MOJOK.CO – Seringkali orang-orang membeli sabun atau produk pembersih pertimbangan utamanya karena aroma wanginya, padahal itu salah.
Produk home and personal care atau perawatan tubuh dan pembersih rumah seharusnya dipilih berdasarkan kemampuan membersihkan serta keamanannya.
Namun, ketika membeli sabun, sampo, atau deterjen, kita justru lebih sering membuka tutup kemasan untuk mencium wanginya daripada membaca label untuk memahami kandungannya.
Kebiasaan itu menunjukkan bahwa aroma bukan lagi sekadar pelengkap. Wangi telah menjadi ukuran kebersihan, bahkan memengaruhi penilaian kita terhadap kualitas sebuah produk. Padahal, produk yang paling harum belum tentu paling efektif membersihkan ataupun paling sesuai untuk tubuh.
Ketika bersih harus berarti harum
Sekitar 2000 SM, sabun hanyalah campuran sederhana dari lemak hewan dan abu yang digunakan untuk mengangkat kotoran. Sabun pada masa itu bahkan tidak memiliki aroma yang menyenangkan karena nilai sebuah sabun diukur dari kemampuannya membersihkan, bukan dari wanginya (Vinupriya, 2022).
Namun, perkembangan industri home and personal care perlahan mengubah cara kita memandang produk pembersih.
Hampir semua dari kita pernah mengalami kejadian serupa sejak kecil. Ketika pulang bermain dengan badan penuh keringat, orang tua akan berkata, “Mandi sana, badanmu bau asem.”
Teguran itu tidak sepenuhnya keliru. Bau badan memang dapat muncul ketika bakteri alami di permukaan kulit menguraikan keringat dan menghasilkan senyawa beraroma tidak sedap. Namun, pengalaman tersebut tanpa sadar membentuk cara kita memahami kebersihan.
Setelah mandi, yang pertama kali diperiksa bukan apakah kotoran dan keringat telah terangkat, melainkan apakah tubuh sudah kembali harum. Tubuh yang masih berbau dianggap belum benar-benar bersih. Sebaliknya, tubuh yang wangi langsung diasosiasikan dengan kebersihan dan kelayakan untuk bertemu orang lain.
Industri perawatan tubuh dan pembersih rumah kemudian memperkuat asosiasi tersebut. Iklan sabun tidak hanya menawarkan kemampuan mengangkat kotoran, tetapi juga kesegaran, rasa percaya diri, daya tarik, dan aroma yang bertahan berjam-jam.
Deterjen pun tidak cukup menjanjikan pakaian bersih. Pakaian harus harum sepanjang hari agar dianggap telah dicuci dengan baik.
Akibatnya, aroma yang semula hanya menjadi nilai tambah perlahan berubah menjadi tolok ukur kualitas.
Survei Katadata Insight Center pada 2022 melaporkan bahwa 72 persen konsumen Indonesia menjadikan aroma sebagai salah satu pertimbangan utama ketika membeli sabun mandi. Survei Jajak Pendapat pada 2024 terhadap 2.143 responden juga menempatkan aroma sebagai alasan penting dalam memilih produk perawatan tubuh.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa konsumen tidak hanya membeli fungsi membersihkan. Mereka juga membeli sensasi, kenyamanan, dan citra diri yang dilekatkan pada aroma tertentu.
Tidak ada yang salah dengan menyukai sabun yang harum. Masalahnya muncul ketika aroma dianggap sebagai bukti bahwa suatu produk lebih bersih, lebih berkualitas, dan lebih aman.
Wangi sabun atau deterjen, bukan bahan yang membersihkan
Sabun diperkirakan telah digunakan sejak ribuan tahun lalu dalam bentuk yang jauh lebih sederhana. Bahan dasarnya berupa campuran lemak dan zat alkali yang berfungsi membantu mengangkat kotoran.
Cara kerja sabun modern tentu telah berkembang. Namun, prinsip dasarnya tetap sama: kemampuan membersihkan terutama berasal dari surfaktan, yakni senyawa yang membantu melepaskan minyak dan kotoran agar mudah dibilas dengan air. Kuat atau lemahnya aroma tidak menentukan seberapa efektif proses tersebut berlangsung.
Dengan kata lain, fragrance atau pewangi bukanlah bahan utama yang membersihkan. Fungsinya memberikan aroma dan menciptakan pengalaman tertentu ketika produk digunakan.
Aroma memang dapat membuat kegiatan mandi terasa lebih menyenangkan. Wangi tertentu juga dapat memberikan kesan segar, menenangkan, atau meningkatkan rasa percaya diri. Namun, semua itu merupakan pengalaman sensoris, bukan ukuran bahwa bakteri, minyak, dan kotoran telah terangkat lebih baik.
Sayangnya, kesan sering kali lebih mudah dipercaya daripada informasi yang tercetak kecil pada kemasan. Kita hafal aroma sabun mandi yang digunakan, tetapi tidak selalu mengetahui bahan aktifnya.
