Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kalau Nabi Yunus Saja Masih Merasa Zalim, Kok Kamu Malah Sok Benar?

Dinar Zul Akbar oleh Dinar Zul Akbar
30 Mei 2019
A A
Jangan jadi zalim MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Nabi Yunus pun masih merasa dirinya bagian dari orang-orang zalim. Namun, banyak dari kita yang sudah merasa paling benar di antara sesama.

Seusai membagi-bagi makanan, laki-laki itu kemudian berdiri. Ia mengangkat tangannya ke arah langit. Ia berdoa dengan suara yang terdengar jelas, meski saya tidak berada di dekatnya.

Ia mendoakan segenap kaum muslimin yang tengah ditindas oleh orang zalim di berbagai penjuru dunia. Ia juga berdoa meminta ketakwaan serta kebaikan-kebaikan yang lainnya. Sementara itu, orang-orang yang duduk di sampingnya, sembari menunggu azan Maghrib, mengamini doa pria paruh baya itu.

Masih berada di momen yang sama, di dalam Masjid Nabawi, saya juga melihat sosok laki-laki yang mengangkat tangannya dan menghadap kiblat. Ia berdoa dengan lirih, matanya berurai air mata sambil sesekali diusap seakan tidak ingin ada satu orang pun yang memperhatikannya.

“Samiallahu liman hamidah,” ucap sang imam ketika bangun dari rukuk pada rakaat terakhir salat witir. Kemudian beliau membaca doa qunut dan doa-doa lainnya yang cukup panjang terkhusus pada sepuluh hari akhir. Berbeda dengan kaum muslim tanah air yang melakukan qunut pada paruh akhir Ramadan. Kaum muslimin di Saudi Arabia justru membaca qunut pada awal Ramadan selama satu bulan penuh.

Terdengar suara tangisan dari jemaah yang cukup banyak. Bisa jadi menangis karena memang paham akan makna doa sang imam. Atau menangis karena ikut-ikutan jemaah yang lain. Atau terakhir, menangis karena memang betul-betul tidak paham apa yang dibaca sang imam.

Begitulah nuansa Ramadan di Nabawi. Banyak saya lihat orang yang berlinang air matanya sambil berdoa ketika menghabiskan waktunya di masjid ini. Entah sebagai ungkapan rasa syukur karena diberi kesempatan mengunjungi tanah haram. Atau karena memang ada hajat khusus yang ingin disampaikan di tempat yang mulia itu.

Apalagi doanya orang yang berpuasa termasuk doa yang mustajab alias niscaya terkabulkan kata Baginda Nabi.

Namun, pemandangan sebaliknya ada di dunia maya. Terkhusus tingkah laku netizen warga negara +62. Dari beberapa hari kemarin, atau mungkin dari sebelum pilpres. Ramai saya lihat orang-orang penuh emosi mendoakan kesialan atau bahkan kehancuran kepada pihak-pihak zalim yang diduga curang dalam pilpres kali ini

Bahkan tak jarang keluarga, dan keturunan pihak yang dianggap zalim pun ikut diseret dalam doa mereka. “Maka laknatlah tujuh turunan dan hancurkan sehancur-hancurnya Ya Allah,” kata salah satu dari mereka dalam doanya.

Saya pribadi jadi ingat sosok Abdullah bin Aun (selebihnya ditulis Ibnu Aun), seorang tabi’in ulama hadis yang hidup di Kota Bashroh. Dalam kitabnya, At Thobaqot, Muhammad bin Saad bercerita tentang Ibnu Aun. Dia adalah seorang yang pandai menahan lidahnya. Tidak pernah terdengar sekali pun ia melontarkan makian kepada manusia, baik yang merdeka ataupun budak. Atau bahkan hewan-hewan di sekitarnya.

