurut teori ini, segala ragam kehidupan yang ada (manusia dan binatang dengan seluruh spesiesnya) muncul melalui proses evolusi selama jutaan tahun. Tak ada campur tangan “tuhan” dalam proses yang bersifat natural ini. Semua kehidupan lahir melalui proses mutasi dan variasi yang bersifat “random,” acak, seperti acaknya sekeping dadu yang dilempar ke papan permainan. Semuanya lahir karena “chance,” kebetulan saja.

Penjelasan semacam ini, bagi saya, sangat counter-intuitive, tak masuk akal. Secara molekuler, semua makhluk hidup adalah sebuah “sistem” yang amat kompleks dan canggih. Ia beroperasi dengan mengikuti hukum tertentu yang sama sekali tidak acak. Struktur molekuler yang menjadi fondasi makhluk hidup (bisa disebut DNA) adalah sebuah sistem informasi yang begitu rapi.

Bayangkanlah dua contoh susunan huruf ini. Yang pertama: ysbxcd nbhv vdferacsxs. Yang kedua: Merapi terletak di Yogya. Dua susunan ini mirip dari segi jumlah huruf. Tetapi ada perbedaan yang radikal: yang pertama adalah susunan acak yang tak mengandung informasi. Yang kedua adalah sistem informasi. Untuk menciptakan susunan yang pertama tak dibutuhkan orang “pintar”. Cukup lemparkan keping-keping huruf, maka akan muncul susunan yang acak seperti itu.

Tetapi susunan yang kedua tidak mungkin lahir kalau tidak ada seorang “penyusun huruf” yang pintar dan mengerti bahasa Indonesia. Susunan kedua ini tidak bisa lahir melalui evolusi yang acak. Dia membutuhkan “intelligence,” kecerdasan. Jika teori evolusi sebatas menjelaskan tentang mutasi dan variasi organisme atau makhluk hidup, saya bisa menerima.

Tetapi jika variasi ini dijelaskan sebagai proses yang sepenuhnya berlangsung secara acak, rasanya kok tidak masuk akal. Sama dengan tak masuk akalnya kemunculan susunan kalimat bermakna dalam contoh kedua di atas secara acak. Anda lemparkan berapa ribu kalipun keping huruf di papan, tidak akan tersusun kalimat seperti itu. Karena susunan kalimat adalah informasi; dan informasi tidak akan lahir tanpa ada aktor “pintar” di baliknya. Dia tidak bisa muncul secara acak.

Inilah alasan kenapa saya sulit menerima hujjah-hujjah penyangkalan keberadaan Tuhan berdasarkan temuan-temuan sains modern seperti yang dikemukakan para new-atheists seperti Dawkins. Data-data sains yang menjadi fondasi hujjah mereka tidak cukup mendukung.


Sepanjang Ramadan, MOJOK.CO akan menampilkan kolom khusus “Wisata Akidah Bersama al-Ghazali” yang diampu oleh Ulil Abshar Abdalla. Tayang setiap pukul 16.00 WIB.

Terakhir diperbarui pada 22 Mei 2020 oleh

Tags: al-ghazaliateisTuhanWisata Akidah
Ulil Abshar Abdalla

Ulil Abshar Abdalla

Cendikiawan muslim.

Artikel Terkait

Cerita Mereka yang Berhasil Stop Main Judi Online Setelah Kehilangan Segalanya: Kalah Puluhan Juta, Ingin Resign dari PNS, Tapi Bisa Taubat Gara-Gara Grup Facebook.MOJOK.CO

Tentang Sebuah Kampung yang Ketagihan Judi Togel

4 Januari 2024
Tuhan, Mengapa Saya Terlahir Menjadi Manusia Seperti Ini? MOJOK.CO

Tuhan, Mengapa Saya Terlahir Menjadi Manusia Seperti Ini?

25 Desember 2023
Mungkin Tuhan Menamparku, Cinta Perempuan itu Bukan Untukku. MOJOK.CO

Mungkin Tuhan Menamparku, Cinta Perempuan itu Bukan Untukku

4 Juni 2023
Tuhan Itu Apa

Bapak, Tuhan Itu Apa?

14 Januari 2022
Aku Korban Pelecehan yang Dipaksa Memakai Hijab MOJOK.CO

Aku Korban Pelecehan yang Dipaksa Memakai Hijab

20 Oktober 2021
Jika Setan Berkembang Biak Sesaat Sebelum Kiamat, Apa Anak Setan Itu Harus Masuk Neraka?

Jika Setan Berkembang Biak Sesaat Sebelum Kiamat, Apa Anak Setan Itu Harus Masuk Neraka?

25 Juni 2021
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026
14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

25 Agustus 2026
Peserta dalam ajang Klaten International Motocross di Sirkuit Bokong Semar, kawasan Rowo Jombor. MOJOK.CO

Anak Muda Asal Jawa Barat Kalahkan Crosser dari Australia di Ajang Klaten International Motocross

25 Agustus 2026
Proyek Hutan Tanaman Energi (HTE) untuk co-firing biomassa di PLTU langgengkan praktik perampasan tanah ala kolonial MOJOK.CO

Proyek Bioenergi Kayu di Jawa Langgengkan Praktik Perampasan Lahan ala Kolonial

21 Agustus 2026
perubahan desil membuat penjual ayam potong menderita

Perubahan Desil Tak Masuk Akal Membuat Penjual Ayam Potong Menderita

21 Agustus 2026
UMKM, UKM.MOJOK.CO

Pemkot Jogja Buru “DNA” 18.000 Usaha Kecil untuk Basis Data Tunggal 2026 demi Kebijakan Tepat Sasaran

20 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.