Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kasus Dokter Terawan dan Simpang Siur Informasi Kesehatan

Ahmad Muttaqin Alim oleh Ahmad Muttaqin Alim
9 April 2018
A A
dokter-terawan-MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kasus Dokter Terawan adalah kasus kesehatan kesekian yang menimbulkan kehebohan, tetapi lebih banyak berkisar pada rumor daripada kebenaran.

Pemecatan sementara dr. Terawan sebagai anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) membuat banyak pihak angkat bicara. Butet Kertaradjasa, Aburizal Bakrie, Jusuf Kalla, anggota DPR, hingga pasien-pasiennya dikabarkan membela dr. Terawan. Rektor dan guru besar Universitas Hasanuddin, kampus tempat dr. Terawan mengambil S-3 mengenai metode “cuci otak” juga mempertanyakan pemecatan itu. Satu benang merah pendapat mereka: Banyak yang sembuh kok dipecat?

Pada saat yang sama juga terjadi persinggungan antar-institusi: IDI dan TNI Angkatan Darat. Dokter Terawan adalah perwira yang sekaligus kepala rumah sakit militer. Ketika dipecat sebagai dokter, apakah status direktur rumah sakit yang mensyaratkan status dokter itu menjadi illegitimate? Posisi dr. Terawan sebagai anggota Tim Dokter Kepresidenan menyebabkan masalah makin pelik.

Oke, itu tadi masalah institusi. Buat masyarakat, yang lebih relevan adalah benarkah metode cuci otak nggak ilmiah? Tapi, kenapa banyak yang sembuh? Wajar masyarakat bertanya demikian, lha wong memang tidak ada informasi, seperti berapa pasien dr. Terawan yang tidak sembuh, berapa pasien yang setelah di-“cuci otak” tetap tidak ngaruh apa-apa, dan berapa yang mengalami komplikasi merugikan.

Di media, informasi soal-soal itu sangat terbatas. Dokter Terawan dipecat dari IDI atas rekomendasi Majelis Kode Etik Kedokteran setelah proses sidang yang panjang. Tapi, materi sidang kode etik yang membahas hal ini secara mendalam tidak boleh dibuka secara luas.

Ini persoalan pelik. Teknik cuci otak hanya dipahami secara mendalam oleh para ilmuwan kedokteran papan atas. Dokter spesialis saja belum tentu memahami, apalagi dokter umum dan lebih lagi masyarakat. Masyarakat ya tahunya, ada teknik cuci otak di RSPAD yang bisa menyembuhkan atau mencegah penyakit. Titik. Soal ilmiah atau tidak, valid atau tidak, evidance-based atau tidak, jelas tidak masuk dalam pemikiran, toh yang melakukan adalah dokter.

Pada intinya, kasus dokter Terawan dan metode cuci otaknya sebenarnya cuma mengulang sejumlah kasus kesehatan yang sudah terjadi sebelum-sebelumnya. Kasus-kasus itu punya pola: bikin heboh media, beritanya tersebar di sana-sini, tapi pada dasarnya tidak mendapat informasi apa-apa. Masyarakat dibiarkan meraba dalam gelap tanpa ada pihak yang menjelaskan secara gamblang, apa sih yang sebenarnya sedang terjadi?

Sebagai contoh, kita ambil kasus difteri, plastik dalam air, dan cacing dalam ikan.

Menurut info dari salah seorang rekan dokter spesialis anak, kasus difteri itu sebenarnya telah diwanti-wanti oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia sekitar setahun sebelum menjadi wabah. Namun, informasi edukatif tidak sampai ke masyarakat dengan baik sampai kemudian masalahnya booming di media. Medialah yang memberi informasi, sedangkan gaung suara pemerintah tidak juga sampai ke telinga masyarakat secara luas sehingga masyarakat panik karena tidak tahu apa yang terjadi dan bagaimana memproteksi diri. Bahkan untuk melakukan vaksinasi pun masyarakat masih ragu karena kasus vaksin palsu dan efek samping vaksinasi tak kunjung clear.

Soal kasus plastik dalam air mineral juga demikian. Awalnya kasus dibuka oleh media, lalu masyarakat seperti dibiarkan mencari-cari sendiri jawaban melalui media. Setelah sekian lama, BPOM baru mengeluarkan info. Itu pun tenggelam dengan informasi-informasi yang tersiar di media sosial yang bejibun. Artinya, penjelasan kepada masyarakat tidak efektif.

Yang terbaru soal cacing dalam ikan. Setelah mengetahui dari media, teman saya yang sedang sekolah doktor kedua kalinya langsung gelisah… beli obat cacing untuk seluruh keluarganya karena agak sering konsumsi ikan kalengan sambil maki-maki di wall-nya tentang proteksi konsumsi masyarakat. Beberapa teman lain juga melakukan hal yang sama. Tidak juga segera mendapat penjelasan yang baik, masyarakat malah disuguhi pernyataan Bu Menteri soal cacing mengandung protein.