Az Zahabi dalam kitabnya, As–Siyar, juga bercerita tentangnya. Ibnu Aun semasa hidupnya tidak pernah marah. Jika ada orang yang membuatnya marah, dia akan mengatakan kepada orang tersebut, “Semoga Allah memberkahi Anda.”

Al Hajaj, seorang gubernur yang teramat bengis dan zalim dalam sejarah umat saja pernah didoakan oleh Ibnu Aun agar Allah mengampuninya. Ketika masyarakat ramai-ramai mengkonfirmasi hal tersebut kepadanya, dia berkata, “Aku tidak peduli (ocehan manusia) jika aku memohon ampunkan untuknya.”

Sekadar informasi, Al Hajaj adalah salah seorang gubernur yang amat zalim. Di tangannya puluhan ribu orang merenggang nyawa demi mendapatkan sebuah hal yang disebut stabilitas keamanan pada saat itu.

Iklan

Ibnu Aun, walau pribadinya sangat lembut dan tenang. Beliau juga tercatat pernah ikut berjihad ke tanah Syam. Menunggang untanya, beliau berangkat pergi berjihad dengan jiwa raganya. Beliau ikut bersama pasukan kaum muslimin untuk berjihad memerangi pasukan Romawi yang zalim kala itu.

Itulah gambaran seorang mujahid sejati sang pembela agama Allah. Kata-katanya lembut dan menyejukan dan lisannya basah akan doa kebaikan bagi saudara-saudaranya.

Kembali ke doa melaknat. Memang ada hadis sahih yag mengatakan doa orang yang terzalimi termasuk doa yang sangat mustajab. Kata Nabi, tidak ada penghalang antara dirinya dengan Allah. Namun, ulama menekankan pada hadis ini agar menjauhkan diri dan waspada akan sikap zalim. Bukan sebagai legitimasi kebolehan untuk mendoakan pihak yang kita anggap zalim.

Bicara pilpres dan kezaliman memang hal yang cukup sensitif. Benarkah klaim sebagai pihak yang terzalimi tidak sama sekali pernah menzalimi pihak sebelahnya? Jika Allah punya kehendak untuk mengabulkan bahwa siapa saja yang zalim dalam pilpres akan hancur dan binasa, bukan tak mungkin kedua belah pihak akan hancur dalam kebinasaan dan membawa bangsa ini ke arah kehancuran.

Karena sadar atau tidak, pasti ada di antara komentar kita yang nyindir, nyinyir, atau bahkan fitnah. Apa pun dan di mana pun afiliasi politiknya. Bukankah hal demikian juga zalim namanya?

Sudah berapa tokoh agama yang dijatuhkan marwah dan wibawanya. Dibilang ini dan itu hanya karena perbedaan pilihan. Sudah berapa banyak tokoh politik yang dicaci dan dihina hanya karena ia berada di kubu seberang? Bukankah itu semua bisa disebut juga dengan kemungkaran dan kezaliman?

Tradisi keislaman nusantara mengenal selawat asygil. Selawat yang di dalamnya terdapat sebuah doa agar Allah membuat kaum zalim sibuk bertengkar dengan sesamanya. Selawat ini biasanya dibaca di kampung-kampung menjelang azan Maghrib dan Subuh.

Menariknya, saya pernah mendengar bahwa beberapa orang alim tidak mau membaca selawat ini. Alasannya, mereka para alim itu khawatir bahwa doa ini akan kembali kepada mereka lagi. mereka memandang diri sendiri masih belum lepas dari sifat-sifat zalim, baik yang disadari atau tidak.

Bahkan seorang Nabi Yunus saja dalam zikirnya masih mengakui bahwa beliau bagian dari orang-orang yang zalim. Subhanaka inni kuntu mina azzolimin (Maha suci Engkau, sungguh aku ini bagian dari kaum zalim (Al Anbiya ayat 87) kata beliau. Lalu, bagaimana dengan kita?