Kita tahu deterjen tersebut wangi bunga, tetapi belum tentu memahami petunjuk pemakaian dan peringatan keamanannya.
Pewangi bukan selalu berbahaya, tetapi bukan tanpa risiko
Pewangi bukan satu bahan tunggal. Istilah fragrance pada label dapat merujuk pada campuran berbagai senyawa alami maupun sintetis yang membentuk aroma tertentu. Karena komposisi dan konsentrasinya berbeda, risikonya pun tidak dapat disamaratakan.
Artinya, tidak semua produk berpewangi berbahaya. Namun, bukan berarti seluruh pewangi pasti cocok untuk semua orang.
Sejumlah senyawa pewangi dapat memicu iritasi atau dermatitis kontak alergi pada individu yang sensitif. Gejalanya dapat berupa kulit kemerahan, gatal, kering, atau munculnya ruam setelah produk digunakan. Produk beraroma kuat juga dapat memicu sakit kepala, migrain, atau keluhan pernapasan pada sebagian orang.
Survei Ursula Klaschka pada 2020 terhadap 1.102 orang dewasa di Jerman menemukan bahwa 19,9 persen responden menyatakan sensitif terhadap produk berpewangi. Sebagian dari mereka melaporkan keluhan pernapasan, gangguan pada selaput lendir, sakit kepala, dan masalah pada kulit.
Hasil tersebut tidak berarti satu dari lima orang di seluruh dunia pasti akan sakit akibat fragrance. Penelitian itu berbentuk survei berdasarkan pengalaman yang dilaporkan responden di Jerman.
Namun, temuan tersebut cukup menjadi pengingat bahwa reaksi terhadap pewangi dapat berbeda pada setiap orang. Temuan ini juga menunjukkan bahwa daya tarik aroma sering kali lebih kuat daripada pertimbangan terhadap risiko kesehatan.
Tinjauan Alblooshi pada 2025 juga mencatat kekhawatiran terhadap sejumlah bahan yang digunakan dalam parfum dan kosmetik, seperti jenis ftalat tertentu, paraben, senyawa organik volatil, serta beberapa kontaminan. Bahan-bahan tersebut telah diteliti dalam kaitannya dengan gangguan hormon, reproduksi, pernapasan, neurologis, dan potensi kanker.
Namun, bukan aroma itu sendiri yang otomatis menyebabkan seluruh gangguan tersebut. Risiko bergantung pada jenis senyawa, konsentrasi, lama paparan, cara penggunaan, dan kondisi penggunanya. Dampak paparan berulang terhadap campuran berbagai bahan juga masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Karena itu, konsumen tidak perlu panik setiap kali menemukan kata fragrance pada kemasan sabun atau produk pembersih rumah. Sikap yang diperlukan bukan ketakutan, melainkan ketelitian.
Mengganti pewangi sintetis dengan minyak atsiri juga tidak otomatis membuat produk lebih aman. Bahan alami tetap mengandung senyawa aktif yang dapat memicu iritasi atau alergi, terutama pada kulit sensitif. Dalam urusan keamanan, kategori “alami” dan “sintetis” tidak dapat dijadikan satu-satunya patokan.
Belajar membaca sebelum mencium sabun dan pembersih lainnya
Kita tidak harus berhenti menyukai sabun yang harum. Aroma merupakan bagian dari kenyamanan dan pengalaman menggunakan sebuah produk.
Namun, posisinya sebaiknya dikembalikan sebagai nilai tambah, bukan ukuran utama kebersihan dan keamanan.
Sebelum membeli produk, konsumen dapat memperhatikan fungsi, bahan aktif, petunjuk pemakaian, peringatan pada kemasan, dan reaksi tubuh setelah menggunakannya. Orang dengan kulit sensitif, riwayat alergi, migrain, atau gangguan pernapasan dapat mempertimbangkan produk tanpa tambahan pewangi.
Label fragrance-free pun perlu dipahami dengan tepat. Produk tersebut umumnya tidak diberi bahan khusus untuk menciptakan aroma, tetapi tetap dapat memiliki bau yang berasal dari bahan bakunya. Jadi, produk tanpa pewangi tidak selalu benar-benar tanpa bau.
Pada akhirnya, produk yang baik bukanlah produk yang paling tajam aromanya ataupun yang paling lama meninggalkan wangi. Produk yang baik adalah produk yang menjalankan fungsinya, digunakan dengan benar, dan cocok dengan kondisi penggunanya.
Lain kali ketika memilih sabun, sampo, atau deterjen, kita tetap boleh mencium aromanya.
Namun, setelah itu, jangan lupa membalik kemasan dan membaca keterangannya. Sebab, tubuh yang harum belum tentu lebih bersih, sedangkan aroma yang menyenangkan belum tentu menjadi penanda bahwa sebuah produk paling aman.
*) Tulisan ini merupakan finalis Essay Contest Beswan Djarum 2025/2026. Naskah telah disunting oleh redaksi Mojok.co tanpa mengubah gagasan utama penulis.
Penulis: Adeline Hartono
Editod: Agung Purwandono
BACA JUGA TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.