Tiga kasus tersebut memberi gambaran bahwa informasi sampai ke masyarakat dengan cara tidak efektif. Jangankan berharap informasi awal untuk pencegahan, bahkan saat kejadian pun, informasinya simpang siur. Artinya, pemerintah dan pihak pemegang otoritas keilmuan seperti tidak memiliki public relation yang baik. Jadi, siapa sebenarnya penanggung jawab informasi kesehatan untuk masyarakat?

Bukan berarti saya sebagai dokter merasa kerepotan untuk selalu menjawab pertanyaan dari keluarga besar saya mengenai kasus-kasus itu. Itu juga sudah tugas saya. Tapi, kalau pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan, memiliki penyebar informasi yang efektif, masyarakat menjadi lebih teredukasi dan merasa aman. Mungkin Menkes perlu juru bicara atau mengoptimalkan Pusat Komunikasi Publik Kemenkes atau mengoptimalkan Direktorat Promosi Kesehatan dan Pelayanan Masyarakat agar lebih mublik. Semua itu untuk menjamin informasi disiarkan dengan jelas dan mendidik. “Cacing mengandung protein” itu benar, tapi tidak memiliki nilai edukasi yang kontekstual, bahkan menimbulkan polemik dan keresahan.

Komunitas keilmuan dan profesional medis seperti IDI juga harus berperan. Penjelasan ilmiah populer patut dicoba agar masyarakat lebih mudah memahami hal-hal yang sebenarnya pelik, namun penting. Jangan biarkan masyarakat menduga-duga secara tidak proporsional seperti dalam kasus helm anti-kanker yang konon ampuh, tapi akhirnya dipatenkan di luar negeri. Perkumpulan Dokter Indonesia Bersatu (PDIB) sebagai wadah non-formal para dokter yang sering menyuarakan soal kesehatan juga bisa ikut berperan secara lebih membumi ke masyarakat.

Iklan

Kita tahu, daya kritis masyarakat meningkat. Masyarakat akan mencari-cari informasi ke mana pun, pada siapa pun. Ini bagus sekaligus menantang. Tantangannya adalah, khususnya soal kesehatan, bagaimana menyediakan informasi yang benar dan tepat.

Sebaiknya masyarakat mencari informasi dari pihak berwenang sembari menyerahkan sepenuhnya urusan ini kepada ahlinya, baik dalam hal etik, hukum, maupun keilmuan. Masyarakat perlu cerdas membaca berita dengan landasan logika yang baik, membiarkan rumor tetaplah sebagai rumor, jangan buru-buru menganggapnya sebagai kebenaran.

Soal metode cuci otak tak akan berhenti sampai di sini, apalagi dr. Terawan mendasari metodenya itu dengan hasil studi S-3. Komunitas ilmiah medis pasti akan menyelesaikan persoalan ini hingga tuntas mendapatkan kebenaran. Menjaga persoalan ini tetap berada dalam koridor ilmiah adalah jalan terbaik untuk saat ini.

Terakhir diperbarui pada 9 April 2018 oleh

Tags: cacing dalam sardendokter terawanidimetode cuci otakplastik dalam air mineralrspad
Ahmad Muttaqin Alim

Ahmad Muttaqin Alim

Artikel Terkait

aturan dokter asing di uu kesehatan yang baru mojok.co
Kesehatan

5 Poin Sumber Polemik di UU Kesehatan yang Baru, Mulai dari Mandatory Spending hingga Aturan Dokter Asing

12 Juli 2023
IDI mojok.co
Kesehatan

Hadapi Kenaikan Kasus Covid-19, IDI Imbau Tes PCR dan Perketat Prokes

22 Juni 2022
Dokter Umum Memandang Kegaduhan Terawan dan IDI vs PDSI: Kayak Anak SD Lagi Berantem MOJOK.CO
Esai

Dokter Umum Memandang Kegaduhan Terawan dan IDI vs PDSI: Kayak Anak SD Lagi Berantem

29 April 2022
Terawan Tidak Salah, Kita Lebih Suka Testimoni Ketimbang Metode dan Bukti Ilmiah
Esai

Terawan Tidak Salah, Kita Lebih Suka Testimoni Ketimbang Metode dan Bukti Ilmiah

30 Maret 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Motor Honda Vario 150 2026, motor tahan banting MOJOK.CO

Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual

15 Januari 2026
Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
kekerasan kepada siswa.MOJOK.CO

Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 

15 Januari 2026
alfamart 24 jam.MOJOK.CO

Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota

14 Januari 2026
franz kafka, pekerja urban, serangga.MOJOK.CO

Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

15 Januari 2026
Keluar dari organisasi mahasiswa ekstra kampus (ormek) PMII, dicap pengkhianat tapi lebih sukses MOJOK.CO

Nekat Keluar PMII karena Tak Produktif: Dicap Pengkhianat-Nyaris Dihajar, Tapi Bersyukur Kini “Sukses” dan Tak Jadi Gelandangan Politik

13 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.