Saya pribadi masih belum bosan mendoakan kebaikan untuk negeri ini dan kepada para pemimpinnya. Dan juga senantiasa meminta kepada Allah agar negeri ini makin aman dan jauh dari kata kehancuran.

Karena kalau negeri ini hancur, maka Kementrian Agama juga akan hancur. Dan kalau Kementrian Agama hancur, maka pranata di bawahnya termasuk KUA juga akan hancur. Kalau KUA sudah hancur, bagaimana nanti saya (dan kamu juga yang belum nikah) daftar nikahnya coba?

Terakhir diperbarui pada 29 Mei 2019 oleh

Tags: doa kejelekanNabi Yunuspilpreszalim
Dinar Zul Akbar

Dinar Zul Akbar

Asli Betawi. Sedang menyelesaikan kuliah pascasarjana di Islamic University of Madinah.

Artikel Terkait

Keluarga Berkuasa: Betapa Ngerinya Jokowi Menyemai Dinasti Politik di Tingkat Daerah. MOJOK.CO
Ragam

Keluarga Berkuasa: Betapa Ngerinya Warisan Dinasti Politik Jokowi di Tingkat Daerah

26 November 2024
Kerja di Lembaga Quick Count Pemilu Ternyata Sama Capeknya dengan Anggota KPPS.mojok.co
Aktual

Cerita Petugas Quick Count Pemilu: Hasil Sering Diremehkan Meski Saat Bekerja Sama Capeknya dengan Anggota KPPS

15 Februari 2024
Memang Kenapa Kalau Prabowo Subianto Jadi Presiden? MOJOK.CO
Esai

Memang Kenapa Kalau Prabowo Subianto Jadi Presiden Indonesia?

18 Desember 2023
Peluang Yenny Wahid dan Anies Baswedan
Kotak Suara

Yenny Wahid Jadi Pendamping Anies: Tuai Penolakan hingga Polling yang Kalah Saing

16 Agustus 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Anselmus Way, lulusan FISIPOL Universitas Gadjah Mada (UGM) pilih usaha keripik singkong hingga ayam geprek, tapi sukses MOJOK.CO

Lulusan FISIPOL UGM Jualan Keripik dan Ayam Geprek, Tapi Jadi Penopang Ekonomi Keluarga usai Nyaris Putus Asa

7 Maret 2026
Kupat Keteg: kuliner warisan Sunan Giri jadi medium dakwah di Giri Kedaton, Gresik MOJOK.CO

Rasa Sanga (4): Tasawuf Ala Sunan Giri dalam Olahan Kuliner Kupat Keteg yang Dibuat di Tengah Perbukitan Kapur

6 Maret 2026
Pantai Drini, Gunungkidul kehilangan keasrian dan identitas. Korban wisata Jogja yang dimirip-miripkan dengan Bali MOJOK.CO

Pantai Drini Gunungkidul Kehilangan Identitas dan Keasrian Alami, Korban Wisata Jogja yang Dimirip-miripkan Bali

5 Maret 2026
Anak Akuntansi UGM burnout. MOJOK.CO

Bela-belain Kuliah di UGM Sampai Kena Mental demi Bahagiakan Ayah Ibu yang Hanya Lulusan SD hingga Jadi Wisudawan Terbaik

6 Maret 2026
Laki-laki gaji 3 juta tidak ada harganya. Standar sukses dan mapan ala TikTok adalah gaji 30 juta MOJOK.CO

Cowok Gaji 3 Juta Tak Ada Harganya di Mata Perempuan: Cuma Cukup buat Makan Anjing, Standar Mapan Itu Gaji 30 Juta buat Dapat Pasangan

3 Maret 2026
Orang Surabaya hina Malang. MOJOK.CO

Malang Dihina “Desa”, padahal Tempat Pelarian Terbaik bagi Orang Kota Surabaya yang Stres meski Punya Mal Mewah

5 Maret 2026

Video Terbaru

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026
Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

3 Maret 2026
Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

28 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.